Kemudian Kami kembalikan kepada kamu kemenangan atas mereka, dan Kami bantu kamu dengan harta benda dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar (dari mereka).
Surah Al-Isra (juga dikenal sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj) adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an, yang mengandung banyak pelajaran historis dan spiritual. Ayat 6 dari surah ini secara spesifik berbicara tentang janji Allah untuk memberikan pembalasan dan pemulihan kejayaan kepada Bani Israil setelah mereka mengalami kehancuran dan penindasan.
Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya (ayat 4 dan 5) yang menceritakan tentang dua kali kerusakan yang dilakukan oleh Bani Israil di muka bumi. Kerusakan pertama ditandai dengan pembunuhan dan penindasan, dan sebagai konsekuensinya, Allah mengirimkan hamba-hamba-Nya yang kuat (sering ditafsirkan sebagai bangsa Babel/Nebukadnezar) untuk menghancurkan tempat tinggal mereka dan menawan sebagian dari mereka. Ayat 6 inilah yang menjadi titik balik, di mana Allah menjanjikan adanya pemulihan.
Frasa "ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ" (Kemudian Kami kembalikan kepada kamu kemenangan atas mereka) merujuk pada pemulihan kekuasaan dan kejayaan Bani Israil setelah periode kehancuran tersebut. Dalam sejarah mereka, terdapat periode ketika mereka diizinkan untuk kembali membangun kembali Baitul Maqdis dan menikmati kedamaian di bawah kekuasaan mereka sendiri sebelum akhirnya mereka melakukan kerusakan untuk kali kedua. Ini menunjukkan prinsip dasar dalam hukum Ilahi: bahwa pertolongan dan kemenangan akan kembali kepada mereka yang taat, meskipun setelah mengalami masa sulit.
Konteks historis ayat ini sering dikaitkan dengan pembebasan Bani Israil dari penawanan Babel di bawah pimpinan Koresy Agung (Cyrus the Great) dari Persia, setelah Kekaisaran Babel melemah. Koresy, yang diizinkan oleh Allah, membebaskan mereka dan mengizinkan mereka kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali kuil mereka.
Janji pemulihan ini tidak hanya bersifat militer atau politik, tetapi juga mencakup kemakmuran material. Frasa "وَأَمْدَدْنَاكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ" (dan Kami bantu kamu dengan harta benda dan anak-anak) menekankan bahwa Allah akan memulihkan populasi mereka yang telah berkurang akibat peperangan dan penawanan, serta mengembalikan kemakmuran ekonomi. Dalam budaya kuno, harta benda dan keturunan adalah simbol utama kekuatan dan keberlanjutan suatu bangsa.
Kembalinya anak-anak (keturunan) sangat vital bagi kelangsungan hidup suatu umat. Setelah penawanan dan pembantaian, populasi mereka pasti menurun drastis. Janji Allah memastikan bahwa generasi baru akan lahir dan tumbuh, membawa harapan baru bagi komunitas tersebut.
Puncak dari janji pemulihan ini adalah penegasan bahwa mereka akan dijadikan "أَكْثَرَ نَفِيرًا" (kelompok yang lebih besar/banyak jumlahnya). Kata "nafīr" sering merujuk pada pasukan yang siap berperang atau kelompok besar yang berkumpul. Ini berarti tidak hanya jumlah mereka bertambah, tetapi juga kekuatan kolektif mereka meningkat, menjadikan mereka komunitas yang signifikan dan dihormati kembali.
Meskipun ayat ini ditujukan kepada Bani Israil pada konteks sejarah tertentu, ia membawa pelajaran universal bagi umat Islam. Ayat ini menegaskan bahwa pertolongan Allah bersifat siklus. Jika suatu umat jatuh karena kemaksiatan, Allah dapat memberikan kesempatan kedua untuk bangkit (pembalasan/pemulihan), asalkan mereka kembali kepada ketaatan. Namun, ayat-ayat sebelum dan sesudahnya juga memberikan peringatan keras: jika kerusakan (kezaliman dan penyebaran kefasikan) dilakukan untuk kedua kalinya, maka konsekuensi akhir akan jauh lebih berat dan tidak ada pemulihan lagi.
Intinya, Surah Al-Isra ayat 6 adalah pengingat akan rahmat Allah yang luas, yang memberikan kesempatan untuk penebusan dan pemulihan kekuasaan setelah masa sulit, disertai dengan janji dukungan materiil dan peningkatan jumlah populasi. Namun, janji ini bersyarat pada perubahan perilaku dari umat yang bersangkutan.