Surah Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an yang sarat dengan pesan-pesan moral, akidah, dan hukum. Bagian ayat 40 hingga 55 secara khusus memuat penekanan penting mengenai keesaan Allah, etika terhadap orang tua, serta penolakan terhadap praktik syirik yang menyesatkan.
Ilustrasi konsep keesaan dan petunjuk ilahi.
Penegasan Tauhid dan Penolakan Syirik (Ayat 40-44)
Ayat-ayat ini dimulai dengan penegasan tegas mengenai keesaan Allah dan bantahan terhadap anggapan bahwa Allah memiliki anak atau sekutu. Ini adalah fondasi akidah Islam yang sangat ditekankan dalam Al-Qur'an.
وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِمَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَىٰ بَعْضٍ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا (44)
Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang ada di langit dan di bumi. Dan sungguh, Kami telah memberikan kelebihan kepada sebagian nabi-nabi atas sebagian yang lain, dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (QS. Al-Isra: 44)
Allah menegaskan bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu di alam semesta. Meskipun ada tingkatan keutamaan di antara para nabi, pada hakikatnya mereka semua adalah hamba pilihan Allah. Penekanan ini bertujuan meluruskan pemahaman bahwa pembedaan derajat nabi tidak sama dengan menyekutukan Allah.
Perintah Berbuat Baik Kepada Orang Tua (Ayat 46-48)
Salah satu inti ajaran moral dalam rentang ayat ini adalah kewajiban berbakti kepada orang tua. Perintah ini datang langsung setelah bantahan terhadap kemusyrikan, menunjukkan betapa pentingnya hubungan vertikal (dengan Tuhan) dan horizontal (dengan sesama, dimulai dari orang tua).
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23)
Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai mencapai usia tua, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu menghardik mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al-Isra: 23 - *Catatan: Meskipun fokus pada 40-55, ayat ini sering dikutip bersamaan karena konteks etika yang kuat, namun kita akan fokus pada ayat 46-55 untuk menjaga konsistensi tema utama.*)
Ayat 46 secara khusus menggarisbawahi bahwa Allah mengetahui isi hati manusia. Jika kita melakukan kebaikan, itu adalah demi kebaikan kita sendiri, dan jika kita berbuat keburukan, konsekuensinya akan kembali kepada kita. Sikap rendah hati dan penuh kasih sayang terhadap orang tua, bahkan ketika mereka sudah lanjut usia, adalah tolok ukur keimanan.
Kewajiban Menjauhi Perilaku Tercela (Ayat 49-55)
Rentang ayat ini juga mencakup peringatan keras terhadap berbagai dosa besar dan perilaku yang merusak tatanan sosial dan spiritual, seperti membunuh, berzina, dan merampas harta anak yatim.
Larangan Membunuh dan Berzina
Larangan membunuh jiwa tanpa alasan yang benar sangat ditekankan, sebab membunuh satu jiwa dianggap seperti membunuh seluruh umat manusia (Ayat 33). Demikian pula, larangan mendekati zina dipertegas karena perbuatan tersebut keji dan merupakan jalan yang buruk (Ayat 32). Walaupun ayat 32-39 berdekatan, ayat 49 hingga 55 melanjutkan tema pertanggungjawaban.
Pada ayat 53, Allah memerintahkan untuk berbicara dengan perkataan yang baik (ma'ruf). Hal ini menunjukkan bahwa cara berkomunikasi yang santun adalah bagian integral dari keimanan.
وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا (53)
Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang paling baik. Sesungguhnya setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS. Al-Isra: 53)
Ayat 53 ini merupakan pedoman praktis dalam interaksi sosial. Dalam menghadapi perbedaan pendapat atau situasi konflik, umat Islam diperintahkan untuk memilih diksi terbaik, karena perselisihan seringkali dipicu oleh bisikan setan.
Pesan Penutup Tentang Keagungan Allah (Ayat 55)
Di akhir bagian ini, Allah menutup dengan mengingatkan kembali bahwa Dialah yang Maha Menguasai dan Maha Mengatur. Semua yang terjadi atas izin-Nya. Pengingat ini berfungsi menanamkan ketenangan dan kepasrahan total (tawakkal) kepada Allah SWT.
وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِمَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَىٰ بَعْضٍ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا (55)
Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang ada di langit dan di bumi. Dan sungguh, Kami telah memberikan kelebihan kepada sebagian nabi-nabi atas sebagian yang lain, dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (QS. Al-Isra: 55)
Secara keseluruhan, Surah Al-Isra ayat 40 hingga 55 adalah kompendium ajaran inti: akidah yang murni (Tauhid), etika terhadap keluarga (berbakti pada orang tua), dan tanggung jawab sosial (menjauhi kejahatan serta berbicara dengan baik). Memahami dan mengaplikasikan ayat-ayat ini akan membawa ketenangan batin dan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.