Terjemahan (Kemenag RI): Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang harta rampasan (Al-Anfal). Katakanlah, "Harta rampasan itu adalah milik Allah dan Rasul-Nya." Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan batin (sesama kamu), dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman.
Ilustrasi Konsep Keseimbangan Iman dan Tindakan Sosial.
Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Surah Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat 176 menjadi penutup surah ini dan memiliki latar belakang historis yang erat kaitannya dengan pembagian harta rampasan perang, khususnya setelah Perang Badar, meskipun beberapa mufasir menyebutkan konteks lain yang lebih umum.
Pertanyaan mengenai "Al-Anfal" (harta rampasan perang) menunjukkan adanya ketidakjelasan atau perselisihan di antara para sahabat mengenai pembagian hasil perjuangan. Dalam konteks ini, Allah SWT memberikan jawaban yang tegas dan prinsipil melalui lisan Nabi Muhammad SAW.
Ayat ini tidak hanya menyelesaikan masalah administratif mengenai harta, tetapi yang jauh lebih penting, ayat ini menetapkan tiga prinsip fundamental yang harus ditegakkan oleh komunitas Muslim sejati:
Meskipun ayat ini berbicara spesifik tentang harta rampasan, maknanya meluas jauh melampaui konteks perang. Ayat ini mengajarkan sebuah formula kebahagiaan komunal dan spiritual: Keseimbangan antara hubungan vertikal (dengan Tuhan) dan hubungan horizontal (dengan sesama manusia).
Banyak masalah kontemporer yang dihadapi umat, baik dalam skala kecil (keluarga) maupun besar (organisasi atau negara), sering kali berakar pada kegagalan mempraktekkan dua poin tengah ayat ini: keengganan untuk bertakwa yang memicu keserakahan, dan kegagalan memperbaiki hubungan sesama yang memicu perpecahan. Ketika hubungan internal retak, ketaatan pada aturan bersama pun akan melemah.
Penekanan pada kepemilikan akhir Allah dan Rasul-Nya seharusnya menumbuhkan sikap qana'ah (merasa cukup) dan keikhlasan. Jika seorang mukmin memahami bahwa segala rezeki—termasuk keuntungan tak terduga—berasal dari Sumber Yang Sama, ia akan lebih mudah menyerahkan klaim pribadinya demi kebaikan kolektif dan tunduk pada aturan yang ditetapkan oleh otoritas ilahi.
Ayat penutup Al-Isra' ini berfungsi sebagai pengingat abadi bahwa iman yang sesungguhnya bukan hanya ritual pribadi di ruang hampa, melainkan manifestasi nyata dalam perilaku etis dan sosial kita sehari-hari. Tanpa perbaikan hubungan sesama, klaim keimanan menjadi rapuh, terancam oleh perselisihan internal yang dihindari oleh perintah "Perbaikilah hubungan batin kalian."