Surah Al-Isra, atau juga dikenal sebagai Al-Isra wal Mi'raj, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan makna dan pelajaran penting bagi umat Islam. Salah satu ayat yang sering menjadi pembahasan adalah ayat ke-100, yang secara spesifik membahas tentang batasan rezeki dan kekhawatiran manusia terhadap kemiskinan.
Teks dan Terjemahan Surah Al-Isra Ayat 100
وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا
Artinya: Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan jangan pula kamu mengulurkannya sebebas-bebasnya (boros), karena itu akan menyebabkan kamu menjadi tercela dan menyesal.
Konteks Ayat dan Pelajaran Keuangan dalam Islam
Ayat ke-100 Surah Al-Isra ini memberikan pedoman etika finansial yang sangat jelas bagi seorang Muslim. Allah SWT mengajarkan keseimbangan dalam mengelola harta benda. Ayat ini bukan sekadar larangan, melainkan sebuah panduan menuju moderasi, yang merupakan inti dari banyak ajaran Islam.
Allah SWT memerintahkan untuk menghindari dua ekstrem: kekikiran (isyraf) dan pemborosan (tabdzir). Ketika tangan dibelenggu pada leher (kikir), seseorang menahan diri dari menafkahkan harta di jalan yang benar, termasuk sedekah, infak, atau membantu sesama yang membutuhkan. Sikap ini seringkali didorong oleh rasa takut berlebihan akan kemiskinan di masa depan.
Kekhawatiran akan Kemiskinan (Kikir)
Banyak orang merasa terdorong untuk menimbun harta karena takut tidak memiliki cukup untuk hari esok. Namun, ayat ini mengingatkan bahwa sikap kikir tersebut pada akhirnya akan membawa pada penyesalan (mahsuran). Seseorang yang kikir mungkin hidup dalam kelimpahan materi, tetapi ia kehilangan keberkahan dan pahala karena tidak berbagi. Ketika ia membutuhkan pertolongan atau dihadapkan pada kenyataan bahwa harta tidak bisa dibawa mati, ia akan menyesal karena tidak memanfaatkan hartanya untuk kebaikan.
Bahaya Pemborosan (Boros)
Di sisi lain, ayat ini juga melarang keras sikap pemborosan, yaitu mengulurkan tangan sebebas-bebasnya. Ini berarti menghabiskan harta tanpa perhitungan, tidak pada tempatnya, atau dalam bentuk yang tidak bermanfaat (israf). Sikap boros akan membuat seseorang jatuh dalam kehinaan (maluman). Harta yang dimiliki akan habis sia-sia, dan ketika ia membutuhkan, ia tidak memiliki apa-apa lagi, sehingga ia harus meminta-minta atau menanggung malu.
Keseimbangan: Jalan Tengah (Wasathiyah)
Inti dari ayat ini adalah konsep wasathiyah, yaitu jalan tengah. Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi pribadi yang dermawan namun bijaksana. Memberi sedekah atau menafkahkan harta dianjurkan, tetapi harus dilakukan dengan pertimbangan yang matang. Kita harus mampu membedakan antara kebutuhan (hajat) dan keinginan (hasrat), serta memastikan bahwa pengeluaran kita sesuai dengan kemampuan dan prioritas agama.
Ayat ini juga dapat dipahami dalam konteks rezeki. Ketika kita kikir karena takut miskin, kita secara tidak langsung meragukan janji Allah SWT. Sebaliknya, ketika kita boros, kita seolah-olah tidak menghargai nikmat yang telah diberikan. Keseimbangan inilah yang akan mendatangkan keberkahan dalam pengelolaan harta.
Hubungan dengan Ayat Sebelumnya dan Sesudahnya
Surah Al-Isra ayat 99 menegaskan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk memberikan kekayaan atau kemiskinan. Ketika kita memahami kekuasaan mutlak Allah dalam ayat sebelumnya, maka ayat 100 menjadi sangat relevan: jangan kikir karena takut miskin, karena pemberi rezeki sejati adalah Allah. Jangan pula boros, karena harta tersebut adalah titipan yang harus dipertanggungjawabkan.
Dengan memahami Surah Al-Isra ayat 100, seorang Muslim diajak untuk membangun hubungan yang sehat dengan dunia materi. Harta adalah alat untuk beribadah dan sarana untuk membantu sesama, bukan tujuan akhir yang harus ditimbun atau dihambur-hamburkan tanpa kendali.
Mengimplementasikan ajaran ayat ini berarti kita berusaha mencapai kemerdekaan finansial yang sejati, yaitu kebebasan dari belenggu kekikiran dan pemborosan, sehingga kita bisa hidup dengan tenang, terhormat, dan penuh syukur di hadapan Allah SWT.
Ayat ini mengajarkan bahwa keseimbangan dalam berbagi adalah kunci untuk menghindari penyesalan duniawi dan ukhrawi. Dengan bersikap moderat, kita menjaga kehormatan diri dan memaksimalkan manfaat harta yang kita miliki untuk meraih keridhaan Allah.
Secara keseluruhan, Surah Al-Isra ayat 100 adalah pilar penting dalam etika ekonomi Islam. Ia mengajarkan manajemen keuangan yang bertanggung jawab, menumbuhkan rasa percaya penuh kepada rezeki dari Allah, serta mendorong umat untuk hidup hemat, dermawan, dan tidak berlebihan dalam segala aspek kehidupan finansial.