Memahami Surat Al-Isra Ayat 100

Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang sarat akan hikmah, kisah, dan pedoman hidup. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan mendalam, terutama terkait pengelolaan rezeki dan masa depan, adalah Surat Al-Isra ayat 100.

Ayat ini secara spesifik membahas tentang pandangan dan harapan manusia terkait harta benda dan kekayaan duniawi. Dalam konteks sejarah, ayat ini diturunkan sebagai respons terhadap kekhawatiran dan sikap mentalitas materialistis sebagian kalangan, yang memandang bahwa kekayaan adalah ukuran utama kesuksesan atau kebahagiaan.

Teks dan Terjemahan Surat Al-Isra Ayat 100

قُل لَّوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنْفَاقِ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا

(Katakanlah: "Sekiranya kamu menguasai gudang-gudang rahmat Tuhanku, niscaya (dalam membelanjakannya) kamu akan menahan (tidak memberikannya) karena takut pemiskinan." Dan adalah manusia itu kikir.) (QS. Al-Isra: 100)

Ayat ini, yang disampaikan melalui Nabi Muhammad SAW kepada kaumnya, adalah sebuah ujian epistemologis. Allah memerintahkan Nabi untuk bertanya kepada mereka (atau kepada diri mereka sendiri): Seandainya kalian memiliki kunci seluruh kekayaan Allah, apakah kalian akan memberikannya tanpa perhitungan?

Analisis Mendalam Makna Ayat

Inti dari Al-Isra ayat 100 terletak pada kata kunci: "خشية الإنفاق" (khashyatul infaq - takut berinfak/membelanjakan) dan sifat dasar manusia yaitu "قتوراً" (qaturā - kikir atau sangat pelit).

1. Kepemilikan Semu dan Kekayaan Hakiki

Ayat ini menegaskan bahwa apapun yang dimiliki manusia di dunia ini hanyalah titipan dan merupakan sebagian kecil dari "gudang rahmat Tuhan" (خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي). Ketika manusia diberi kekuasaan atas harta tersebut, sifat alami mereka yang terikat pada duniawi akan muncul. Mereka cenderung menahan, bukan karena harta itu akan habis dalam pengertian absolut, melainkan karena rasa takut kehilangan (pemiskinan) yang sesungguhnya merupakan penyakit hati.

2. Sifat Kikir (Qaturā)

Allah mendiagnosis sifat dasar manusia yang jika tidak dibimbing oleh wahyu, cenderung menjadi kikir. Kekikiran ini bukan hanya terkait materi, tetapi juga dalam hal amal kebaikan, ilmu, atau waktu yang dimiliki. Rasa takut menjadi miskin (pemiskinan) menghalangi mereka untuk berbuat kebaikan secara maksimal, bahkan jika mereka berada dalam kelimpahan. Ini adalah kritik keras terhadap mentalitas yang menganggap harta sebagai tujuan akhir, bukan sarana.

3. Perbandingan antara Kemanusiaan dan Ilahi

Kontrasnya sangat jelas: Jika manusia diberi kendali penuh atas rahmat ilahi, mereka akan bersifat menahan karena egoisme dan ketakutan. Berbeda dengan Allah SWT, yang sifat-Nya adalah Al-Wahhab (Maha Pemberi) dan Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki), yang memberikan tanpa perlu khawatir hartanya akan habis.

Implikasi dalam Kehidupan Modern

Surat Al-Isra ayat 100 tetap relevan hingga kini. Di era kapitalisme dan konsumerisme, ayat ini menjadi pengingat kuat tentang bahaya kecintaan berlebihan terhadap harta. Banyak keputusan hidup, baik dalam skala individu maupun korporasi, didasarkan pada perhitungan untung rugi yang ekstrem, sering kali mengorbankan etika, kemanusiaan, atau tanggung jawab sosial karena takut 'kekayaan berkurang'.

Ayat ini mengajak kita untuk mengubah perspektif: Jika kita menyadari bahwa rezeki adalah milik Allah, maka tindakan terbaik adalah mendistribusikannya sesuai dengan prinsip kedermawanan (infaq dan sedekah), karena kekikiran adalah penghalang terbesar untuk mendapatkan keberkahan dari sumber rahmat yang tak terbatas.

Menyadari bahwa rahmat Allah itu luas jauh melampaui apa yang bisa kita bayangkan atau miliki di tangan kita adalah kunci untuk mengatasi sifat kikir. Kedermawanan sejati muncul dari keyakinan bahwa apa yang kita berikan kepada sesama adalah penempatan harta di tempat yang lebih aman, yaitu di sisi Allah, bukan kehilangan.

Oleh karena itu, perenungan mendalam terhadap Surat Al-Isra ayat 100 harus mendorong umat Islam untuk menjadi lebih lapang dada, menghindari sifat menahan rezeki karena rasa takut yang tidak berdasar, dan meneladani sifat kedermawanan Ilahi dalam batas kemampuan.

Kikir Infaq Pilih Jalan Rahmat

Ilustrasi Keseimbangan Harta

🏠 Homepage