Sebuah Renungan Mendalam Tentang Perjalanan Agung dan Janji Kebenaran
Ilustrasi simbolis perjalanan Isra' Mi'raj
Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-MasjidilAqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Ayat pembuka Surah Al-Isra ini adalah landasan utama bagi peristiwa Isra' Mi'raj. Kata "Subhanallah" (Mahasuci Allah) langsung menegaskan bahwa peristiwa luar biasa ini—perjalanan di malam hari dari Mekkah ke Baitul Maqdis (Yerusalem)—adalah murni kuasa dan kehendak Ilahi, bukan rekayasa akal manusia. Allah menunjukkan tanda kebesaran-Nya, membuktikan bahwa batas-batas fisik tidak berlaku bagi-Nya. Ini adalah penguatan bagi Rasulullah ﷺ di tengah tantangan dakwah.
Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman), "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku."
Setelah menyinggung keajaiban Isra', Allah mengingatkan tentang wahyu terdahulu. Pemberian Taurat kepada Nabi Musa AS adalah sebuah rahmat. Ayat ini menekankan inti ajaran monoteistik: bertawakal hanya kepada Allah. Ini adalah pesan universal yang berlaku bagi umat Nabi Muhammad ﷺ juga, yakni menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran dan pelindung.
Ayat selanjutnya (Ayat 3-4) berbicara tentang keturunan orang-orang yang diselamatkan bersama Nuh AS, serta konsekuensi dari perbuatan baik dan buruk Bani Israil di masa lalu. Mereka diingatkan bahwa kerusakan yang mereka lakukan di muka bumi dua kali lipat akan dibalas, dan bahwa kesombongan mereka akan dihancurkan oleh hamba-hamba Allah yang perkasa.
Dua kali kehancuran yang disebutkan dalam konteks Bani Israil merujuk pada penyerbuan dan perusakan Yerusalem oleh musuh-musuh mereka, sebagai akibat dari pembangkangan mereka terhadap perintah Allah. Ayat 7 secara tegas menyatakan, "Jika kamu berbuat baik, maka kebaikan itu untuk dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri." Ini adalah hukum sebab akibat yang abadi. Jika mereka kembali berbuat kerusakan (Ayat 8), Allah akan mendatangkan musuh lagi, namun kali ini Allah memberikan kesempatan untuk bertaubat, dan jika mereka bertaubat, niscaya Allah akan mengampuni mereka.
Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa mereka akan mendapatkan pahala yang besar.
Setelah meninjau sejarah kenabian dan konsekuensi dari perbuatan manusia, Allah menegaskan posisi Al-Qur'an sebagai panduan tertinggi. Ayat 9 adalah puncak penegasan kemuliaan Islam. Al-Qur'an bukan sekadar kitab sejarah atau cerita, melainkan kompas hidup yang menuntun menuju jalan yang paling lurus (*aqwam*), yakni jalan tauhid dan kebajikan.
Ayat 10 melengkapi janji ini dengan kabar gembira bagi mereka yang mengaplikasikan petunjuk tersebut. Janji pahala besar menanti orang-orang beriman yang konsisten dalam amal saleh mereka. Ini adalah dorongan agar umat Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya mengagumi mukjizat Isra' Mi'raj, tetapi juga menjadikan Al-Qur'an sebagai pondasi utama kehidupan mereka, mengikuti jalan yang telah dibuktikan kebenarannya melalui tanda-tanda alam dan sejarah.
Sepuluh ayat pertama Surah Al-Isra berfungsi sebagai prolog yang kuat. Ayat 1 memperkenalkan mukjizat tertinggi yang diterima Nabi ﷺ. Selanjutnya, Allah menghubungkan peristiwa agung ini dengan pewarisan wahyu sebelumnya (Musa AS), memberikan pelajaran moral tentang keadilan Ilahi (sebab-akibat), dan puncaknya, menetapkan Al-Qur'an sebagai petunjuk final yang menjamin kebahagiaan abadi bagi mereka yang mengikutinya dengan tulus.