Surah Al-Hijr, yang terdiri dari 99 ayat, adalah salah satu surat Makkiyah yang kaya akan kisah para nabi, peringatan keras terhadap pendustaan, dan penjelasan tentang keagungan penciptaan Allah SWT. Di tengah narasi tersebut, terdapat ayat spesifik yang menyingkap salah satu rahasia alam semesta yang dijaga oleh Sang Pencipta.
وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ
Artinya: "Dan sungguh, telah Kami tempatkan gugusan bintang-bintang (Buruuj) di langit dan Kami perindah bagi orang-orang yang memandang." (QS. Al-Hijr: 17)
Ayat ke-17 dari Surah Al-Hijr ini secara eksplisit membahas tentang struktur dan keindahan langit. Kata kunci dalam ayat ini adalah "Buruuj" (بُرُوجًا), yang secara harfiah berarti benteng-benteng besar, atau dalam konteks astronomi modern, sering diartikan sebagai gugusan bintang atau konstelasi yang membentuk jalur zodiak.
Allah SWT menegaskan bahwa penempatan gugusan bintang ini bukanlah tanpa tujuan. Ayat ini mengungkap dua fungsi utama dari penciptaan bintang-bintang tersebut: struktur (tempat) dan keindahan (hiasan).
Para mufassir terdahulu mengaitkan "Buruuj" dengan 12 gugusan bintang yang melintasi langit, yang berfungsi sebagai penanda musim dan waktu bagi manusia purba sebelum berkembangnya ilmu navigasi yang canggih. Hal ini memberikan petunjuk bagi perjalanan darat dan laut. Meskipun fungsi ini kini sebagian besar digantikan oleh teknologi, ayat ini tetap relevan sebagai bukti bahwa langit telah "diatur" secara sistematis oleh Allah. Struktur ini mencegah kekacauan kosmik.
Bagian kedua ayat, "Kami perindah bagi orang-orang yang memandang (لِلنَّاظِرِينَ)", menyoroti aspek visual dan spiritual. Langit malam yang bertabur bintang adalah pemandangan yang memukau dan menenangkan jiwa. Keindahan ini berfungsi sebagai 'rayuan' lembut dari Allah agar manusia mengangkat pandangan mereka dari urusan duniawi yang fana menuju ciptaan-Nya yang maha luas.
Dalam tafsir Ibnu Katsir, keindahan ini seringkali dipahami sebagai pemandangan yang menyenangkan mata, mengingatkan kita bahwa di balik tujuan praktis (seperti penunjuk arah), selalu ada dimensi estetika dalam ciptaan Allah.
Surah Al-Hijr ayat 17 sangat selaras dengan penemuan ilmiah modern mengenai galaksi dan tata surya. Ketika kita melihat bintang-bintang, kita sebenarnya sedang menyaksikan benteng-benteng cahaya yang jaraknya jutaan tahun cahaya. Ayat ini memberikan landasan teologis bahwa fenomena kosmik yang kita pelajari dalam astronomi adalah bagian dari desain ilahi yang sengaja dihias.
Bagi seorang mukmin, ayat ini adalah panggilan untuk tadabbur (perenungan mendalam). Mengapa Allah menciptakan begitu banyak bintang yang indah jika bukan untuk menunjukkan kekuasaan-Nya? Perenungan ini menumbuhkan rasa takzim dan syukur. Sebaliknya, bagi mereka yang angkuh, bintang-bintang ini adalah pengingat bahwa alam semesta jauh lebih besar daripada ego mereka.
Penting untuk memahami ayat 17 dalam konteksnya. Ayat sebelumnya (Al-Hijr: 16) berbicara tentang penciptaan bintang-bintang (Buruuj) dan juga tentang penciptaan planet-planet (Al-Jawar). Ayat setelahnya (Al-Hijr: 18) menjelaskan bahwa Allah menjaga langit dari setiap setan yang mencoba mencuri berita gaib.
Keterkaitan ini menunjukkan sebuah sistem keamanan kosmik yang terintegrasi: Langit dihiasi (ayat 17), dan sistem itu dijaga dari gangguan (ayat 18). Keindahan yang kita lihat adalah hasil dari pengaturan yang sangat ketat dan terencana. Hal ini kontras dengan klaim kaum musyrikin yang menyembah bintang atau percaya bahwa bintang-bintang itu memiliki kekuatan sendiri. Ayat ini menegaskan bahwa bintang-bintang hanyalah hiasan yang diciptakan dan tunduk sepenuhnya pada kehendak Allah SWT.
Dengan merenungkan Surah Al-Hijr ayat 17, seorang Muslim diingatkan bahwa keindahan alam semesta adalah tanda (ayat) yang nyata dari Keesaan Allah. Setiap bintang adalah bukti kemahakuasaan Sang Pencipta yang telah mengatur segalanya dengan presisi sempurna, dari gugusan galaksi terjauh hingga tetesan embun di pagi hari.