Kondisi di mana sperma laki-laki tampak bercampur dengan darah, dikenal secara medis sebagai hematospermia, dapat menimbulkan kekhawatiran besar bagi banyak pria. Meskipun seringkali kondisi ini tidak berbahaya dan bersifat sementara, penting untuk memahami potensi penyebabnya. Darah dalam ejakulat (semen) bisa tampak berwarna merah cerah, coklat kemerahan, atau bahkan merah muda. Mengetahui kapan harus mencari bantuan medis adalah langkah pertama yang krusial.
Apa Itu Hematospermia?
Hematospermia adalah istilah klinis untuk adanya darah dalam air mani. Ini terjadi ketika terjadi perdarahan di sepanjang saluran reproduksi pria, mulai dari testis, epididimis, vas deferens, vesikula seminalis, hingga prostat. Fenomena ini dapat terjadi pada pria dari segala usia, meskipun lebih sering dilaporkan pada pria yang lebih tua.
Penyebab Umum Sperma Keluar Darah
Penyebab hematospermia sangat beragam, mulai dari yang ringan hingga kondisi yang memerlukan perhatian serius. Berikut adalah beberapa pemicu yang paling umum:
1. Trauma atau Iritasi Ringan
Aktivitas seksual yang intens atau masturbasi yang terlalu kasar dapat menyebabkan iritasi atau luka mikro pada saluran reproduksi, khususnya pada vesikula seminalis atau uretra. Luka ini bisa menyebabkan sedikit darah muncul saat ejakulasi. Biasanya, kondisi ini akan sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari.
2. Infeksi dan Peradangan
Infeksi pada saluran kemih (ISK) atau peradangan pada epididimis (epididimitis) dan testis (orkitis) seringkali menjadi penyebab. Infeksi bakteri atau penyakit menular seksual (PMS) seperti klamidia atau gonore dapat merusak dinding saluran reproduksi dan menyebabkan pendarahan.
3. Masalah pada Prostat
Prostat adalah kelenjar yang menghasilkan sebagian besar cairan semen. Peradangan pada prostat (prostatitis) atau pembesaran prostat non-kanker (Benign Prostatic Hyperplasia/BPH) dapat meningkatkan risiko munculnya darah dalam ejakulat, terutama pada pria berusia di atas 40 tahun.
4. Trauma Fisik Langsung
Cedera pada area panggul, skrotum, atau testis akibat kecelakaan atau olahraga dapat memicu pendarahan internal yang kemudian terlihat saat ejakulasi.
5. Kista atau Batu
Adanya kista kecil atau batu pada saluran ejakulasi atau vesikula seminalis dapat menggores lapisan saluran saat semen melewatinya.
Kapan Harus Khawatir dan Berkonsultasi ke Dokter?
Meskipun banyak kasus hematospermia tidak berbahaya, sangat disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter urologi, terutama jika:
- Kondisi ini terjadi berulang kali atau berlangsung lebih dari dua hingga empat minggu.
- Darah yang keluar sangat banyak atau tampak pekat.
- Disertai rasa sakit saat ejakulasi, buang air kecil, atau nyeri hebat di area panggul.
- Anda mengalami demam, menggigil, atau keluarnya nanah bersama semen.
- Anda memiliki riwayat kanker prostat atau faktor risiko lainnya.
Diagnosis dan Penanganan Medis
Dokter akan melakukan wawancara mendalam mengenai riwayat medis Anda, aktivitas seksual, dan gejala yang menyertai. Pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan rektal untuk menilai kondisi prostat, mungkin dilakukan. Untuk memastikan penyebab pasti, beberapa pemeriksaan tambahan mungkin diperlukan:
- Analisis Urin: Untuk mendeteksi infeksi saluran kemih.
- Kultur Cairan: Mengambil sampel semen untuk mengidentifikasi bakteri.
- USG Transrektal (TRUS): Untuk memvisualisasikan prostat, vesikula seminalis, dan mendeteksi adanya kista atau obstruksi.
- MRI atau CT Scan: Dalam kasus yang jarang dan dicurigai adanya keganasan (kanker).
Penanganan akan sangat bergantung pada diagnosis. Jika penyebabnya infeksi, antibiotik akan diresepkan. Jika disebabkan oleh peradangan kronis, mungkin diperlukan obat anti-inflamasi. Dalam kasus yang sangat jarang terkait dengan tumor (kanker prostat atau testis), penanganan spesifik seperti operasi atau terapi akan direkomendasikan oleh spesialis urologi.
Kesimpulan
Melihat darah dalam sperma memang menakutkan, tetapi dalam mayoritas kasus, hematospermia adalah kondisi sementara yang disebabkan oleh iritasi ringan atau infeksi yang dapat diobati. Namun, karena ada kemungkinan bahwa ini bisa menjadi tanda kondisi medis yang lebih serius, mengabaikan gejala yang berulang atau berkepanjangan bukanlah pilihan bijak. Konsultasikan dengan profesional kesehatan untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan ketenangan pikiran.