Surat Al-Zalzalah (Az-Zalzalah), yang berarti "Keguncangan" atau "Goncangan Dahsyat," adalah surat ke-99 dalam Al-Qur'an. Surat ini memiliki ayat yang sangat kuat dan lugas mengenai hari kiamat dan pertanggungjawaban mutlak setiap individu atas amal perbuatannya. Mengenai pertanyaan spesifik mengenai di mana surat Al Zalzalah diturunkan, mayoritas ulama tafsir mengklasifikasikannya sebagai surat Makkiyah.
Surat Makkiyah merujuk pada ayat-ayat yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW sebelum beliau hijrah ke Madinah. Periode Mekah ditandai dengan penekanan kuat pada tauhid (keesaan Allah), kebangkitan setelah kematian, dan ancaman hari perhitungan (kiamat). Al-Zalzalah sangat sesuai dengan tema periode ini karena fokusnya adalah gambaran fisik dahsyatnya kiamat dan konsekuensi dari perbuatan kecil sekalipun.
Ilustrasi visual mengenai keguncangan dahsyat yang digambarkan dalam surat.
Ketika Al-Zalzalah diturunkan, dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah masih menghadapi penolakan keras dari kaum musyrikin Quraisy. Fokus utama dakwah saat itu adalah meyakinkan masyarakat bahwa penyembahan berhala adalah kesesatan dan bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara, diikuti oleh kebangkitan (ba'ats) dan perhitungan (hisab).
Surat Al-Zalzalah menjadi pengingat yang sangat efektif mengenai kepastian hari pembalasan. Ayat pertama, "Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat," langsung menarik perhatian pendengar karena menggambarkan peristiwa yang tak terbayangkan oleh akal manusia saat itu, kecuali jika itu berasal dari wahyu ilahi. Mengingat sifatnya yang mengancam dan berisi peringatan keras tentang hari kiamat, klasifikasi Makkiyah untuk surat Al Zalzalah diturunkan di Mekah sangat kuat landasannya.
Setelah menggambarkan guncangan bumi yang memuntahkan isi perutnya dan manusia kebingungan ("Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya"), surat ini kemudian bergerak ke inti masalahnya: pertanggungjawaban individu. Allah SWT berfirman bahwa setiap orang, sekecil apa pun perbuatannya, akan diperlihatkan hasilnya.
Ayat: "Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat biji dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat biji dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya."
Pesan ini sangat krusial di lingkungan Mekah yang penuh dengan intrik sosial, penindasan terhadap yang lemah, dan pengabaian terhadap hak orang lain. Dengan penekanan pada 'seberat biji dzarrah', surat ini menegaskan bahwa tidak ada perbuatan baik sekecil apapun yang luput dari perhitungan Allah SWT, dan sebaliknya, tidak ada kejahatan sekecil apapun yang dimaafkan tanpa pertanggungjawaban.
Jika surat ini termasuk Madaniyah (diturunkan setelah Hijrah), fokusnya cenderung lebih banyak membahas hukum-hukum sosial, tata kelola masyarakat Muslim (syariat), peperangan defensif, atau hubungan diplomatik antarnegara. Karena Al-Zalzalah murni berfokus pada aspek akidah (tauhid) dan alam gaib (kiamat), hal ini memperkuat posisi mayoritas ulama bahwa surat Al Zalzalah diturunkan di masa awal kenabian di Mekah. Ayat-ayatnya berfungsi sebagai fondasi keyakinan sebelum masyarakat Muslim diizinkan untuk membangun sistem kehidupan yang lebih terperinci di Madinah.
Kesimpulannya, berdasarkan analisis tematik dan konsensus di antara para mufassir, Al-Zalzalah adalah surat Makkiyah. Surat ini memberikan gambaran gamblang tentang akhir zaman dan menekankan prinsip keadilan ilahi yang sempurna, di mana setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban penuh atas setiap jejak langkah yang mereka tinggalkan di bumi ini.
Oleh karena itu, meskipun lokasi fisik pastinya seringkali tidak disebutkan secara eksplisit dalam riwayat turunnya ayat (kecuali konteks umum Mekah atau Madinah), konteks historis dan tematik menempatkan wahyu ini di periode awal kenabian, jauh sebelum pembentukan negara Islam di Madinah.