Ilustrasi: Perintah untuk memasuki wilayah baru.
(Musa) berkata, "Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Baitul Maqdis) yang telah dijanjikan Allah untukmu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (menjadi orang-orang yang murtad), karena kamu akan menjadi orang-orang yang merugi."
Surah Al-Ma'idah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surah Madaniyah yang sarat dengan berbagai peraturan hukum, kisah kenabian, dan perjanjian dengan Bani Israil. Ayat ke-21 ini memegang peranan krusial dalam narasi sejarah Musa AS dan kaumnya. Ayat ini merekam momen penting ketika Musa diperintahkan oleh Allah SWT untuk memimpin umatnya memasuki Palestina (tanah yang disucikan atau Baitul Maqdis) setelah mereka keluar dari penindasan Firaun di Mesir.
Perintah ini datang setelah serangkaian ujian dan nikmat yang telah Allah berikan. Namun, respons kaum Bani Israil terhadap perintah ini sungguh menyedihkan. Mereka menunjukkan sikap takut, ragu-ragu, dan ketidakpatuhan yang mendalam, yang kemudian berujung pada penolakan mereka untuk maju berperang melawan penduduk asli tanah tersebut yang mereka anggap kuat.
Pesan utama dari Surah Al-Ma'idah ayat 21 bukanlah sekadar perintah geografis, melainkan pelajaran fundamental mengenai pentingnya keberanian yang dilandasi keimanan. Musa AS menggunakan panggilan penuh kasih sayang, "Wahai kaumku!", untuk menarik perhatian mereka sebelum menyampaikan perintah ilahi. Hal ini mengajarkan kita tentang metode dakwah yang persuasif dan penuh empati.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "adkhulū al-ardha al-muqaddasah" (Masuklah ke tanah suci). Tanah ini dijanjikan Allah, yang berarti keberhasilannya terjamin asalkan ada kepatuhan penuh. Janji Allah selalu benar, tetapi implementasinya membutuhkan usaha aktif dari pihak manusia. Kelalaian mereka bukan hanya kegagalan meraih hadiah, tetapi juga pembangkangan terhadap perintah langsung dari Sang Pencipta.
Ancaman yang disematkan dalam ayat ini sangat tegas: "wa lā tartaddū ‘alā adbārikum fatanqalibū khāsirīn" (dan janganlah kamu berbalik ke belakang, karena kamu akan menjadi orang-orang yang merugi). Kata "irtidād" (berbalik ke belakang) melambangkan kemunduran spiritual, keraguan yang mematikan, dan penolakan terhadap takdir yang telah ditetapkan Allah demi kenyamanan sesaat atau ketakutan yang tidak beralasan.
Kerugian (khasārah) yang dimaksud di sini jauh melampaui kerugian duniawi. Mereka kehilangan kesempatan emas untuk mewarisi bumi, menikmati kemerdekaan, dan mencapai kehormatan di sisi Allah. Kerugian sejati adalah kehilangan hubungan yang benar dengan Allah akibat pembangkangan. Dalam konteks yang lebih luas, ayat ini menjadi peringatan abadi bagi setiap generasi Muslim: ketika jalan kemajuan dan kebenaran (yang diridai Allah) terbuka, berpaling darinya adalah resep pasti menuju kehancuran dan penyesalan.
Meskipun konteks historisnya spesifik, semangat Al-Ma'idah ayat 21 tetap relevan hingga kini. Bagi umat Islam modern, "tanah suci" dapat diinterpretasikan sebagai cita-cita kolektif untuk membangun peradaban yang Islami, menegakkan keadilan, atau mencapai kemajuan ilmu pengetahuan sesuai koridor syariat.
Rintangan yang dihadapi kaum Musa—keraguan diri, godaan untuk kembali ke zona nyaman yang penuh kemudahan tetapi penuh penindasan (seperti perbudakan di Mesir), dan rasa gentar terhadap musuh—adalah rintangan yang sama yang dihadapi umat saat ini. Ayat ini mengingatkan bahwa kemenangan memerlukan keberanian untuk melangkah maju melewati ketakutan dan meninggalkan mentalitas korban. Ketika sebuah umat diperintahkan untuk melakukan perubahan positif yang diridai Allah, penundaan atau penolakan karena merasa "belum siap" atau "terlalu sulit" adalah bentuk "berbalik ke belakang" yang pasti membawa kerugian abadi.