Surat Al-Maidah, yang berarti "Alas Hidang," adalah salah satu surat Madaniyah dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran historis, hukum, dan etika. Di antara ayat-ayat pentingnya, terdapat Surat Al-Maidah ayat 24, sebuah narasi singkat namun padat makna yang menceritakan respons kaum Nabi Musa AS ketika dihadapkan pada perintah untuk memasuki tanah suci (Baitul Maqdis).
Ayat ini berfungsi sebagai pengingat abadi tentang konsekuensi pembangkangan terhadap perintah ilahi dan pentingnya keberanian spiritual dalam menghadapi tantangan hidup. Untuk memahami konteksnya, kita perlu menilik kembali situasi yang terjadi setelah Bani Israil berhasil diselamatkan dari penindasan Firaun di Mesir.
Konteks Historis Al-Maidah Ayat 24
Setelah melintasi Laut Merah dan selamat dari kejaran Firaun, Bani Israil diperintahkan oleh Allah SWT melalui Nabi Musa untuk memasuki tanah perjanjian (Palestina). Tanah ini dijanjikan sebagai warisan bagi mereka. Namun, ketika tiba di ambang batas, mereka menemukan bahwa tanah tersebut dihuni oleh bangsa yang kuat dan bertubuh besar, yang dikenal sebagai kaum 'Amaliqah.
Rasa takut dan keraguan mulai merayap di hati banyak orang. Meskipun Nabi Musa dan saudaranya, Harun, telah berusaha meyakinkan mereka dengan janji pertolongan Allah, mayoritas kaum tersebut menunjukkan kelemahan iman. Inilah titik balik yang diabadikan dalam Al-Qur'an.
Teks Surat Al-Maidah Ayat 24
قَالَ مُوسَىٰ رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِي وَأَخِي ۖ فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ
(QS. Al-Maidah: 24)
Ayat ini sebenarnya adalah doa Nabi Musa AS ketika ia menyadari bahwa kaumnya telah menolak perintah Allah dan memilih untuk bersikap fasik (durhaka dan keluar dari ketaatan). Setelah Musa mengajak mereka berperang dan menghadapi bangsa yang kuat tersebut, mereka justru menjawab dengan penolakan keras dan ketidakpercayaan. Mereka berkata kepada Musa, "Maka pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah, sesungguhnya kami akan tetap di sini saja (menunggu)."
Doa Nabi Musa dan Konsekuensinya
Menghadapi penolakan total dan pembangkangan kaumnya yang dianggap telah melanggar janji suci, Nabi Musa AS merasa terasing. Ia tidak hanya berdoa untuk dirinya sendiri dan saudaranya (Harun), tetapi juga memohon pemisahan tegas antara mereka yang taat dengan mereka yang fasik. Doa ini menunjukkan kedalaman tanggung jawab seorang pemimpin dan rasa frustrasinya ketika umatnya memilih jalan kesesatan.
Dalam tafsir Ibnu Katsir dan sumber-sumber tafsir lainnya, setelah doa Nabi Musa ini, Allah SWT memberikan keputusan tegas. Karena mereka menolak memasuki tanah suci selama empat puluh tahun, mereka dihukum untuk mengembara di padang pasir selama periode waktu tersebut. Hukuman ini adalah konsekuensi langsung dari ketidakpercayaan mereka terhadap janji Allah dan ketidaktaatan mereka kepada Rasul-Nya.
Pelajaran Penting dari Ayat Ini
Kisah Surat Al-Maidah ayat 24 memberikan beberapa pelajaran vital bagi umat Islam:
- Pentingnya Keberanian Iman: Ketakutan akan kekuatan duniawi (dalam hal ini, bangsa bertubuh besar) tidak boleh mengalahkan keyakinan penuh terhadap pertolongan Allah SWT.
- Konsekuensi Pembangkangan: Durhaka kepada perintah Allah, meskipun datang melalui rasul-Nya, membawa dampak hukuman dan penundaan rahmat Ilahi.
- Tanggung Jawab Pemimpin: Nabi Musa menunjukkan ketegasan dalam memisahkan diri dari kaum yang fasik, menekankan bahwa ketaatan harus diutamakan di atas segalanya.
- Doa dalam Kesulitan: Ketika menghadapi kebuntuan moral dari sekelompok orang, memohon keputusan dan pemisahan dari Allah adalah jalan yang ditempuh oleh para nabi.
Ayat ini mengajarkan bahwa jalan kemuliaan sering kali membutuhkan langkah yang berani, bahkan jika itu berarti menghadapi penolakan dari mayoritas. Keselamatan sejati datang dari kepatuhan mutlak kepada perintah Sang Pencipta, bukan dari perhitungan rasional yang didominasi rasa takut duniawi.