Visualisasi umum kesehatan reproduksi pria.
Fenomena keluarnya cairan atau tetesan setelah buang air kecil (urinasi) adalah hal yang cukup umum dialami oleh pria dari berbagai usia. Seringkali, hal ini memicu kekhawatiran, terutama jika cairan yang keluar tampak bukan urin. Dalam banyak kasus, cairan tersebut adalah sisa sperma atau cairan pre-ejakulasi yang tertahan di saluran uretra. Memahami penyebab di baliknya sangat penting untuk membedakan antara kondisi normal dan kondisi yang memerlukan perhatian medis.
Sperma menetes setelah buang air kecil umumnya berkaitan dengan dua mekanisme utama: sisa ejakulasi dan cairan prostat/vesikula seminalis.
Selama ejakulasi, sejumlah kecil semen dapat tertahan di dalam uretra (saluran tempat urin dan sperma keluar). Ketika Anda buang air kecil setelah berhubungan seksual atau masturbasi, tekanan urin dapat mendorong sisa semen yang terperangkap ini keluar bersamaan dengan atau sesaat setelah urin selesai. Ini adalah respons fisik yang sering kali tidak berbahaya. Saluran uretra tidak selalu bersih sepenuhnya setelah proses pengosongan organ reproduksi.
Sebelum ejakulasi penuh, kelenjar Cowper menghasilkan cairan bening (disebut cairan pre-ejakulasi atau cairan Cowper). Cairan ini berfungsi melumasi uretra dan menetralkan keasaman sisa urin. Terkadang, sedikit cairan ini bisa keluar secara tidak sengaja ketika kandung kemih berkontraksi saat berkemih, terutama jika ada rangsangan seksual sebelumnya.
Kelenjar prostat dan vesikula seminalis menghasilkan sebagian besar komponen cairan semen. Jika terjadi iritasi, inflamasi (seperti prostatitis), atau pembesaran prostat (BPH), produksi cairan tersebut bisa meningkat atau terjadi kebocoran kronis. Dalam kondisi ini, tetesan tersebut mungkin lebih sering terjadi, bahkan tanpa adanya ejakulasi baru-baru ini.
Walaupun seringkali normal, ada beberapa gejala penyerta yang harus diwaspadai dan memerlukan konsultasi dengan dokter spesialis urologi atau andrologi.
Jika tetesan disertai dengan rasa sakit saat berkemih (disuria), nyeri di area panggul atau punggung bawah, demam, atau kesulitan memulai aliran urin, ini bisa menjadi indikasi prostatitis. Peradangan ini menyebabkan prostat membengkak dan menghasilkan cairan yang lebih banyak atau sulit dikontrol.
Otot dasar panggul berperan penting dalam mengontrol aliran urin dan menahan cairan ejakulasi. Kelemahan otot ini, yang bisa terjadi setelah operasi prostat atau karena penuaan, dapat menyebabkan kebocoran cairan inkontinensia ringan, termasuk tetesan sperma.
Infeksi menular seksual (IMS) atau penyempitan uretra (striktur) juga dapat menyebabkan iritasi dan keluarnya cairan yang tidak normal. Jika cairan yang menetes berwarna keruh, berbau tidak sedap, atau disertai rasa gatal, pemeriksaan IMS sangat dianjurkan.
Jika Anda merasa khawatir tentang frekuensi atau volume tetesan yang dialami, langkah pertama adalah observasi yang cermat. Perhatikan kapan tetesan itu terjadi (apakah setelah aktivitas seksual, setelah berkemih di pagi hari, atau tanpa pemicu jelas).
Untuk kasus yang dianggap normal (sisa ejakulasi):
Jika dicurigai adanya masalah medis:
Konsultasikan dengan dokter. Pemeriksaan fisik, analisis urin, dan tes kultur cairan mungkin diperlukan untuk menentukan diagnosis yang akurat. Penanganan akan sangat bergantung pada penyebabnya; bisa berupa antibiotik untuk infeksi, atau terapi fisik untuk otot dasar panggul.
Pada intinya, sperma menetes sesekali setelah berkemih, terutama pasca aktivitas seksual, bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan. Namun, penting untuk tetap waspada terhadap perubahan pola dan gejala lain yang mengindikasikan adanya kondisi kesehatan yang mendasarinya.