Fenomena keluarnya cairan yang menyerupai air mani atau sperma dalam jumlah yang tampak banyak setelah proses ejakulasi—sering disebut sebagai "sperma luber"—adalah hal yang umum dialami oleh banyak pria. Bagi sebagian orang, hal ini bisa menimbulkan kekhawatiran atau pertanyaan mengenai fungsi reproduksi dan kesehatan seksual mereka. Namun, penting untuk dipahami bahwa dalam banyak kasus, keluarnya cairan tersebut merupakan bagian normal dari respons fisiologis tubuh setelah orgasme.
Cairan yang keluar setelah ejakulasi terdiri dari campuran berbagai komponen. Ejakulat itu sendiri (semen) adalah kombinasi dari sperma (diproduksi di testis) dan cairan dari kelenjar aksesori seperti vesikula seminalis dan kelenjar prostat. Namun, cairan yang keluar setelah momen puncak, terutama yang tampak lebih encer atau banyak, sering kali bukanlah semen murni yang tersisa.
Ilustrasi sederhana jalur keluarnya cairan pasca ejakulasi.
Seringkali, apa yang terlihat sebagai 'sperma luber' setelah ejakulasi adalah residu dari cairan pelumas (pre-ejakulat) yang mungkin masih tertinggal di uretra, atau lebih umum, adalah cairan prostat yang keluar setelah otot-otot di sekitar saluran reproduksi berkontraksi selama orgasme.
Pria menghasilkan cairan prostat dalam jumlah yang cukup signifikan. Cairan ini bertugas menjaga sperma tetap hidup dan membantu mobilitasnya. Setelah kontraksi ejakulasi selesai, sisa cairan ini, yang mungkin bercampur dengan sedikit sisa urin atau lendir, dapat keluar secara pasif beberapa saat kemudian karena gravitasi atau karena relaksasi otot-otot panggul.
Volume cairan yang keluar setelah ejakulasi dapat bervariasi antar individu dan bahkan antar sesi ejakulasi pada pria yang sama. Beberapa faktor memengaruhi hal ini:
Dalam konteks kesehatan seksual normal, keluarnya cairan berlebih setelah ejakulasi umumnya tidak perlu dikhawatirkan. Itu bukan indikasi bahwa seorang pria mandul atau mengalami masalah kesuburan yang serius. Cairan yang keluar cenderung bening, tidak berbau menyengat, dan tidak menyebabkan nyeri.
Namun, ada beberapa kondisi di mana pemeriksaan medis dianjurkan:
Secara umum, jika cairan tersebut jernih, tidak berbau, dan Anda tidak mengalami gejala lain yang mengganggu, anggaplah itu sebagai bagian normal dari fisiologi tubuh Anda. Kebersihan setelah aktivitas seksual tetap merupakan praktik yang baik untuk menjaga kesehatan area genital.