Sistem perakaran monokotil pada jagung.
Jagung (Zea mays) merupakan salah satu komoditas pangan terpenting di dunia, dan keberhasilan budidayanya sangat bergantung pada kondisi fisiologisnya, terutama sistem perakaran. Walaupun perhatian sering tertuju pada daun dan tongkol, struktur jagung akar memainkan peran krusial dalam menopang tegaknya tanaman serta menjamin ketersediaan nutrisi dan air yang dibutuhkan untuk pertumbuhan optimal.
Sistem perakaran jagung tergolong unik dibandingkan tanaman dikotil karena termasuk dalam sistem akar serabut (fibrous root system), ciri khas tanaman monokotil. Namun, pada jagung, sistem ini berkembang dalam dua fase utama yang berbeda:
Akar seminal adalah kelompok akar pertama yang muncul dari biji saat perkecambahan. Mereka berfungsi sebagai sistem penopang utama pada fase awal pertumbuhan tanaman. Akar ini umumnya tumbuh cepat dan menjangkau area dangkal di sekitar benih. Meskipun penting untuk stabilitas awal, akar seminal memiliki umur yang relatif pendek dan fungsinya akan mulai digantikan seiring dengan perkembangan akar nodus.
Inilah jantung dari sistem perakaran jagung dewasa. Akar nodus muncul dari buku-buku (node) batang yang berada di bawah permukaan tanah. Pertumbuhan akar nodus ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama kelembaban tanah di dekat buku-buku batang. Akar inilah yang bertanggung jawab atas penyerapan nutrisi dalam jangka panjang dan memberikan fondasi struktural yang kuat.
Satu fitur yang membuat jagung akar menarik adalah munculnya akar adventif di buku-buku batang yang berada di atas permukaan tanah, yang dikenal sebagai akar penyangga (prop roots). Akar ini sering kali tampak seperti menopang batang dari samping. Fungsi utama akar penyangga adalah memberikan stabilitas mekanis tambahan pada tanaman, khususnya ketika tanaman sudah tinggi dan rentan terhadap roboh (lodging) akibat angin kencang atau bobot tongkol yang berat.
Akar penyangga menembus tanah dalam jarak yang pendek dari permukaan, membantu menahan tanaman agar tidak miring atau tumbang. Tanpa dukungan yang memadai dari akar penyangga ini, hasil panen jagung bisa sangat terancam, terutama pada varietas hibrida yang cenderung tumbuh sangat tinggi.
Fungsi akar tidak terbatas hanya pada menambatkan tanaman di tempatnya. Secara fisiologis, akar adalah organ vital dengan beberapa peran spesifik:
Optimalisasi hasil panen jagung sangat berkaitan erat dengan bagaimana sistem jagung akar berkembang. Beberapa faktor lingkungan sangat memengaruhi kedalaman dan kepadatan akar:
Manajemen praktik budidaya, seperti pengolahan tanah yang memadai dan irigasi yang tepat, bertujuan menciptakan lingkungan akar yang ideal. Ketika sistem akar jagung berkembang luas dan dalam, tanaman menjadi lebih tangguh terhadap stres lingkungan seperti kekeringan jangka pendek dan mampu memaksimalkan potensi genetiknya untuk menghasilkan tongkol berkualitas tinggi. Memahami anatomi akar ini adalah kunci keberhasilan dalam budidaya jagung modern.