Surah Al-Isra Ayat 17 dan Terjemahan

📖 Tafakkur & Hikmah

Visualisasi konsep wahyu dan bimbingan ilahi.

وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِنْ بَعْدِ نُوحٍ ۖ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا 17
Terjemahan: Dan berapa banyak umat (kaum) yang telah Kami binasakan setelah Nuh. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa-dosa hamba-Nya.

Konteks dan Penjelasan Surah Al-Isra Ayat 17

Ayat ketujuh belas dari Surah Al-Isra (atau dikenal juga sebagai Bani Israil) ini berfungsi sebagai pengingat yang kuat mengenai keadilan dan kekuasaan mutlak Allah SWT. Ayat ini ditempatkan setelah serangkaian peringatan keras tentang penghancuran umat-umat pendahulu yang menolak ajaran para nabi. Jika pada ayat sebelumnya (Ayat 16) Allah SWT menjelaskan bahwa Dia menghancurkan sebuah negeri jika diperintahkan untuk berbuat demikian karena kezaliman mereka, maka ayat 17 ini memberikan contoh historis yang lebih luas.

Peringatan Terhadap Kaum Nabi Nuh

Ayat ini secara spesifik menyebutkan "setelah Nuh". Nabi Nuh AS diutus untuk kaumnya yang telah tenggelam dalam kemusyrikan dan maksiat. Setelah kaum Nabi Nuh dibinasakan oleh banjir besar, Allah terus memberikan kesempatan kepada generasi-generasi setelahnya untuk beriman dan taat. Namun, sejarah berulang; banyak peradaban besar yang muncul dan kemudian hancur karena perilaku mereka sendiri. Contoh kaum 'Ad, Tsamud, dan lain-lain, semuanya adalah bukti nyata bahwa kemakmuran duniawi tidak menjamin kekekalan jika diikuti dengan pembangkangan terhadap perintah Ilahi.

Kefanaan Dunia dan Kekuasaan Ilahi

Poin utama yang ingin ditekankan adalah kefanaan kehidupan duniawi. Tidak peduli seberapa kuat suatu bangsa, seberapa canggih peradaban mereka, atau seberapa besar kekayaan yang mereka kumpulkan, semua itu bisa musnah dalam sekejap atas kehendak Allah. Ayat ini menekankan bahwa Allah tidak pernah lalai dalam mengawasi tindakan hamba-Nya.

Frasa "Kafaa bi Rabbika bi dhunubi 'ibadihi Khabiran Bashira" (Cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa-dosa hamba-Nya) adalah penutup yang sangat tegas. Kata Khabir (Maha Mengetahui) mengimplikasikan pengetahuan Allah yang mendalam tentang niat dan motif tersembunyi, sementara Bashir (Maha Melihat) menegaskan bahwa setiap tindakan fisik, sekecil apapun, tidak luput dari pandangan-Nya. Ini memberikan jaminan bagi orang yang beriman bahwa kezaliman tidak akan dibiarkan selamanya, dan merupakan ancaman serius bagi mereka yang berbuat kerusakan di muka bumi dengan keyakinan bahwa perbuatan mereka tersembunyi.

Hikmah dalam Kehidupan Modern

Di tengah kemajuan teknologi dan materialisme yang sering kali membuat manusia merasa superior dan lupa akan asal usul mereka, Surah Al-Isra ayat 17 ini menjadi koreksi spiritual yang sangat relevan. Ia mengingatkan kita bahwa keberlanjutan sebuah komunitas atau bangsa sangat bergantung pada moralitas dan ketaatan spiritualnya, bukan semata-mata pada kekuatan militer atau ekonomi. Ketika suatu masyarakat tenggelam dalam kerusakan moral, korupsi, dan penindasan, ayat ini menjadi isyarat bahwa siklus kehancuran historis bisa saja terulang.

Oleh karena itu, ayat ini mendorong umat Islam untuk senantiasa berintrospeksi (muhasabah). Kehidupan yang dijalani haruslah dipertanggungjawabkan. Setiap keputusan yang diambil, baik secara individu maupun kolektif, dicatat dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Dzat yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui segalanya. Memahami ayat ini berarti menanamkan kesadaran bahwa keadilan Allah itu absolut, meskipun implementasinya mungkin tampak tertunda di mata manusia.

Kesimpulan dari ayat mulia ini adalah pelajaran abadi tentang konsekuensi perbuatan. Allah SWT telah memberikan teladan dari masa lalu—dari zaman setelah Nuh hingga masa kini—bahwa kesombongan dan pengabaian terhadap nilai-nilai ketuhanan pasti berujung pada keruntuhan. Hanya dengan mengingat bahwa Dia adalah Maha Mengetahui dan Maha Melihat, seorang mukmin dapat hidup dengan integritas dan menghindari kezaliman, baik terhadap sesama maupun terhadap diri sendiri.

🏠 Homepage