Surah Al-Isra (atau Bani Israil) adalah salah satu surat di Juz ke-15 Al-Qur'an yang sarat dengan hikmah dan pelajaran penting bagi umat manusia. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan adalah ayat ke-50, yang secara langsung membahas tentang kemampuan Allah dalam membangkitkan kembali manusia setelah kematian.
Ayat 50 dari Surah Al-Isra ini turun sebagai respons terhadap keraguan dan keingkaran kaum musyrikin Mekkah mengenai Hari Kebangkitan (Yaumul Ba'ts). Ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan kabar tentang adanya kehidupan setelah kematian, mereka menolaknya dengan berbagai alasan, termasuk anggapan bahwa tulang belulang yang telah hancur dan menjadi debu tidak mungkin dikumpulkan kembali.
Allah SWT, melalui ayat ini, memerintahkan Rasul-Nya untuk menantang logika mereka yang sempit. Tantangan tersebut sangat kuat: "Katakanlah: 'Jadilah kamu batu atau besi, atau ciptaan lain yang lebih keras yang ada dalam dada-dadamu...'"
Penggunaan kata 'batu' dan 'besi' (atau dalam beberapa tafsir, sesuatu yang lebih keras dari keduanya) adalah metafora untuk sesuatu yang dianggap mutlak padat, mati, dan mustahil untuk dihidupkan kembali. Kaum kafir membayangkan bahwa jika tubuh mereka telah menjadi zat yang keras dan dingin seperti mineral tersebut, maka proses regenerasi kehidupan adalah hal yang mustahil secara logika manusiawi.
Inti dari ayat ini terletak pada jawaban tegas yang diberikan Allah: "Katakanlah, 'Dia yang telah menciptakan kamu pertama kali.'"
Penciptaan awal (fathr) adalah bukti tertinggi atas kuasa Allah. Jika Dzat yang Maha Kuasa mampu menciptakan alam semesta dari ketiadaan (atau dari materi yang belum pernah ada wujudnya), dan mampu membentuk manusia dari setetes mani, maka membangkitkan kembali manusia setelah kematian—meskipun tubuhnya telah menjadi debu, batu, atau besi—adalah jauh lebih mudah bagi-Nya.
Keraguan mereka didasarkan pada keterbatasan pandangan mereka sendiri. Mereka hanya mengukur kemampuan berdasarkan apa yang mereka lihat di dunia ini. Namun, Qur'an mengingatkan bahwa hukum alam yang berlaku bagi manusia terbatas, sementara hukum Allah bersifat absolut dan melampaui batas-batas pemahaman empiris manusia.
Setelah kaum musyrikin menerima tantangan tersebut dan bertanya, "Siapakah yang akan menghidupkan kami kembali?", dan Nabi menjawab dengan mengacu pada Pencipta Pertama, mereka kemudian merespons dengan keraguan lain yang bersifat temporal: "Bilakah itu?"
Jawaban Nabi, atas izin Allah, adalah menenangkan namun tegas: "Mungkin sebentar lagi."
Ungkapan "mungkin sebentar lagi" (عَسَىٰ أَن يَكُونَ قَرِيبًا) tidak selalu berarti dalam hitungan jam atau hari. Dalam konteks keabadian, setiap detik di dunia ini adalah singkat jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Bagi Allah, waktu adalah ciptaan-Nya. Jarak waktu antara kematian hingga kebangkitan, walau terasa panjang bagi manusia, adalah sangat dekat dalam perspektif Ilahi. Ini berfungsi untuk menghilangkan sikap menunda-nunda dan mendorong mereka untuk segera bertobat dan mempersiapkan diri menghadapi kepastian tersebut.
Surah Al-Isra ayat 50 adalah pengingat fundamental bahwa daya cipta Allah tidak terbatas. Keraguan manusia terhadap hari kiamat hanyalah akibat dari keterbatasan akal mereka dalam memahami keagungan Sang Pencipta.