Surah Al Anfal Ayat 63: Kunci Persatuan dan Kasih Sayang

Ikon Tangan Bergandengan Melambangkan Persatuan

Dalam lautan ayat-ayat Al-Qur'an yang penuh hikmah, terdapat satu ayat yang memiliki kedalaman makna luar biasa dalam membangun harmoni sosial dan spiritual. Ayat tersebut adalah Surah Al-Anfal ayat ke-63. Ayat ini sering kali luput dari perhatian di tengah berbagai pembahasan fiqih atau tuntunan ibadah lainnya, namun esensinya sangat fundamental bagi keberlangsungan sebuah komunitas, khususnya umat Islam. Ia tidak hanya berbicara tentang persatuan, tetapi juga tentang akar dari persatuan itu sendiri: rasa kasih sayang dan keharmonisan hati.

Teks dan Terjemahan Surah Al Anfal Ayat 63

وَلَوۡ اَنۡفَقۡتَ مَا فِى الۡاَرۡضِ جَمِيۡعًا مَّاۤ اَلَّفۡتَ بَيۡنَ قُلُوۡبِهِمۡ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ اَلَّفَ بَيۡنَهُمۡ ؕ اِنَّهٗ عَلِيۡ حَكِيۡمٌ
Wa lau anfa qta maa fil ardi jamee'an maaa allafta baina quloobihim wa laakinnal laaha allafa bainahum; innahoo 'azeezun hakeem.
"Dan jika kamu belanjakan semua kekayaan yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Penggalan ayat ini menegaskan sebuah realitas yang tak terbantahkan: persatuan sejati tidak dapat dicapai hanya dengan kekuatan materi atau usaha lahiriah semata. Bayangkan sejenak, jika seseorang memiliki sumber daya yang tak terbatas, mampu membelanjakan segala yang ada di muka bumi ini, apakah ia akan serta merta mampu menyatukan perbedaan pendapat, prasangka, atau bahkan kebencian di antara manusia? Jawabannya jelas tidak. Hati manusia adalah entitas yang kompleks, dipengaruhi oleh berbagai faktor emosional, spiritual, dan pengalaman hidup.

Ayat ini secara gamblang menyatakan bahwa upaya manusia, seberapa besar pun sumber daya yang dikerahkan, tidak akan mampu menciptakan ikatan hati yang tulus. Persatuan yang dibangun atas dasar paksaan, kekuasaan, atau keuntungan semata cenderung rapuh dan mudah retak ketika tantangan datang. Perbedaan pandangan, kepentingan pribadi, atau gejolak emosi dapat dengan mudah meruntuhkan bangunan persatuan tersebut. Ini adalah pelajaran penting dalam menghadapi dinamika sosial, di mana seringkali kita menemukan upaya-upaya penyatuan yang hanya bersifat formalitas tanpa menyentuh substansi terdalam dari hubungan antarmanusia.

Lalu, bagaimana persatuan hati itu bisa terwujud? Ayat ini memberikan jawabannya pada bagian kedua: "akan tetapi Allah mempersatukan hati mereka." Di sinilah letak keilahian dan kekuasaan mutlak Allah SWT. Persatuan hati yang kokoh, yang dilandasi oleh kecintaan dan rasa hormat yang tulus, adalah anugerah dan hasil campur tangan ilahi. Allah-lah yang Maha Mampu menumbuhkan benih-benih kasih sayang di antara hamba-Nya, menghilangkan kedengkian, menanamkan empati, dan menciptakan rasa saling membutuhkan. Ini adalah persatuan yang berasal dari hati ke hati, bukan sekadar kesepakatan di atas kertas.

Proses mempersatukan hati ini bukanlah proses yang instan atau terjadi begitu saja. Allah SWT mewujudkan persatuan ini melalui berbagai cara yang seringkali tidak kita sadari. Ia bisa melalui ujian yang membuat orang saling menguatkan, melalui keberkahan yang dibagi bersama, melalui dakwah yang menyejukkan, atau melalui kelembutan dan kasih sayang yang ditunjukkan oleh individu-individu mukmin. Ketika hati telah dipersatukan oleh Allah, perbedaan yang ada justru menjadi rahmat. Toleransi tumbuh, saling pengertian menguat, dan tujuan bersama menjadi prioritas utama.

Dua kalimat terakhir ayat ini, "Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana," menggarisbawahi dua sifat fundamental Tuhan yang menjamin terwujudnya persatuan ini. Sifat "Al-'Aziz" (Maha Perkasa) menunjukkan bahwa Allah memiliki kekuatan yang tak tertandingi untuk melaksanakan kehendak-Nya, termasuk dalam mempersatukan hati manusia. Tidak ada kekuatan lain yang dapat menghalangi-Nya. Sementara itu, sifat "Al-Hakim" (Maha Bijaksana) menunjukkan bahwa setiap tindakan-Nya, termasuk dalam mempersatukan hati, dilandasi oleh ilmu dan hikmah yang sempurna. Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya dan bagaimana cara terbaik untuk mewujudkan kebaikan tersebut.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, Surah Al-Anfal ayat 63 ini menjadi pengingat krusial. Upaya membangun persatuan nasional, misalnya, tidak akan pernah berhasil secara optimal jika hanya mengandalkan kebijakan, peraturan, atau program-program lahiriah. Perlu ada upaya untuk menyentuh hati masyarakat, menumbuhkan rasa cinta tanah air, rasa persaudaraan, dan saling menghargai perbedaan. Doa yang tulus kepada Allah SWT agar Ia menganugerahkan persatuan dan kasih sayang di antara kita adalah kunci yang tak terpisahkan.

Bagi komunitas Muslim, ayat ini adalah pedoman untuk senantiasa menjaga hubungan baik antar sesama. Menjauhi sikap saling mencela, memfitnah, atau menumbuhkan permusuhan adalah langkah awal yang penting. Sebaliknya, kita dianjurkan untuk memperbanyak silaturahmi, saling menasihati dengan cara yang baik, dan menunjukkan kasih sayang sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dengan memohon pertolongan Allah dan berupaya keras untuk meneladani akhlak mulia, kita berharap hati kita senantiasa dipersatukan dalam bingkai ukhuwah Islamiyah yang kokoh, atas izin dan karunia dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

🏠 Homepage