Ilustrasi konseptual mengenai wahyu dan penetapan batasan.
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepadamu, "Sesungguhnya Tuhanmu (ilmu-Nya) meliputi seluruh manusia." Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (demikian pula) pohon yang terkutuk dalam Al-Qur'an. Kami menakut-nakuti mereka, tetapi hal itu tidak menambah mereka selain keingkaran yang besar.
Surah Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Al-Isra' wal Mi'raj, menceritakan tentang perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW. Ayat ke-60 ini merupakan bagian penting dari rangkaian ayat yang menjelaskan tentang mukjizat dan tantangan kenabian yang dihadapi Rasulullah.
Ayat ini diawali dengan penegasan bahwa pengetahuan dan kekuasaan Allah SWT meliputi seluruh umat manusia ("Sesungguhnya Tuhanmu (ilmu-Nya) meliputi seluruh manusia"). Ini adalah pengingat bahwa tidak ada satu pun peristiwa, pikiran, atau rahasia yang tersembunyi dari-Nya. Konteks ini sangat relevan ketika Nabi SAW menerima wahyu atau menghadapi penolakan dari kaum kafir. Bagi Rasulullah, ini adalah penegasan bahwa Allah selalu mengetahui situasi dan niat seluruh hamba-Nya.
Bagian kedua ayat menyinggung tentang mimpi (ar-ru'ya) yang diperlihatkan kepada Nabi SAW. Mayoritas ulama tafsir menafsirkan mimpi ini sebagai isyarat mengenai peristiwa Isra' Mi'raj, atau mimpi-mimpi kenabian lainnya yang menjadi kenyataan. Mimpi ini dijadikan sebagai ujian (fitnah) bagi umat manusia. Ujian ini bisa berupa penguatan bagi orang yang beriman dan pembuktian kedustaan bagi orang yang kufur.
Poin krusial lainnya adalah penyebutan "pohon yang terkutuk dalam Al-Qur'an" (Asy-syajarah al-mal'unah). Dalam konteks tafsir, ini merujuk pada pohon zaqqum, yang disebutkan dalam Surah Ad-Dukhan ayat 44-46 sebagai makanan penghuni neraka. Disebut terkutuk karena ia adalah simbol azab dan tempat kembalinya orang-orang yang ingkar. Penyebutan pohon ini dalam konteks penglihatan Nabi SAW berfungsi sebagai peringatan keras mengenai konsekuensi dari penolakan terhadap kebenaran.
Ayat ditutup dengan pernyataan bahwa ketika Allah memberikan peringatan keras (melalui tanda-tanda kenabian, mimpi, atau ancaman azab), hal itu justru memperburuk keadaan orang-orang yang ingkar. Mereka bukannya tersadar, malah semakin bertambah kesombongan dan pembangkangan mereka ("tetapi hal itu tidak menambah mereka selain keingkaran yang besar"). Ini menunjukkan betapa kerasnya hati sebagian orang yang menolak kebenaran meski telah disajikan bukti yang nyata.
Secara keseluruhan, Surah Al-Isra ayat 60 menekankan tiga hal utama: kemahatahuan Allah, fungsi mukjizat sebagai ujian, dan sifat keras kepala sebagian manusia dalam menolak peringatan ilahi.