Candi Borobudur, mahakarya arsitektur Buddhis di Jawa Tengah, Indonesia, bukan sekadar tumpukan batu. Di balik keindahan relief dan struktur stupa bertingkatnya, terdapat sebuah konsep filosofis mendalam yang dikenal sebagai 'Sikad Borobudur'. Istilah Sikad merujuk pada sistem pembagian ruang dan tingkatan spiritual yang sengaja dirancang oleh para pembuatnya. Memahami Sikad adalah kunci untuk mengapresiasi Borobudur sebagai mandala raksasa yang memandu peziarah melalui tahapan menuju pencerahan.
Konsep dasar dalam penataan Borobudur terbagi menjadi tiga alam utama, yang secara struktural terefleksi pada setiap tingkat candi. Pembagian ini selaras dengan kosmologi Buddhis Mahayana. Tingkat pertama dan paling bawah disebut Kamadhatu, alam keinginan atau dunia nafsu. Secara fisik, ini diwakili oleh bagian batur (kaki candi) yang sebagian besar tertutup oleh struktur asli (sebelum diperkuat) dan relief yang menggambarkan kehidupan duniawi penuh samsara.
Ketika peziarah menaiki tangga menuju tingkat berikutnya, mereka memasuki Rupadhatu, alam bentuk. Tingkat tengah ini adalah area terluas Borobudur, terdiri dari lima teras bujur sangkar yang dihiasi oleh ratusan stupa kecil berlubang dan ribuan relief naratif. Di sinilah perjalanan spiritual mulai fokus pada meditasi visualisasi bentuk-bentuk ilahi. Setiap relief menceritakan kisah Jataka (kehidupan Buddha sebelumnya) atau Vajrayana, berfungsi sebagai panduan moral dan ajaran.
Puncak dari Sikad Borobudur adalah Arupadhatu, alam tanpa bentuk atau tanpa rupa. Bagian ini terdiri dari tiga teras melingkar yang puncaknya dihiasi oleh satu stupa besar. Di Arupadhatu, tidak ada lagi relief naratif; arsitektur menjadi murni geometris dan abstrak. Kehadiran stupa-stupa yang padat dan tertutup melambangkan penyerahan total diri dari bentuk material menuju kekosongan murni (Sunyata), tujuan akhir dari meditasi Buddhis. Struktur ini secara simbolis mewakili alam Nirvana.
Tata letak Sikad juga sangat menekankan orientasi. Candi ini dibangun menghadap ke arah matahari terbit, menegaskan siklus kelahiran kembali dan pencerahan yang datang dari kegelapan. Setiap langkah yang diambil peziarah di dalam kompleks ini adalah bagian dari ritual pradakshina (mengelilingi searah jarum jam), sebuah proses yang secara fisik mencerminkan perputaran pikiran dari kekotoran menuju kesucian. Ketinggian vertikal candi adalah metafora untuk pendakian kesadaran.
Penting untuk dicatat bahwa studi mendalam mengenai Sikad Borobudur sering kali melibatkan analisis numerologi dan astronomi kuno. Angka-angka seperti 72 stupa kecil, 504 arca Buddha, dan jumlah tingkatan semuanya memiliki makna yang terikat erat dengan perhitungan ritual. Kesatuan antara batu, narasi relief, dan desain geometris menciptakan sebuah 'buku batu' raksasa.
Secara keseluruhan, Sikad Borobudur berfungsi sebagai peta kosmos yang dapat dijelajahi oleh manusia biasa. Ini adalah upaya monumental untuk memvisualisasikan struktur alam semesta metafisik di atas tanah datar. Mengunjungi Borobudur tanpa memahami Sikad hanyalah mengagumi keindahan artistik; namun, dengan memahami kerangka filosofis ini, pengunjung dapat merasakan kedalaman spiritual yang coba disampaikan oleh para arsitek dan pendeta masa lalu. Upaya konservasi modern kini berfokus tidak hanya menjaga batu-batu dari pelapukan, tetapi juga melestarikan integritas filosofis dari penataan Sikad yang telah teruji oleh waktu.