Ilustrasi visual perjalanan malam hari.
Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat Makkiyah yang sarat dengan mukjizat dan pelajaran penting bagi umat Islam. Ayat pertamanya, yang menjadi pembuka surat, selalu menarik perhatian para mufassir karena mengandung peristiwa luar biasa:
Pertanyaan mendasar yang sering muncul adalah: Apa latar belakang spesifik atau sebab turunnya surat Al-Isra ayat 1 ini? Mayoritas ulama tafsir sepakat bahwa ayat ini merujuk pada peristiwa Isra' Mi'raj, sebuah perjalanan fisik dan spiritual yang hanya dialami oleh Nabi Muhammad SAW.
Peristiwa Isra' (perjalanan malam hari) terjadi setelah Nabi Muhammad SAW mengalami tahun-tahun yang sangat berat, yang dikenal sebagai 'Amul Huzn (Tahun Kesedihan). Pada tahun tersebut, beliau kehilangan dua sosok pelindung utama: istri tercinta, Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib.
Kesedihan ini diperparah dengan penolakan keras dan penyiksaan yang semakin meningkat dari kaum Quraisy di Mekkah. Kondisi ini membuat Rasulullah SAW mencari perlindungan dan dukungan di Thaif, namun sambutan di sana pun jauh dari harapan, bahkan beliau dilempari batu.
Dalam keadaan duka yang mendalam dan tekanan yang luar biasa, Allah SWT memutuskan untuk mengangkat derajat, menghibur, dan menguatkan hati Nabi Muhammad SAW melalui sebuah mukjizat agung. Ayat 1 Al-Isra menjadi penegasan ilahi bahwa meskipun dunia menolaknya, Allah selalu bersama dan siap menunjukkan kebesaran-Nya.
Ayat tersebut secara eksplisit menyebutkan tujuan dari perjalanan tersebut: "agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami." Tanda-tanda ini meliputi dua aspek utama:
Meskipun semua ulama sepakat bahwa ayat ini berbicara tentang Isra' Mi'raj, terdapat beberapa pandangan mengenai kapan tepatnya ayat ini diturunkan sehubungan dengan peristiwa itu sendiri:
Sebab turunnya ayat ini bukan hanya tentang narasi historis, tetapi juga mengandung pelajaran abadi. Ayat Al-Isra 1 mengajarkan kepada umat Islam bahwa dalam menghadapi kesulitan dan penolakan (seperti yang dialami Nabi SAW), pertolongan dan pengakuan tertinggi datang dari Allah SWT.
Perjalanan malam yang mulia ini menegaskan kedudukan Nabi Muhammad SAW di hadapan Pencipta alam semesta, menjadikannya fondasi keimanan yang kokoh bagi umat yang mengikutinya. Ayat ini adalah mercusuar harapan yang menyatakan bahwa setiap kesabaran akan berbuah dengan pemandangan tanda-tanda kebesaran Allah yang menakjubkan.
Dengan memahami konteks kesedihan Nabi dan kegigihan dakwah beliau, kita dapat merasakan kedalaman makna ayat ini: bahwa kemuliaan sejati tidak diukur dari penerimaan manusia, melainkan dari kedekatan dengan Sang Maha Pencipta.