Ilustrasi konsep jalan yang benar
Surah Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat 37 menempati posisi penting dalam rangkaian ayat-ayat yang membahas etika dan moralitas seorang Muslim dalam berinteraksi, baik dengan Allah SWT maupun dengan sesama makhluk ciptaan-Nya. Ayat ini hadir setelah ayat-ayat yang menekankan pentingnya tauhid, larangan syirik, dan penghormatan terhadap orang tua. Ini menunjukkan bahwa akhlak dalam pergaulan sehari-hari adalah bagian integral dari keimanan yang benar.
Pesan utama dari Surah Al-Isra ayat 37 adalah larangan tegas terhadap kesombongan atau keangkuhan saat berjalan di muka bumi. Kata "marahan" (مَرَحًا) dalam konteks ini memiliki makna berjalan dengan penuh kebanggaan diri, menyombongkan diri, dan merendahkan orang lain. Kesombongan adalah penyakit hati yang sangat dibenci oleh Allah SWT, karena ia menyiratkan pengakuan superioritas diri yang seharusnya hanya disematkan kepada Pencipta.
Ayat ini menggunakan analogi yang sangat kuat untuk menampik kesombongan tersebut: "Engkau tidak akan dapat menembus bumi dan engkau tidak akan dapat mencapai ketinggian gunung." Analogi ini menekankan keterbatasan hakiki manusia. Seberapa pun hebat dan kuatnya seseorang, ia tetap makhluk fana yang memiliki batas kemampuan. Mencoba untuk merasa lebih besar dari yang seharusnya adalah tindakan sia-sia yang kontradiktif dengan realitas eksistensi manusia sebagai hamba Allah. Gunung yang menjulang tinggi adalah simbol keagungan ciptaan, namun manusia secara fisik tidak mungkin menyamainya, apalagi melampauinya.
Hikmah dari larangan ini sangat mendasar bagi pembentukan karakter Islami. Kesombongan seringkali berakar dari salah sangka terhadap kemampuan diri atau lupa akan asal-usul penciptaan. Seorang mukmin sejati selalu menyadari bahwa segala kemampuan, harta, dan kedudukan hanyalah titipan sementara dari Allah SWT. Ketika kesombongan menguasai, seseorang cenderung lupa diri, berlaku zalim, dan memutuskan hubungan baik dengan sesama.
Sebaliknya, kerendahan hati (tawadhu') adalah sikap yang mencerminkan kesadaran penuh akan posisi manusia di hadapan kebesaran Tuhan. Kerendahan hati bukan berarti merasa hina, melainkan mengetahui batasan diri dan menempatkan pujian hanya kepada yang berhak menerimanya, yaitu Allah SWT. Dengan menghindari kesombongan, seorang Muslim menjaga kemurnian niatnya dalam setiap langkah dan tindakan yang ia lakukan di dunia.
Penting untuk membedakan antara memiliki kepercayaan diri (yang sehat dan didorong oleh iman) dengan kesombongan. Kepercayaan diri mendorong seseorang untuk berusaha mencapai kebaikan dan manfaat bagi umat manusia, sebagaimana diperintahkan dalam ayat-ayat lain. Namun, kesombongan menutup pintu kebaikan karena didorong oleh ego yang meninggi. Ayat ini mengajarkan bahwa meskipun kita mungkin memiliki pencapaian, kebanggaan sejati harus tetap diukur dengan standar ketundukan kita kepada Sang Pencipta, bukan berdasarkan perbandingan dengan ciptaan lainnya.
Secara keseluruhan, Surah Al-Isra ayat 37 berfungsi sebagai pengingat abadi tentang etika berjalan di bumi: bertindaklah dengan rendah hati, mengakui kelemahan diri, dan selalu menempatkan diri dalam posisi sebagai hamba yang bersyukur, bukan sebagai penguasa yang angkuh. Keseimbangan dalam sikap adalah kunci untuk mendapatkan ridha Allah dan menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama.