*Representasi visual pesan suci
Kisah kenabian Muhammad SAW adalah narasi agung dalam sejarah peradaban manusia. Kedatangan beliau ke dunia bukan sekadar peristiwa biasa, melainkan sebuah penetapan ilahi dengan misi yang sangat spesifik dan fundamental: Rasulullah diutus untuk menyempurnakan. Menyempurnakan apa? Jawabannya terletak pada penyempurnaan akhlak, penegasan tauhid, dan penyempurnaan syariat yang dibawa oleh para nabi sebelumnya.
Masyarakat Arab pra-Islam berada dalam kegelapan moral yang pekat. Praktik seperti penindasan terhadap yang lemah, perjudian, minuman keras, dan perlakuan tidak adil merajalela. Rasulullah SAW hadir membawa cahaya yang menerangi kegelapan ini. Misi utamanya adalah menjadi teladan paripurna (uswatun hasanah). Beliau tidak hanya menyampaikan aturan, tetapi juga mempraktikkannya secara konsisten.
Hadis terkenal yang sering dikutip menegaskan tujuan ini: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." Ini menunjukkan bahwa fondasi utama risalah beliau adalah pembenahan karakter manusia. Melalui keteladanan beliau dalam kejujuran (Al-Amin), kesabaran, kasih sayang, dan keadilan, umat manusia diajarkan standar moral tertinggi. Penyempurnaan ini bersifat holistik; ia memperbaiki hubungan vertikal (dengan Tuhan) dan horizontal (sesama manusia dan alam).
Sebelum kedatangan Islam, banyak ajaran tauhid yang telah disampaikan oleh Nabi Ibrahim, Musa, dan Isa AS telah mengalami pergeseran, tercampur dengan takhayul atau pemujaan berlebihan terhadap sosok manusia. Tugas Rasulullah SAW adalah mengembalikan umat manusia pada fitrah awal, yaitu menyembah Tuhan Yang Esa tanpa sekutu.
Beliau datang untuk menyempurnakan pemahaman tauhid tersebut. Al-Qur'an yang dibawanya berfungsi sebagai koreksi final dan penegasan absolut bahwa tidak ada ilah selain Allah. Ajaran ini membebaskan manusia dari belenggu takhayul dan memuliakan martabat manusia dengan menjadikannya hamba tunggal Penciptanya.
Islam adalah agama penutup. Kedatangan Rasulullah SAW membawa syariat yang final dan komprehensif, yang mencakup semua aspek kehidupanāmulai dari ibadah ritual hingga muamalah (interaksi sosial, ekonomi, dan politik). Jika syariat sebelumnya bersifat sementara dan ditujukan untuk komunitas tertentu pada waktu tertentu, maka syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW bersifat universal dan berlaku hingga akhir zaman.
Ini adalah bentuk penyempurnaan yang tercermentasi dalam firman Allah, yang menegaskan bahwa agama ini telah disempurnakan. Syariat Islam tidak meninggalkan celah kosong; ia memberikan panduan bagi setiap tantangan yang mungkin dihadapi manusia. Baik itu hukum waris yang adil, sistem perdagangan yang etis, maupun tata cara beribadah yang khusyuk, semuanya terangkum dalam bingkai penyempurnaan ini.
Dampak dari misi penyempurnaan ini sangat monumental. Dalam kurun waktu yang relatif singkat, sebuah peradaban baru muncul, didasarkan pada prinsip keadilan, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan. Etika dagang Rasulullah, kebijaksanaannya dalam peperangan, dan kerendahan hatinya dalam kehidupan pribadi menjadi cetak biru bagi jutaan umat manusia.
Oleh karena itu, memahami bahwa Rasulullah diutus untuk menyempurnakan bukan hanya sekadar mengingat sejarah. Ini adalah seruan untuk terus meneladani kesempurnaan akhlaknya, menjaga kemurnian tauhidnya, dan mengamalkan syariatnya dalam kehidupan kontemporer. Misi penyempurnaan ini menuntut umat untuk tidak pernah berhenti berproses menuju kesempurnaan diri yang dicontohkan oleh beliau.