Dalam lautan ayat-ayat Al-Qur'an, terdapat permata-permata makna yang terus mengajak kita untuk merenung dan introspeksi diri. Salah satunya adalah Surah Al-Anfal ayat 22. Ayat ini seringkali dikutip untuk menggambarkan kondisi manusia yang tidak mau menerima kebenaran, meskipun kebenaran itu telah disampaikan dengan jelas. Mari kita bedah makna mendalam dari ayat ini dan hikmah yang bisa kita petik untuk kehidupan spiritual kita.
Ayat yang dimaksud berbunyi:
Terjemahannya adalah:
Ayat ini secara lugas menggambarkan bahwa makhluk yang paling hina dan buruk di sisi Allah SWT adalah mereka yang memiliki sifat tuli dan bisu, serta tidak menggunakan akal mereka. Pertanyaannya, apakah ini merujuk pada ketulian dan kebisuuan fisik semata? Tentu tidak. Dalam konteks Al-Qur'an, istilah "tuli" dan "bisu" seringkali digunakan secara metaforis untuk menggambarkan kondisi hati dan pikiran.
Seorang yang tuli di sini adalah orang yang tidak mau mendengarkan kebenaran ilahi, ajaran-ajaran agama, nasihat yang baik, atau bahkan seruan untuk berbuat kebaikan. Meskipun ayat-ayat Allah dibacakan, nasihat para ulama didengar, atau peringatan disampaikan, hati mereka seolah tertutup, tidak mampu menyerap makna dan tidak terpengaruh sedikit pun. Mereka mungkin mendengar suara, namun makna di baliknya tidak pernah masuk ke dalam jiwa.
Sementara itu, orang yang bisu adalah mereka yang tidak mampu atau tidak mau menyuarakan kebenaran. Mereka mengetahui kebenaran, menyaksikan kemungkaran, tetapi memilih diam. Mereka tidak mampu berkata-kata untuk membela agama Allah, tidak mau mengeluarkan kata-kata yang baik, atau bahkan menggunakan lisan mereka untuk kebatilan. Ketidakmampuan berbicara ini bukan karena keterbatasan fisik, melainkan karena keengganan hati untuk mengamalkan dan menyebarkan kebaikan.
Kunci dari kedua sifat ini adalah "yang tidak mempergunakan akal mereka". Akal adalah anugerah terbesar dari Allah yang membedakan manusia dari makhluk lain. Akal yang sehat seharusnya digunakan untuk merenungi ciptaan Allah, memahami firman-Nya, membedakan antara yang hak dan batil, serta mengambil pelajaran dari setiap peristiwa. Namun, ketika akal tidak digunakan untuk tujuan mulia ini, bahkan cenderung menolak kebenaran, maka akal tersebut justru menjadi sumber kehinaan.
Umat Islam yang diberikan akal oleh Allah wajib menggunakannya untuk memahami dan mengimani ajaran-Nya. Ketika seseorang menolak kebenaran yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, bahkan setelah penjelasan yang gamblang, maka ia berada dalam kondisi yang sangat merugi. Ia seperti hewan yang tidak memiliki kemampuan berpikir untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk bagi dirinya sendiri di akhirat.
Ayat ini tidak hanya ditujukan kepada orang-orang kafir yang jelas-jelas menolak Islam pada masa Rasulullah SAW. Namun, ia juga menjadi peringatan keras bagi setiap Muslim. Seringkali kita menganggap diri kita sebagai orang yang beriman, namun tanpa disadari kita bisa saja terjerumus ke dalam kondisi "tuli dan bisu" dalam hal-hal tertentu.
Misalnya, seseorang yang selalu merasa benar sendiri dan menolak kritik konstruktif, padahal kritik itu disampaikan dengan niat baik. Atau seseorang yang mengetahui ada kemungkaran di sekitarnya namun memilih diam karena takut atau apatis. Atau bahkan seseorang yang lalai dalam menjalankan ibadah dan kewajiban agama karena terlalu sibuk dengan urusan dunia tanpa mau merenungi tujuan hidupnya yang sebenarnya. Semua ini bisa menjadi indikasi bahwa akal kita tidak bekerja optimal dalam bingkai kebenaran ilahi.
Bagaimana cara menghindari kondisi ini? Pertama, kita harus senantiasa menjaga hati kita tetap terbuka untuk menerima kebenaran. Ini berarti bersikap rendah hati, mau belajar, dan tidak merasa paling tahu. Kedua, aktif menggunakan akal pikiran kita untuk merenungkan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis, serta mengaitkannya dengan realitas kehidupan. Ketiga, berani berbicara untuk kebaikan dan kebenaran, serta tidak tinggal diam saat melihat kemungkaran. Mengamalkan ilmu yang kita miliki adalah bentuk "berbicara" yang paling nyata.
Surah Al-Anfal ayat 22 mengingatkan kita bahwa keimanan yang sejati bukan hanya di lisan, tetapi tercermin dalam hati yang mendengar, akal yang berpikir, dan lisan serta tindakan yang menyuarakan dan mengamalkan kebenaran. Dengan demikian, kita berharap dijauhkan dari sifat-sifat buruk yang disebutkan dalam ayat ini dan senantiasa menjadi hamba Allah yang berakal dan beriman sejati.
Ilustrasi metaforis pemahaman dan kebenaran.