Memahami Keagungan Malam Isra' Mi'raj

Tafsir Surah Al-Isra Ayat 1 sampai 3

Surah Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Surah Bani Isra'il, adalah salah satu surah penting dalam Al-Qur'an yang menceritakan kisah perjalanan agung Nabi Muhammad SAW, yaitu Isra' Mi'raj. Tiga ayat pertama dari surah ini menjadi pembuka yang sarat makna, menegaskan keagungan Allah SWT dan memulai narasi peristiwa luar biasa tersebut.

Perjalanan Malam Yang Agung

Ilustrasi Metaforis Perjalanan Isra'

Ayat Pertama: Penegasan Kekuasaan Allah

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Sub-hānal-ladzī asrā bi-‘abdi-hī lailam minal-Masjidi al-Ḥarāmi ilal-Masjidi al-Aqsal-ladzī bāraknā hawlahu li-nuriyahū min āyātinā, innahū Huwas-Samī‘ul-Baṣīr.
Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke MasjidilAqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Ayat pertama ini dibuka dengan kata 'Subhana' (Maha Suci), sebuah pengakuan langsung terhadap keunikan dan kesempurnaan Allah SWT. Kata ini digunakan untuk mengagungkan Allah dari segala kekurangan atau keraguan manusia. Peristiwa yang terjadi adalah Isra', yaitu perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem.

Penting dicatat bahwa perjalanan ini terjadi "pada suatu malam" (lailan), menegaskan sifat mukjizatnya yang melampaui batas-batas fisika yang biasa. Allah tidak hanya menyebut tempat keberangkatan (Al-Haram), tetapi juga tempat tujuan yang diberkahi (Al-Aqsa), menunjukkan pentingnya kedua tempat suci tersebut dalam Islam. Tujuan utama perjalanan ini adalah untuk menunjukkan kepada Nabi SAW sebagian dari 'Ayat' (tanda-tanda kebesaran) Allah. Ayat ini ditutup dengan penegasan sifat Allah sebagai Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat, menegaskan bahwa Dia menyaksikan seluruh peristiwa agung ini.

Ayat Kedua: Penegasan Kenabian dan Pemberian Wahyu

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِن دُونِي وَكِيلًا
Wa ātainā Mūsāl-Kitāba wa ja‘alnāhu hudan li-Banī Isrā’īla allā tattakhidhū min dūnī wakīlā.
Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil, (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku."

Setelah merujuk pada mukjizat Nabi Muhammad SAW, Allah kemudian mengingatkan tentang mukjizat dan petunjuk yang diberikan kepada Nabi Musa AS. Ayat kedua ini menegaskan bahwa Kitab Taurat diberikan kepada Musa sebagai petunjuk bagi Bani Israil. Ini adalah bagian dari pola Al-Qur'an, di mana kisah-kisah nabi terdahulu sering disisipkan untuk memberikan pelajaran dan validasi bagi wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW.

Pesan sentral dalam ayat ini adalah larangan keras untuk menjadikan selain Allah sebagai "Wakil" (pelindung, penolong, atau pemelihara). Penekanan ini sangat relevan karena Bani Israil (keturunan Ya'qub) sering kali berpaling dari ajaran tauhid murni dan bergantung pada kekuatan materi atau manusia lainnya. Bagi umat Nabi Muhammad SAW, ayat ini berfungsi sebagai pengingat konstan bahwa ketergantungan sejati hanya layak ditujukan kepada Sang Pencipta.

Ayat Ketiga: Konsekuensi Menyimpang dari Jalan Tauhid

ذُرِّيَّةَ مَنْ مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
Dhurriyyata man ma‘a Nūhin, innahū kāna ‘abdan syakūrā.
(Yaitu) keturunan orang-orang yang Kami selamatkan bersama menuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah seorang hamba yang sangat bersyukur.

Ayat ketiga ini sering dihubungkan dengan ayat kedua, merujuk kepada siapa yang dimaksud dengan "keturunan" yang menerima petunjuk. Secara umum, para mufassir menafsirkan bahwa ini adalah keturunan dari orang-orang yang diselamatkan bersama Nabi Nuh AS dalam bahtera. Ini menunjukkan kesinambungan risalah tauhid dari masa ke masa.

Penutup ayat dengan pujian terhadap Nabi Nuh AS sebagai "hamba yang sangat bersyukur" (Abdan Syakūrā) memberikan pelajaran moral yang mendalam. Rasa syukur adalah kunci penerimaan nikmat dan rahmat Ilahi. Allah menekankan bahwa mereka yang menerima petunjuk terbaik adalah mereka yang meneladani para nabi dalam ketaatan dan kesyukuran, bukan mereka yang mengabaikan peringatan dan jatuh ke dalam kesyirikan atau penyimpangan yang dilarang pada ayat sebelumnya.

Secara keseluruhan, tiga ayat pembuka Surah Al-Isra ini adalah fondasi yang kuat. Ayat pertama menyajikan keajaiban wahyu melalui mukjizat fisik (Isra'), sementara ayat kedua dan ketiga menguatkan pesan inti tauhid, mengingatkan umat bahwa kebahagiaan sejati terletak pada ketaatan total dan rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT, sebagaimana dicontohkan oleh para nabi terdahulu.

🏠 Homepage