Ilustrasi Visual Masjidil Aqsa dan Kubah Batu
Ini adalah sebuah untaian kata yang ditulis dari lubuk hati, merindukan kiblat pertama umat Islam, Al-Masjid Al-Aqsa. Sebuah tempat yang tidak hanya berupa bangunan, tetapi juga jantung spiritual bagi miliaran jiwa.
Masjidil Aqsa, yang dalam Al-Qur'an disebut sebagai 'Al-Masjid Al-Aqsa' (Masjid terjauh), memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam. Ia adalah kiblat pertama, arah salat umat Muslim sebelum Allah memerintahkan perubahan kiblat ke Ka'bah di Makkah. Kedekatan historis ini menempatkan Al-Aqsa bukan sekadar masjid biasa; ia adalah saksi bisu perjalanan kenabian, tempat Rasulullah Muhammad SAW memulai Isra' Mi'raj, perjalanan agung beliau menuju sidratul muntaha.
Setiap batu, setiap ruang di kompleks Al-Haram Asy-Syarif (Area Noble Sanctuary), memancarkan aura kesucian. Keberadaannya mengingatkan kita pada warisan para nabi terdahulu—Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Daud, dan Nabi Sulaiman, yang semuanya memiliki hubungan erat dengan tanah suci ini. Maka, ketika kita membicarakan surat tentang Masjidil Aqsa, kita sebenarnya sedang menulis surat tentang iman, sejarah, dan tanggung jawab kolektif umat.
Namun, seiring berjalannya waktu dan gejolak yang menyelimuti kawasan tersebut, surat yang kita tulis kini tidak hanya berisi pujian dan kerinduan, tetapi juga nada keprihatinan yang mendalam. Masjidil Aqsa kini menghadapi tantangan yang kompleks—baik dari segi politik, sosial, maupun pemeliharaan fisik situs suci tersebut. Bagi banyak Muslim di seluruh dunia, ketegangan yang terjadi di sana terasa seperti luka yang menganga di dada.
Kerinduan untuk shalat di dalamnya, untuk merasakan kedamaian yang seharusnya melingkupi rumah Allah ketiga ini, menjadi doa yang terus-menerus dipanjatkan. Surat ini adalah manifestasi dari suara hati kolektif yang berharap agar kesucian dan aksesibilitas ke tempat ibadah ini dapat terjamin selamanya. Mengunjungi Al-Aqsa bukan sekadar wisata spiritual; ini adalah pemenuhan janji iman dan penegasan identitas keislaman kita.
Lebih dari sekadar tempat sujud, Masjidil Aqsa telah menjadi simbol ketahanan (sumud) bagi penduduk lokal dan simbol perjuangan bagi umat Islam global. Ia adalah pengingat bahwa perjuangan untuk mempertahankan kebenaran seringkali membutuhkan pengorbanan besar. Setiap kali ada upaya untuk membatasi akses atau mengubah status quo historisnya, dunia Muslim merasakan getaran yang sama.
Surat ini juga ingin menyampaikan apresiasi tulus kepada mereka yang menjaga tempat ini setiap hari, mereka yang memastikan bahwa adzan tetap berkumandang dan shalat berjamaah senantiasa ramai, meskipun di tengah tekanan. Keteguhan mereka adalah mercusuar harapan bagi kita semua yang berada jauh di sana.
Apa peran kita, yang mungkin terpisah ribuan kilometer dari Yerusalem? Peran itu dimulai dari edukasi. Kita wajib memastikan bahwa generasi muda memahami makna mendalam dari Masjidil Aqsa, bukan sekadar berita yang muncul sesaat di media, melainkan sebuah pilar keimanan yang harus dipertahankan dalam narasi sejarah kita.
Tanggung jawab kedua adalah doa tanpa henti. Doa adalah jembatan spiritual yang tidak mengenal batas geografis. Kita berdoa agar Allah menjaga kemurnian Al-Aqsa dan memberikan kemudahan bagi setiap Muslim yang berniat untuk menunaikan ibadah di sana dengan aman dan khusyuk. Surat tentang Masjidil Aqsa ini, pada dasarnya, adalah seruan untuk tidak pernah melupakan, untuk selalu menempatkannya dalam prioritas kepedulian kita.
Memperjuangkan Al-Aqsa bukan hanya tentang politik, tetapi inti dari tauhid—mengabdi dan menjaga kemuliaan tempat yang diagungkan oleh Allah SWT. Semoga hari di mana kita semua dapat berkumpul kembali di bawah naungan kubah sucinya segera tiba, membawa kedamaian yang sejati.
Kami tutup surat ini dengan harapan bahwa setiap kenangan atau informasi tentang Masjidil Aqsa akan menumbuhkan semangat untuk menjaga dan menghormati kesuciannya, sampai kapan pun dan di mana pun kita berada. Al-Aqsa adalah amanah, dan amanah ini harus kita pikul bersama dengan penuh cinta dan kesungguhan.