"Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang memberi petunjuk dan siapa yang sesat. Dan tidaklah Aku mengutusmu (wahai Muhammad) sebagai seorang yang mengurus mereka (memaksa mereka beriman)." (QS. Al-Isra: 54)
Surah Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang sarat dengan pelajaran mengenai sejarah, akidah, dan etika sosial. Ayat ke-54 ini hadir setelah serangkaian ayat yang berbicara tentang keesaan Allah, kekuasaan-Nya atas segala ciptaan, dan penolakan kaum musyrik Mekkah terhadap risalah Nabi Muhammad SAW. Ayat ini sangat penting karena ia menetapkan batasan tugas kenabian sekaligus menegaskan prinsip kehendak bebas manusia.
Poin pertama yang ditekankan oleh ayat ini adalah sifat Maha Mengetahui (أَعْلَمُ - a'lam) yang dimiliki Allah SWT. Allah tidak hanya mengetahui apa yang nampak di permukaan, tetapi juga isi hati, niat tersembunyi, dan kecenderungan spiritual setiap individu. Frasa "Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang memberi petunjuk dan siapa yang sesat" menegaskan bahwa upaya manusia untuk mencari kebenaran atau memilih kesesatan adalah sesuatu yang dicatat dan dinilai langsung oleh Pencipta. Tidak ada niat tersembunyi yang luput dari pengawasan-Nya. Ini memberikan rasa aman bagi Nabi dan umatnya bahwa kebenaran yang mereka pegang akan diakui oleh Yang Maha Adil.
Ayat ini melanjutkan dengan peringatan tegas mengenai konsekuensi pilihan hidup: "Dan barangsiapa yang sesat, maka sesatnya itu hanyalah merugikan dirinya sendiri." (وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَىٰ نَفْسِهِ). Konsepsi ini menghilangkan anggapan bahwa kesesatan seseorang akan menimpakan kerugian langsung pada Allah SWT atau bahkan pada Nabi. Sebaliknya, dampak negatif dari penolakan terhadap petunjuk (hidayah) akan kembali kepada individu yang memilih jalan tersebut. Ini adalah manifestasi keadilan ilahi; setiap jiwa memanen apa yang telah ditaburnya. Kesesatan adalah tindakan merusak diri sendiri, bukan sekadar kesalahan dalam perhitungan kosmik.
Ayat 54 ini seringkali dibaca bersamaan dengan ayat sebelumnya (ayat 53) yang membahas tentang kebenaran yang dibawa Nabi Musa AS dan Musa yang diutus untuk memberikan petunjuk. Dalam konteks ini, penegasan bahwa Allah lebih mengetahui siapa yang memilih petunjuk menunjukkan bahwa walaupun Nabi Muhammad SAW telah menyampaikan risalah, penerimaan atau penolakan tetap berada di ranah pilihan manusia.
Bagian penutup ayat ini adalah penegasan yang sangat krusial mengenai tugas kenabian: "Dan Aku tidak mengutusmu sebagai seorang yang mengurus mereka (memaksa mereka beriman)." (وَمَا أُرْسِلْتُ عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ). Kata wakil di sini berarti pemaksa, penjaga penuh, atau penjamin yang bertanggung jawab penuh atas hasil akhir iman seseorang. Tugas Nabi Muhammad SAW adalah menyampaikan risalah dengan jelas (tabligh), memberikan peringatan (indzar), dan memberikan kabar gembira (basysyir). Namun, hidayah dan ketaatan hati adalah hak prerogatif Allah.
Bagi kaum Muslimin yang berdakwah, ayat ini memberikan pelajaran penting untuk melepaskan keterikatan emosional yang berlebihan terhadap hasil dakwah. Jika seorang da'i atau pemimpin telah menyampaikan kebenaran dengan sebaik-baiknya, maka tanggung jawabnya telah selesai. Hasil akhir—apakah seseorang menerima atau menolak—adalah urusan Allah yang Maha Adil, berdasarkan pengetahuan-Nya yang meliputi niat terdalam manusia.
Secara praktis, Surah Al-Isra ayat 54 mengajarkan kita beberapa hal fundamental. Pertama, fokus pada perbaikan diri sendiri. Karena kerugian kesesatan kembali kepada pelakunya, prioritas utama adalah memastikan diri kita sendiri berada di jalur petunjuk. Kedua, kesabaran dalam berdakwah. Menghadapi penolakan keras dari orang-orang yang keras kepala tidak seharusnya mematahkan semangat, sebab tugas kita hanya menyampaikan, bukan memaksa hati untuk tunduk. Ketiga, penyerahan diri total kepada ketetapan Allah. Allah mengetahui jalan mana yang terbaik bagi setiap individu, meskipun jalan itu tampak sulit atau tidak terduga oleh pandangan manusia. Kepercayaan ini menumbuhkan ketenangan batin di tengah gejolak penolakan atau ketidakpahaman dari lingkungan sekitar. Ayat ini mengukuhkan bahwa Allah adalah Hakim terakhir yang Maha Adil dan Maha Mengetahui.