Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat penting dalam Al-Qur'an yang membahas berbagai mukjizat, peringatan, serta hukum-hukum ilahi. Salah satu ayat yang sering menjadi sorotan dalam kajian tafsir adalah ayat ke-7, yang berbicara tentang konsekuensi dari perbuatan baik dan buruk yang dilakukan oleh Bani Israil pada masa lalu. Ayat ini memberikan pelajaran universal tentang sebab-akibat dalam kehidupan.
(Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat), dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil, (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku.")
Konteks Turunnya Ayat
Ayat 7 Surah Al-Isra ini merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya yang membahas tentang kerusakan moral dan sejarah Bani Israil. Ayat ini secara spesifik menekankan anugerah besar yang diberikan Allah kepada mereka, yaitu Taurat, sebagai pedoman hidup. Taurat bukan sekadar kumpulan hukum, tetapi juga merupakan petunjuk (hudan) untuk mengarahkan mereka pada kebenaran.
Pesan sentral yang ditekankan Allah adalah larangan mutlak untuk menjadikan selain-Nya sebagai "wakil" atau penolong (wali). Dalam konteks historis, banyak kelompok Bani Israil cenderung berpaling dari ketaatan langsung kepada Allah dan mulai mencari perlindungan atau pertolongan dari kekuatan-kekuatan duniawi, bahkan dari sesama manusia yang mereka anggap memiliki otoritas lebih besar. Penekanan ini sangat krusial karena tawhid (keesaan Allah) adalah inti dari ajaran agama-agama samawi.
Makna "Wali" dan Ketergantungan
Kata "wali" dalam ayat ini memiliki makna yang luas. Ia tidak hanya berarti sekadar pelindung, tetapi juga merujuk pada siapa yang dijadikan sumber utama ketergantungan, rujukan keputusan, dan harapan dalam setiap urusan. Allah menegaskan bahwa ketergantungan sejati hanya boleh ditujukan kepada-Nya semata.
Tafsir klasik menjelaskan bahwa ketika Bani Israil mulai bergantung pada raja-raja, para pendeta, atau kekuasaan lain untuk menyelesaikan masalah mereka, mereka telah melanggar perintah ini. Konsekuensinya, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat berikutnya (ayat 8 dan seterusnya), adalah kerusakan yang akan menimpa mereka, baik di dunia maupun di akhirat.
Ini adalah pengingat bagi seluruh umat manusia, bukan hanya Bani Israil, bahwa kekuatan yang hakiki berasal dari Allah. Mencari pertolongan atau perlindungan dari makhluk lain harus selalu berada di bawah kerangka ketaatan kepada Pencipta. Jika pertolongan itu justru menjauhkan seseorang dari jalan Allah, maka itu adalah bentuk kesyirikan yang dilarang keras.
Relevansi Universal Ayat
Meskipun konteks ayat ini ditujukan kepada Bani Israil, pelajarannya bersifat universal dan abadi. Setiap generasi Muslim diwajibkan untuk meninjau kembali orientasi ketergantungan mereka. Apakah kita terlalu fokus pada usaha duniawi hingga melupakan doa dan tawakal kepada Allah? Apakah kita lebih takut pada kritik manusia daripada murka Tuhan?
Tafsir Al-Isra ayat 7 mengajarkan tentang pentingnya menjaga integritas tauhid dalam setiap aspek kehidupan. Anugerah berupa wahyu (Kitab) diberikan sebagai jalan keluar, tetapi jalan itu hanya akan berfungsi efektif jika hamba Allah bersedia menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran utama. Jika manusia mulai mencari "wali" selain Allah, maka mereka telah menempatkan diri pada posisi yang rentan terhadap kekecewaan dan kehancuran, karena hanya janji Allah yang pasti terwujud. Ayat ini memanggil kita untuk kembali fokus, membersihkan hati dari segala bentuk ketergantungan selain dari Sumber segala pertolongan.