Fa in aamanū bi mithli mā āmantum bihi faqad ihtadaw, wa in tawallaw fa innamā hum fī shiqāq, fa sayakfīkahumullāh, wa huwas-Samīʿul-ʿAlīm.
"Maka jika mereka beriman seperti apa yang kamu (wahai umat Muhammad) telah beriman kepadanya, maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, maka sesungguhnya mereka berada dalam perselisihan (kesesatan). Maka Allah akan melindungimu (dari mereka). Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Maidah: 173)
Ayat 173 dari Surat Al-Maidah ini merupakan penutup pembahasan panjang mengenai akidah dan hukum-hukum yang relevan bagi umat Islam, khususnya setelah menyinggung tentang Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani). Ayat ini memberikan penekanan penting mengenai prinsip dasar dalam beragama, yaitu penyerahan diri total kepada kebenaran yang dibawa oleh wahyu Ilahi.
Pesan utama ayat ini terbagi menjadi dua skenario utama yang dihadapi oleh Rasulullah SAW dan umatnya dalam berdakwah:
Kalimat "Maka jika mereka beriman seperti apa yang kamu (wahai umat Muhammad) telah beriman kepadanya maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk" menegaskan bahwa standar kebenaran dan petunjuk yang hakiki adalah iman yang dianut oleh kaum Muslimin, yaitu iman yang murni kepada Allah (Tauhid), membenarkan kenabian Muhammad, serta menerima seluruh ajaran yang diturunkan kepadanya. Jika pihak-pihak yang didakwahi (terutama Ahlul Kitab dalam konteks turunnya ayat ini) mau menerima kebenaran secara utuh sebagaimana yang diyakini oleh umat Islam, maka mereka otomatis berada di jalan yang lurus. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak membatasi kebenaran hanya pada satu kelompok, tetapi menetapkan standar yang universal: iman yang benar.
Sebaliknya, jika mereka menolak dan memilih untuk berpaling dari kebenaran yang dibawa, Allah SWT menegaskan konsekuensinya: "dan jika mereka berpaling maka sesungguhnya mereka berada dalam perselisihan (kesesatan)." Kata syiqāq (شقاق) memiliki makna perpecahan, pertentangan, dan kesesatan yang mendalam. Penolakan ini bukan hanya sekadar perbedaan pendapat biasa, melainkan sebuah jurang pemisah antara kebenaran dan kebatilan. Mereka yang menolak petunjuk akan terus terjerumus dalam keraguan dan perpecahan internal maupun eksternal.
Bagian akhir ayat ini memberikan ketenangan dan kepastian bagi kaum Muslimin yang menghadapi penolakan keras: "Maka Allah akan melindungimu (dari mereka). Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Ayat ini menjadi janji ilahi bahwa meskipun manusia menolak atau merencanakan permusuhan, Allah SWT adalah pelindung utama. Allah mendengar setiap ucapan mereka—baik janji maupun ancaman—dan Maha Mengetahui niat tersembunyi di balik penolakan mereka. Janji perlindungan ini membebaskan Rasulullah dari kekhawatiran berlebihan terhadap tipu daya musuh, mengalihkan fokus dari upaya membela diri secara fisik semata, kepada penyerahan urusan kepada Sang Pencipta.
Ayat ini mengajarkan pentingnya konsistensi dalam beriman. Iman yang sesungguhnya harus komprehensif dan tidak setengah-setengah. Bagi para pendakwah, ayat ini memberikan pedoman bahwa upaya dakwah harus dilakukan dengan penjelasan yang jelas, namun hasil akhirnya diserahkan kepada kehendak Allah. Apabila kebenaran ditolak, konsekuensinya adalah kesesatan bagi penolaknya, sementara Allah menjamin keamanan bagi mereka yang teguh berpegang pada kebenaran tersebut. Ayat ini memperkuat fondasi tauhid dan kesadaran akan sifat Maha Kuasa dan Maha Mengetahui dari Allah SWT.