إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ وَيُذْهِبَ عَنكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الأَقْدَامَ
"(Ingatlah) ketika Allah melimpahkan rasa aman kepada kamu (berupa) kantuk yang mantap, dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (air itu), dan menghilangkan gangguan-gangguan syaitan dari diri kamu, dan (Allah) menguatkan hati kamu dan meneguhkan telapak kaki(mu) dengan (turunnya) air itu."
Ayat kesepuluh dari Surah Al-Anfal ini merupakan salah satu penegasan akan kekuasaan dan rahmat Allah SWT, terutama dalam konteks perjuangan dan menghadapi kesulitan. Surah Al-Anfal sendiri secara umum membahas tentang harta rampasan perang dan bagaimana pengelolaan serta pembagiannya, namun ayat 10 ini memiliki makna yang lebih luas dan mendalam, yaitu tentang pertolongan Allah yang datang di saat-saat genting.
Ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa Perang Badar, sebuah pertempuran monumental yang menjadi titik balik kemenangan umat Islam pertama kali melawan kekuatan musyrikin Quraisy yang jumlahnya jauh lebih besar. Dalam situasi genting tersebut, Allah tidak hanya memberikan kekuatan fisik atau strategi militer, tetapi juga memberikan ketenangan dan keyakinan yang luar biasa kepada para sahabat.
Frasa "إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِّنْهُ" (Ingatlah ketika Allah melimpahkan rasa aman kepada kamu berupa kantuk yang mantap) menggambarkan betapa Allah memberikan ketenangan yang meredakan kecemasan dan ketakutan para mujahidin. Kantuk yang datang bukanlah kantuk yang membuat lalai, melainkan kantuk yang menenteramkan jiwa, sebuah karunia ilahi yang menunjukkan bahwa mereka berada dalam penjagaan-Nya.
Kemudian, "وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ وَيُذْهِبَ عَنكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ" (dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (air itu), dan menghilangkan gangguan-gangguan syaitan dari diri kamu). Turunnya hujan dalam konteks ini memiliki dua makna penting. Pertama, air hujan membersihkan diri dan lingkungan, memberikan kesegaran fisik setelah menempuh perjalanan dan bersiap untuk pertempuran. Kedua, secara spiritual, air hujan digunakan untuk membersihkan diri dari hadas dan menghilangkan pengaruh buruk, termasuk was-was dan keraguan yang ditimbulkan oleh setan. Hujan di sini adalah simbol pembersihan dan penyucian, baik fisik maupun batin.
Bagian terakhir dari ayat, "وَلِيَرْبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الأَقْدَامَ" (dan (Allah) menguatkan hati kamu dan meneguhkan telapak kaki(mu) dengan (turunnya) air itu), menjadi puncak dari pertolongan Allah. Menguatkan hati berarti memberikan keteguhan iman, keberanian, dan kesabaran dalam menghadapi ujian. Hati yang teguh adalah kunci utama dalam setiap perjuangan. Sementara itu, meneguhkan telapak kaki menunjukkan stabilitas fisik. Dalam pertempuran, kaki yang kokoh adalah fondasi penting untuk bertahan, bergerak, dan menyerang. Air yang turun membantu menguatkan pijakan, secara harfiah maupun metaforis, memberikan keyakinan untuk terus maju.
Meskipun ayat ini turun dalam konteks perang, maknanya bersifat universal dan dapat diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan kita. Setiap individu pasti pernah atau akan menghadapi tantangan, ujian, atau "peperangan" dalam hidupnya, baik itu masalah pekerjaan, keluarga, kesehatan, atau bahkan perjuangan melawan hawa nafsu diri sendiri. Dalam situasi-situasi seperti itu, kita sering merasa cemas, ragu, dan kehilangan pegangan.
Surah Al-Anfal ayat 10 mengingatkan kita bahwa pertolongan Allah itu nyata. Ketika kita merasa lemah, Allah dapat memberikan ketenangan melalui rasa aman yang hakiki. Ketika kita merasa kotor oleh dosa atau keraguan, Allah dapat membersihkan hati kita dengan rahmat-Nya. Ketika hati kita goyah, Allah dapat menguatkannya dengan keyakinan dan ketabahan. Dan ketika kita merasa terombang-ambing, Allah dapat meneguhkan pijakan kita.
Kunci untuk mendapatkan pertolongan ilahi ini adalah dengan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, berdoa, berdzikir, dan memohon pertolongan-Nya. Percaya bahwa di balik setiap kesulitan, ada kemudahan dan pertolongan dari Sang Pencipta. Ayat ini adalah bukti bahwa dalam setiap perjuangan, kita tidak pernah sendirian. Allah selalu bersama orang-orang yang beriman dan bertakwa.
Dengan merenungi Surah Al-Anfal ayat 10, kita diajak untuk terus berjuang dengan penuh keyakinan, mengetahui bahwa setiap usaha kita yang dilandasi niat baik dan berserah diri kepada Allah, akan selalu mendapatkan dukungan dan pertolongan-Nya. Ini adalah janji kebenaran dari Al-Qur'an, sebuah panduan abadi untuk meraih kemenangan, baik di dunia maupun di akhirat.