Peran Agung: Rasulullah SAW Diutus untuk Menyempurnakan

Simbol Cahaya dan Kitab Suci Al-Qur'an Petunjuk Abadi

Ilustrasi: Simbol Wahyu dan Petunjuk

Di tengah kegelapan peradaban yang terjerumus dalam kesesatan, penyimpangan moral, dan kezaliman sosial, Allah SWT memilih satu pribadi agung untuk diutus ke muka bumi. Sosok tersebut adalah Muhammad bin Abdullah, Rasulullah SAW. Misi beliau bukan sekadar membawa ajaran baru, melainkan sebuah penegasan, pembaruan, dan penyempurnaan fundamental terhadap risalah ilahi yang telah dibawa oleh para nabi sebelumnya. Inti dari kerasulan beliau terangkum dalam firman Allah: Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak dan syariat.

Penyempurnaan Akhlak dan Karakter

Salah satu aspek krusial dari misi kenabian adalah perbaikan karakter manusia. Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Arab Jahiliyah hidup dalam budaya yang memuja kekerasan, menindas yang lemah, dan menomorduakan perempuan. Rasulullah SAW hadir membawa etos baru, yaitu akhlaqul karimah (akhlak mulia). Beliau sendiri adalah manifestasi sempurna dari akhlak tersebut, sebagaimana diakui oleh Aisyah RA.

Penyempurnaan ini terlihat dalam pengajaran beliau tentang keadilan, kasih sayang, kejujuran, dan empati. Beliau mengajarkan bahwa superioritas bukan diukur dari keturunan atau kekayaan, melainkan dari ketakwaan dan budi pekerti. Konsep ini secara radikal mengubah struktur sosial dan moral, meletakkan fondasi peradaban yang menghargai martabat setiap individu. Misi penyempurnaan akhlak ini adalah fondasi agar syariat yang dibawa dapat dilaksanakan dengan benar dan berkelanjutan.

Penutup Rangkaian Kenabian (Khatamun Nabiyyin)

Status Rasulullah SAW sebagai penutup para nabi (Khatamun Nabiyyin) menegaskan bahwa ajaran yang beliau bawa adalah puncak dan kesempurnaan dari risalah tauhid. Agama-agama terdahulu telah memberikan petunjuk penting, namun seiring waktu, petunjuk tersebut sering kali mengalami distorsi, interpretasi parsial, atau kehilangan kemurniannya akibat intervensi manusia.

Islam, yang dibawa oleh Rasulullah SAW, datang sebagai pemurnian akhir. Ia mengembalikan umat manusia kepada konsep tauhid yang murni, menghilangkan takhayul, serta melengkapi aturan-aturan hidup yang komprehensif, mencakup aspek spiritual, sosial, ekonomi, dan politik. Tidak ada lagi nabi atau rasul setelah beliau untuk membawa wahyu baru. Ini berarti, risalah Islam adalah solusi paripurna bagi umat manusia hingga akhir zaman.

Penyempurnaan Syariat dan Hukum

Aspek lain yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan adalah melalui penetapan syariat yang final. Al-Qur'an dan Sunnah beliau memberikan kerangka hukum yang fleksibel namun tegas. Syariat ini menyempurnakan aturan-aturan sebelumnya dengan memberikan kedalaman dan keseimbangan. Misalnya, dalam masalah muamalah (interaksi sosial) dan ibadah, ajaran Islam menawarkan sistem yang adil, menghapus praktik-praktik buruk yang tersisa dari masa lalu, serta memberikan solusi atas permasalahan baru yang mungkin timbul.

Penyempurnaan ini bukan berarti penolakan total terhadap apa yang baik dari ajaran sebelumnya, melainkan penyempurnaan (tamam). Bagian-bagian yang kurang sempurna atau tidak relevan lagi untuk kondisi universal kemanusiaan telah digantikan atau diperbaiki. Inilah mengapa syariat Islam dipandang sebagai risalah terakhir yang berlaku universal untuk semua bangsa dan sepanjang masa.

Warisan yang Menjaga Kesempurnaan

Kesempurnaan risalah ini juga terjaga melalui metode transmisi yang ketat. Tidak seperti kitab-kitab terdahulu yang sering kali mengalami perubahan signifikan, Al-Qur'an dijaga otentisitasnya, dan Sunnah Rasulullah SAW diriwayatkan melalui rantai sanad yang ketat. Kehadiran hadis dan sirah memastikan bahwa cara hidup (uswah hasanah) beliau sebagai contoh nyata ajaran tersebut dapat diakses dan diikuti.

Oleh karena itu, ketika kita merenungkan mengapa Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan, kita melihat bahwa tujuannya adalah untuk menetapkan standar moral tertinggi, menyediakan kerangka hukum yang final, dan menutup gerbang kenabian dengan risalah yang utuh. Tugas umat Islam setelahnya adalah menjaga, memahami, dan mengamalkan kesempurnaan yang telah diturunkan tersebut.

Pemahaman mendalam terhadap misi penyempurnaan ini menjadi kunci untuk menjalani kehidupan yang selaras dengan kehendak Ilahi.

🏠 Homepage