Surah Al-Hijr adalah surah ke-15 dalam urutan mushaf, terdiri dari 99 ayat. Nama surah ini diambil dari kata "Al-Hijr" yang disebutkan dalam ayat ke-80, merujuk pada sebuah wilayah yang dihuni oleh kaum Tsamud, kaum Nabi Saleh AS. Surah ini tergolong surah Makkiyah, yang berarti diturunkan sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Kandungan utamanya berfokus pada penguatan akidah, peringatan bagi pendusta risalah kenabian, dan kisah-kisah teladan dari umat terdahulu.
Sebagai surah Makkiyah, Al-Hijr memainkan peran penting dalam meneguhkan hati Rasulullah SAW dan para sahabat di tengah tekanan kaum kafir Quraisy. Ayat-ayatnya penuh dengan penekanan akan keesaan Allah SWT, kebenaran Al-Qur'an, dan konsekuensi serius dari pengingkaran terhadap wahyu Ilahi. Meskipun singkat, kedalaman maknanya memberikan perspektif luas mengenai cara Allah membimbing hamba-Nya melalui sejarah peradaban.
Salah satu narasi utama dalam surah ini adalah kisah kaum Tsamud (ayat 80-84). Kaum Tsamud adalah masyarakat yang makmur dan kuat, yang hidup di daerah berbatu (Al-Hijr). Mereka dianugerahi mukjizat berupa unta betina yang keluar dari batu sebagai tanda kebenaran ajaran Nabi Saleh. Namun, alih-alih bersyukur dan beriman, mereka justru congkak, mendustakan Nabi Saleh, dan akhirnya menyembelih unta tersebut karena kesombongan dan permusuhan terhadap kebenaran.
Respons Allah terhadap kedurhakaan ini sangat jelas. Allah mengingatkan mereka akan kehancuran yang akan menimpa, sebagaimana yang terjadi pada kaum Luth sebelumnya. Kisah ini menjadi pelajaran abadi: kemakmuran materi dan kekuatan fisik tidak menjamin keselamatan jika diiringi dengan kesombongan dan penolakan terhadap petunjuk Ilahi. Penggambaran kehancuran kaum Tsamud berfungsi sebagai peringatan keras bagi kaum Quraisy pada masa itu, dan juga bagi umat Islam di sepanjang masa, bahwa keberanian dalam menentang wahyu akan berujung pada kehancuran.
Surah Al-Hijr juga dipenuhi dengan ayat-ayat yang mengajak perenungan tentang keagungan ciptaan Allah. Ayat-ayat yang membahas langit, bintang, dan proses tumbuhnya tanaman menunjukkan keahlian (hikmah) Sang Pencipta. Contohnya, Allah SWT berfirman tentang proses menghidupkan bumi setelah mati (seperti hujan yang menurunkan kehidupan), sebagai analogi atas kebangkitan manusia di hari kiamat.
Ayat 22 menarik perhatian khusus karena membahas tentang peniupan angin yang membawa benih-benih, yang kemudian ditafsirkan oleh para mufassir sebagai pengingat akan proses pembuahan alam, sekaligus sebagai metafora proses penyebaran dakwah. Ketika dakwah disebarkan (dihembuskan), ia akan membuahkan hasil di hati-hati yang siap menerimanya.
Di tengah kisah-kisah peringatan, Surah Al-Hijr juga mengisahkan tentang kesombongan Iblis (Setan) yang menolak bersujud kepada Adam (ayat 28-35). Penolakan ini didasari oleh rasa superioritas karena penciptaannya dari api, berbeda dengan Adam yang diciptakan dari tanah. Penolakan Iblis ini adalah puncak kesombongan intelektual dan spiritual, yang berujung pada kutukan dan ancaman penyesatan manusia hingga hari kiamat.
Sebagai penutup narasi spiritual, Surah Al-Hijr memberikan penegasan yang sangat menghibur bagi Rasulullah SAW dan umat-Nya. Pada ayat 9, Allah bersumpah untuk menjaga keaslian Al-Qur'an: "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." Janji ini adalah jaminan bahwa sumber petunjuk utama umat Islam akan tetap murni, tidak ternoda oleh upaya pengubahan atau kerusakan. Ini memberikan ketenangan bahwa meskipun tantangan dan gangguan (seperti godaan setan dan penolakan kaum kafir) datang silih berganti, Al-Qur'an akan tetap menjadi mercusuar yang tak terpadamkan.