Dalam Al-Qur'an, setiap ayat mengandung hikmah dan petunjuk bagi umat manusia. Salah satu ayat yang sarat makna dan sering direnungkan adalah Surah Al Anfal ayat 53. Ayat ini memberikan peringatan keras sekaligus solusi bagi umat yang berbuat zalim dan ingkar nikmat. Memahami isi dan konteks ayat ini sangat penting untuk memperkuat keimanan dan memperbaiki perilaku kita sebagai Muslim.
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
مَا كَانَ لِلَّهِ أَن يَتَّخِذَ مِن وَلَدٍ ۖ وَمَا كَانَ مَعَهُۥ مِن إِلَـٰهٍ ۚ إِذًا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَـٰهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ سُبْحَـٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Mā kāna lillāhi an yattakhiḏa min waladin, wa mā kāna maʿahu min ilāhin, iḏan laḏhaba kullu ilāhin bimā xalaqa wa laʿalā baʿḍuhum ʿalā baʿḍin, subḥānallāhi ʿammā yaṣifūn.
"Allah sekali-kali tidak akan mengambil anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) bersama-Nya; jika ada tuhan (yang lain) itu, masing-masing tuhan itu akan membawa apa yang telah diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan."
Ayat ini diawali dengan penegasan tentang keesaan Allah SWT. "Allah sekali-kali tidak akan mengambil anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) bersama-Nya." Kalimat ini membantah keyakinan kaum musyrik yang menyekutukan Allah dengan berhala-berhala atau meyakini adanya anak bagi Allah. Allah Maha Esa, tidak memiliki sekutu, dan tidak membutuhkan siapapun.
Selanjutnya, ayat ini menjelaskan implikasi logis jika ada tuhan lain selain Allah. "Jika ada tuhan (yang lain) itu, masing-masing tuhan itu akan membawa apa yang telah diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain." Bayangkan sebuah sistem di mana ada banyak tuhan. Masing-masing tuhan akan mengklaim ciptaannya sendiri dan berpotensi saling berselisih atau bahkan berperang satu sama lain. Hal ini akan menimbulkan kekacauan dan ketidakstabilan di alam semesta. Sebaliknya, keberadaan satu Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Allah SWT, menjamin keteraturan, kesatuan, dan kesempurnaan ciptaan-Nya.
Penutup ayat, "Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan," merupakan penolakan tegas terhadap segala bentuk penyekutuan dan kesalahpahaman tentang sifat-sifat Allah. Allah jauh dari segala kekurangan dan kemiripan dengan makhluk-Nya. Kesucian-Nya sempurna dan mutlak.
Secara umum, Surah Al Anfal membahas tentang peperangan Badar, pembagian harta rampasan perang, dan hukum-hukum terkait perang dalam Islam. Namun, ayat 53 ini memiliki makna yang lebih luas dan bersifat akidah (keyakinan). Ayat ini turun sebagai respons terhadap kekafiran dan penyekutuan yang dilakukan oleh sebagian kaum Quraisy dan musyrik Mekah. Mereka menciptakan tuhan-tuhan palsu yang dianggap memiliki kekuatan untuk memberi manfaat atau mudharat. Ayat ini menelanjangi kebatilan keyakinan mereka dengan argumen akal yang logis.
Selain itu, ayat ini juga bisa menjadi pengingat bagi umat Islam agar senantiasa menjaga kemurnian tauhid. Jangan sampai ada sedikit pun unsur syirik dalam keyakinan atau praktik ibadah kita. Mengingat Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan menjadi tempat bergantung.
Ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita ambil dari ayat ini:
Surah Al Anfal ayat 53 mengajarkan kita untuk selalu menjaga kemurnian tauhid, mensyukuri nikmat Allah yang tak terhingga, dan menjauhi segala bentuk kesyirikan. Dengan memahami dan merenungkan ayat ini, semoga keimanan kita semakin kuat dan kita senantiasa berada di jalan yang diridhai Allah SWT. Kebenaran tauhid adalah cahaya yang menerangi kehidupan kita di dunia dan akhirat.