Surat Al-Hijr (QS. 15): Pesan Tentang Kenabian dan Keagungan Ciptaan

Mengkaji Keindahan Ayat-ayat dalam Al-Qur'an

Pengantar Surat ke-15 Al-Qur'an

Surat Al-Hijr, yang merupakan surat ke-15 dalam urutan mushaf, terdiri dari 99 ayat. Nama surat ini diambil dari ayat ke-80 yang menyebutkan kaum Tsamud, yang tinggal di sebuah lembah bernama Al-Hijr. Secara tematik, surat ini sangat kaya, membahas pondasi utama agama Islam, yaitu pengakuan akan keesaan Allah, kerasulan Nabi Muhammad SAW, serta peringatan keras bagi mereka yang mendustakan. Surat ini turun di Mekkah pada periode kenabian yang semakin intens, di mana tantangan dari kaum musyrikin semakin meningkat.

Salah satu tema sentral yang diulang berkali-kali dalam Al-Hijr adalah penekanan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu murni yang dijaga keasliannya oleh Allah SWT. Hal ini menjadi penegasan penting bagi Nabi Muhammad SAW di tengah tuduhan bahwa beliau hanyalah seorang penyair atau orang gila.

Ilustrasi visualisasi konsep wahyu dan perlindungan Ilahi حِفْظ

Kisah Kaum Nabi Saleh dan Pesan Peringatan

Salah satu narasi paling rinci dalam surat ini adalah kisah kaum Tsamud dan Nabi Saleh. Mereka diberi mukjizat berupa unta betina yang keluar dari batu sebagai bukti kebenaran risalah Saleh. Namun, kaum Tsamud, yang hidup makmur dan mampu memahat rumah di gunung-gunung (seperti yang disinggung dalam konteks Al-Hijr), memilih untuk membangkang dan membunuh unta tersebut.

Allah SWT kemudian memberikan tenggat waktu tiga hari sebelum azab menimpa mereka. Kisah ini bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan pelajaran abadi tentang konsekuensi dari kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran yang dibawa para rasul. Ayat-ayat ini mengingatkan bahwa kemakmuran duniawi tidak menjamin keselamatan dari perhitungan akhirat jika diiringi kekufuran.

Keagungan Penciptaan dan Iblis yang Durhaka

Surat Al-Hijr juga menyoroti keagungan Allah sebagai Sang Pencipta. Terdapat ayat-ayat yang mengajak perenungan terhadap ciptaan langit, bintang-bintang, dan bagaimana gunung-gunung ditancapkan sebagai pasak bumi. Ini adalah upaya untuk mengarahkan hati manusia dari penyembahan berhala menuju kekaguman terhadap kekuatan yang menciptakan alam semesta.

Di tengah pujian terhadap penciptaan, terselip kisah tentang Iblis yang menolak perintah sujud kepada Adam AS. Penolakan Iblis didasari oleh kesombongan karena merasa diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah. Penolakan ini berujung pada pengusiran Iblis dari rahmat Allah dan permintaannya untuk diberi tangguh hingga hari kiamat. Kisah ini memberikan pelajaran fundamental: kesombongan dan rasa superioritas adalah penyakit hati yang dapat menjerumuskan seseorang, meskipun ia adalah makhluk yang sangat dekat dengan Allah (seperti Iblis sebelumnya).

Janji Perlindungan Al-Qur'an

Bagian penutup surat ini mengandung jaminan yang sangat kuat dari Allah SWT mengenai pemeliharaan wahyu-Nya. Ayat 9 berbunyi: "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan Kami pula yang benar-benar menjaganya." (QS. 15:9). Jaminan ini adalah pilar utama dalam akidah Islam, menegaskan bahwa Al-Qur'an yang kita baca saat ini adalah teks yang sama persis seperti yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, bebas dari distorsi dan perubahan.

Hal ini kontras dengan nasib umat-umat terdahulu yang kitab sucinya telah mengalami perubahan dan pergeseran makna seiring berjalannya waktu. Janji penjagaan ini memberikan ketenangan bagi umat Islam bahwa sumber hukum dan petunjuk utama mereka tetap autentik dan terpercaya.

Refleksi dan Nilai Pelajaran

Secara keseluruhan, Surat Al-Hijr adalah penegasan ulang mengenai kebenaran Islam. Ia mengajarkan tentang perlunya bersabar dalam berdakwah (sebagaimana Nabi Saleh dan nabi-nabi sebelumnya), pentingnya rendah hati (menghindari kesombongan seperti Iblis), dan keyakinan penuh terhadap janji Allah dalam memelihara firman-Nya. Membaca dan merenungkan surat ini memberikan energi spiritual untuk menghadapi keraguan dan tantangan hidup, sembari mengagumi kekuasaan Allah dalam setiap detail penciptaan-Nya. Surat ke-15 ini adalah pengingat bahwa jalan kenabian selalu diuji, namun janji Allah adalah pasti.

🏠 Homepage