Mengkaji Surah Al-Isra Ayat 101

Simbol Mukjizat dan Cahaya Ilahi Representasi visual dari mukjizat berupa sembilan tanda nyata (sembilan ayat) yang diminta. Al-Kitab

Teks dan Terjemahan Surah Al-Isra Ayat 101

قُلْ لَوْ أَنَّ مَعِي خَزَائِنُ رَبِّي أَوْ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاِتَّخَذْتُ مِنَ الْعَجَلَةِ إِنْ كُنْتُ فَاعِلًا إِنَّمَا أَمْرِي إِلَّا مَهْلَةٌ
Katakanlah: "Sekiranya aku mempunyai perbendaharaan Tuhanmu, atau aku mengetahui yang gaib, tentulah (semua hartaku) telah kuhabiskan (untuk memerdekakan kaumku); dan sekali-kali aku tidak akan meminta mereka (untuk beriman)." (Ayat ini seringkali berlanjut hingga bagian kedua yang membahas sembilan mukjizat, namun fokus utama pada konteks permintaan kaum musyrik).

Konteks Permintaan Mukjizat

Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, membawa narasi penting mengenai perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dan memberikan banyak pelajaran tauhid serta etika sosial. Ayat 101, serta ayat-ayat yang mendahuluinya (khususnya ayat 90-93), menyoroti tantangan yang dihadapi Rasulullah SAW dari kaum musyrik Mekkah. Kaum Quraisy, yang keras kepala dan menolak kebenaran risalah, tidak pernah puas dengan bukti-bukti kenabian yang telah disampaikan. Mereka terus menuntut bukti-bukti fisik yang spektakuler, mirip dengan tuntutan yang pernah diajukan kepada nabi-nabi terdahulu.

Tuntutan mereka adalah agar Nabi Muhammad membuktikan kebenarannya dengan mendatangkan mukjizat yang kasat mata, bahkan meminta agar gunung-gunung diubah menjadi kebun buah, atau agar langit terbelah dan menurunkan kitab dari surga. Tuntutan ini bukan didasari keinginan tulus untuk beriman, melainkan sebagai bentuk pembangkangan dan upaya untuk mempermalukan Nabi di hadapan publik.

Jawaban Ilahi: Keterbatasan Manusia dan Kekuasaan Tuhan

Ayat 101 (dan bagian kelanjutannya, yaitu ayat 102) adalah jawaban langsung dari Allah SWT melalui lisan Nabi Muhammad SAW. Ayat ini menegaskan dua poin krusial mengenai posisi kenabian. Pertama, Nabi Muhammad adalah seorang manusia biasa, bukan Tuhan yang memiliki kendali atas perbendaharaan rezeki (khazain Rabbika) atau memiliki pengetahuan mutlak tentang yang gaib (alamul ghaib). Jika beliau memiliki kekuasaan tersebut, tentu beliau akan menggunakannya untuk kemaslahatan umat, namun kekuasaan itu sepenuhnya berada di tangan Allah.

Ayat ini secara tegas membatasi klaim pseudo-ketuhanan yang mungkin disematkan oleh para penentang. Nabi diutus sebagai penyampai wahyu, bukan sebagai pemilik kekuasaan alam semesta. Penolakan untuk memenuhi permintaan mukjizat yang tidak diminta oleh Allah sendiri menunjukkan kedalaman ketaatan dan integritas Rasulullah. Beliau tidak akan memaksa keimanan. Keimanan sejati harus lahir dari kesadaran hati, bukan dari paksaan tanda-tanda eksternal yang sifatnya sementara.

Sembilan Tanda Nyata (Mukjizat Terpenuhi)

Walaupun ayat 101 lebih fokus pada penolakan permintaan mukjizat yang tidak disyariatkan, konteks keseluruhan Al-Isra ayat 90-102 merujuk pada jawaban Allah atas permintaan mereka untuk mukjizat. Allah SWT memerintahkan Nabi untuk mengatakan bahwa mukjizat yang telah disajikan kepada mereka jauh lebih besar daripada yang mereka minta. Sebagian besar mufassir menafsirkan bahwa mukjizat yang dimaksud adalah sembilan tanda nyata (تسع آيات بينات) yang diberikan kepada Nabi Musa AS dalam kisahnya melawan Fir’aun, atau merujuk pada tanda-tanda kebesaran Al-Qur'an itu sendiri.

Al-Qur'an adalah mukjizat terbesar yang abadi hingga akhir zaman. Berbeda dengan mukjizat kenabian terdahulu yang bersifat temporal (seperti tongkat Nabi Musa yang kembali menjadi ular lalu hilang), Al-Qur'an tetap ada dan dapat diakses oleh setiap generasi. Keindahan bahasanya, kedalaman maknanya, dan kebenaran berita yang dikandungnya berfungsi sebagai bukti yang terus menerus menantang siapa pun yang meragukannya. Ayat ini mengajarkan bahwa bukti yang paling kuat bukanlah tontonan sesaat, melainkan kebenaran yang bertahan lama dan mengubah hati.

Implikasi Bagi Umat Islam Saat Ini

Pelajaran dari Surah Al-Isra ayat 101 sangat relevan hingga kini. Umat Islam sering kali menghadapi keraguan atau tekanan dari pihak luar untuk membuktikan kebenaran Islam melalui 'demonstrasi' kekuatan atau logika yang semata-mata bersifat duniawi. Ayat ini mengingatkan kita bahwa dasar keimanan kita bukanlah pada kemampuan kita meyakinkan orang lain dengan kekuatan duniawi (harta atau ilmu gaib), melainkan pada kepatuhan kita terhadap wahyu yang telah ditetapkan Allah SWT.

Fokus harus tetap pada penyampaian risalah dengan hikmah (kebijaksanaan) dan mau'izah hasanah (nasihat yang baik), sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Mukjizat sejati seorang Muslim adalah Al-Qur'an itu sendiri, dan tugas kita adalah memahami, menghayati, serta mengamalkannya, bukan berdebat tentang permintaan tanda-tanda yang sudah berlalu atau tidak relevan dengan pesan inti kenabian. Penegasan bahwa urusan keimanan adalah urusan hati dan pilihan sadar, menegaskan martabat kebebasan berkehendak manusia di hadapan Allah.

🏠 Homepage