Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang yang mengolok-olok agama kamu itu dijadikan pemimpin (kekasih atau pelindung), baik mereka dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu maupun dari orang-orang yang kafir. Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu memang orang-orang yang beriman.
Ilustrasi: Penjagaan Integritas dan Persatuan Umat.
Surat Al-Maidah ayat 58 adalah salah satu ayat penting dalam Al-Qur'an yang secara tegas membahas prinsip loyalitas (al-wala') dan permusuhan (al-bara') dalam konteks hubungan sosial dan politik seorang Muslim. Ayat ini dimulai dengan panggilan yang penuh kasih sayang, "Wahai orang-orang yang beriman," menunjukkan bahwa perintah ini ditujukan khusus bagi mereka yang telah menyatakan keimanan dan tunduk kepada Allah SWT.
Pesan sentral ayat ini adalah larangan menjadikan mereka yang merendahkan agama Islam (baik melalui lisan maupun tindakan) sebagai Auliya'. Kata "Auliya'" memiliki makna yang luas, mencakup sahabat karib, pelindung, sekutu politik, atau pihak yang dipercaya untuk memegang urusan penting. Larangan ini berlaku baik bagi kelompok Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang memandang agama Islam sebagai bahan olok-olok, maupun bagi kaum musyrikin atau kafir secara umum.
Inti dari perintah ini adalah menjaga kemurnian aqidah dan martabat syariat. Ketika seseorang menjadikan objek olok-olok sebagai pelindung atau sekutu utama, hal ini secara otomatis menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap ajaran yang dianutnya. Hubungan yang didasarkan pada rasa hormat dan cinta (yang termanifestasi dalam ketaatan) harus diprioritaskan kepada sesama mukmin.
Ayat ini ditutup dengan perintah fundamental: "Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu memang orang-orang yang beriman." Penutup ini mengaitkan kepatuhan terhadap larangan di atas dengan standar keimanan sejati. Ketakwaan (Wara') adalah kesadaran diri untuk selalu menjaga batas-batas Allah, termasuk dalam memilih siapa yang kita jadikan teman dekat atau pemimpin.
Dalam konteks modern, ayat ini relevan dalam mengukur batasan-batasan hubungan antaragama dan loyalitas publik. Ia mengajarkan bahwa meskipun toleransi dalam interaksi sosial sehari-hari sangat dianjurkan, loyalitas fundamental terhadap nilai-nilai Islam harus dipertahankan di atas segalanya. Ini bukan berarti memutuskan hubungan kemanusiaan, melainkan menetapkan prioritas loyalitas tertinggi kepada Allah dan Rasul-Nya, yang diwujudkan melalui ketaatan pada perintah-Nya. Ayat 58 Al-Maidah menegaskan bahwa integritas keimanan memerlukan tindakan nyata berupa selektivitas dalam memilih lingkaran kepercayaan.