Surah Al-Hijr, surah ke-15 dalam Al-Qur'an, merupakan salah satu surah Makkiyah yang kaya akan pelajaran penting mengenai keimanan, kesabaran, dan kekuasaan mutlak Allah SWT. Nama surah ini diambil dari kata "Al-Hijr" yang merujuk pada sebuah lembah di wilayah utara Hijaz, tempat kaum Tsamud pernah tinggal dan dihancurkan karena kekafiran mereka. Membaca dan memahami surah ini memberikan perspektif mendalam tentang bagaimana Allah memperlakukan umat-Nya yang taat dan bagaimana konsekuensi bagi mereka yang membangkang.
Salah satu tema utama yang ditekankan dalam Surah Al-Hijr adalah kisah-kisah para nabi terdahulu. Allah SWT mengingatkan Nabi Muhammad SAW serta umatnya tentang pengalaman Nabi Ibrahim AS dalam menghadapi penolakan kaumnya, serta kisah Nabi Luth AS yang kisahnya juga disinggung sebagai peringatan keras terhadap perbuatan keji. Lebih jauh lagi, surah ini menyoroti kisah Nabi Shalih AS dan kaum Tsamud. Kaum Tsamud dianugerahi mukjizat berupa unta betina yang keluar dari batu, sebuah bukti nyata keesaan Allah. Namun, kesombongan dan penolakan mereka terhadap ajakan Nabi Shalih berujung pada azab yang pedih. Kisah-kisah ini berfungsi sebagai penguat keyakinan bagi kaum Muslimin yang saat itu menghadapi penolakan keras dari kaum Quraisy di Makkah.
Ilustrasi simbolis Lembah Al-Hijr
Keajaiban Penciptaan dan Kekuasaan Ilahi
Selain fokus pada kisah umat terdahulu, Surah Al-Hijr juga memuat ayat-ayat yang mengagungkan kebesaran Allah SWT sebagai Sang Pencipta. Ayat-ayat ini mengajak manusia untuk merenungkan ciptaan-Nya di alam semesta, mulai dari pembentukan langit yang bertaburan bintang hingga terciptanya gunung-gunung yang kokoh sebagai pasak bumi. Perintah untuk tadabbur (merenung) ini sangat kuat, mengajak akal untuk melihat bukti-bukti keesaan Allah melalui alam raya. Sebagai contoh, Allah SWT menjelaskan bagaimana Dia menciptakan bintang-bintang bukan hanya sebagai hiasan, tetapi juga sebagai sarana menjaga (penjagaan dari gangguan setan) dan penunjuk arah.
Surah ini juga menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang dijaga kemurniannya. Ayat ke-9 secara eksplisit menyatakan, "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan Kami-lah penjaganya." Penegasan ini memberikan ketenangan bagi orang beriman bahwa sumber petunjuk mereka tidak akan pernah berubah atau diselewengkan. Kontras dengan kebenaran yang dijaga ini, terdapat peringatan keras bagi mereka yang menolak kebenaran, terutama kaum musyrik yang merasa cukup dengan tatanan duniawi mereka.
Pelajaran Kesabaran dan Sikap Terhadap Ejekan
Bagi Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, menghadapi ejekan dan penghinaan adalah hal sehari-hari. Surah Al-Hijr memberikan petunjuk bagaimana menyikapinya. Allah memerintahkan Nabi untuk bersabar dan berpaling dari orang-orang yang mempermainkan agama-Nya. Ayat 94-95 berbunyi: "Maka sampaikanlah apa yang diperintahkan kepadamu (wahai Muhammad), dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik." Ini mengajarkan bahwa tugas utama seorang da'i adalah menyampaikan risalah, dan hasil akhirnya diserahkan kepada kehendak Allah. Terlalu fokus pada reaksi negatif orang lain justru dapat melemahkan semangat dakwah.
Pelajaran penting lainnya adalah mengenai penciptaan manusia dari tanah liat kering yang kemudian ditiupkan roh, sebuah proses yang menunjukkan keagungan kekuasaan Allah. Ini juga menjadi bantahan keras terhadap klaim kesombongan mereka yang merasa lebih mulia dari manusia lain. Penciptaan Adam AS dan kisah penolakan Iblis untuk bersujud kepadanya (karena merasa lebih unggul dari ciptaan dari tanah) menjadi ilustrasi abadi tentang bahaya kesombongan dan keangkuhan intelektual atau spiritual.
Surah Al-Hijr menutup dengan penegasan mengenai akhir kehidupan dan hari perhitungan. Segala sesuatu memiliki batas waktu dan ketetapan dari Allah. Oleh karena itu, seorang mukmin harus senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan, bersabar dalam ujian, dan teguh pada akidah, sebagaimana keteguhan kaum Tsamud yang seharusnya mereka teladani (yaitu keimanan Nabi Shalih, bukan kekufuran mereka). Surah ini adalah pengingat komprehensif bahwa kebenaran akan menang, dan jalan menuju surga adalah jalan yang memerlukan keteguhan hati hingga akhir hayat.