Al-Qur'anul Karim adalah pedoman hidup yang menyeluruh, mengatur setiap aspek kehidupan seorang Muslim, mulai dari ibadah ritual hingga etika sosial dan ekonomi. Di antara sekian banyak ayat yang memberikan pencerahan, Surah Al-Isra (Surah ke-17) menyajikan dua ayat penting yang seringkali menjadi pengingat fundamental mengenai prioritas hidup: Ayat 18 dan Ayat 27.
Ayat ke-18 ini merupakan peringatan keras dari Allah SWT. Intinya adalah tentang pilihan kesadaran dan tujuan hidup. Ayat ini menegaskan bahwa jika seseorang menjadikan duniawi—harta, kekuasaan, kesenangan sesaat—sebagai satu-satunya fokus dan orientasi utama dalam setiap tindakannya, maka Allah mungkin akan mengabulkan sebagian keinginan duniawinya itu. Namun, janji ini datang dengan konsekuensi yang sangat pedih: tempat kembali yang hina di akhirat, yaitu Neraka Jahannam.
Konsep "menghendaki yang cepat" (العاجلة - al-'ajilah) merujuk pada upaya yang hanya berorientasi pada hasil instan atau keuntungan duniawi semata, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang di hadapan Allah. Muslim didorong untuk tidak terjebak dalam ilusi kesenangan fana ini. Dunia ini hanyalah ladang tanam, sementara hasil panen sesungguhnya dinanti di kehidupan yang abadi.
Jika ayat 18 berbicara tentang fokus tujuan, maka ayat 27 memberikan panduan praktis bagaimana seharusnya seorang Muslim memperlakukan nikmat yang diberikan Allah, khususnya dalam konteks finansial. Ayat ini secara tegas melarang perilaku pemborosan (تبذیر - tabdzir).
Kata 'saudara syaitan' menunjukkan betapa buruknya sifat boros dalam pandangan Islam. Boros bukan hanya berarti menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak berguna, tetapi juga penggunaan sumber daya—waktu, energi, dan harta—secara tidak bertanggung jawab, melampaui batas kebutuhan dan jauh dari adab. Ayat ini menekankan bahwa kesyukuran sejati ditunjukkan melalui pengelolaan yang bijak. Orang yang boros menempatkan dirinya sejajar dengan sifat dasar syaitan, yaitu kekufuran dan ketidakpatuhan kepada Allah Sang Pemberi rezeki.
Kedua ayat ini saling melengkapi dalam membangun kerangka berpikir seorang Muslim. Ayat 18 menetapkan visi (akhirat adalah tujuan akhir), sementara Ayat 27 memberikan etika tindakan (kelola sarana dunia dengan bijaksana).
Seorang Muslim yang beriman kepada kehidupan akhirat (Ayat 18) secara otomatis akan terhindar dari ambisi duniawi yang berlebihan. Karena ia tahu bahwa setiap kenikmatan duniawi hanyalah titipan sementara, ia akan cenderung untuk tidak memboroskannya. Ia menyadari bahwa harta yang ia miliki harus digunakan untuk mencari keridhaan Allah, bukan untuk memuaskan hawa nafsu sesaat.
Sebaliknya, jika seseorang cenderung boros (melanggar Ayat 27), ini adalah indikasi kuat bahwa prioritas utamanya masih berpusat pada dunia (mengamini makna terbalik dari Ayat 18). Pemborosan adalah manifestasi dari kelalaian terhadap perhitungan akhirat. Ketika seseorang boros, ia seolah-olah berkata, "Dunia ini adalah satu-satunya yang ada, dan aku harus menikmatinya sekarang juga tanpa memikirkan konsekuensinya."
Oleh karena itu, memahami Surah Al-Isra ayat 18 dan 27 secara bersamaan mendorong umat Islam untuk menjalani hidup dengan prinsip Tawazun (keseimbangan). Nikmatilah rezeki duniawi sesuai porsi, gunakanlah untuk ketaatan, dan selalu ingat bahwa tujuan utama kita adalah meraih keridhaan abadi di sisi Allah SWT.