Surah Al-Isra’ ayat 77 merupakan penutup dari serangkaian ayat yang membahas tentang ketetapan (sunnah) Allah SWT terkait kaum terdahulu yang menentang para nabi. Ayat ini singkat, padat, dan mengandung makna tauhid yang sangat fundamental: bahwa hukum dan ketetapan Allah Maha Kekal dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun.
Dalam konteks ayat-ayat sebelumnya (khususnya Al-Isra’ ayat 74-76), ketika kaum kafir Mekah menuntut Nabi Muhammad SAW untuk mengikuti tradisi nenek moyang mereka atau mengikuti ajaran yang berbeda, Allah SWT menegaskan bahwa cara-cara lama yang bertentangan dengan kebenaran Ilahi pasti akan berakhir. Ayat 77 ini berfungsi sebagai penegasan pamungkas: "Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan atas ketetapan Allah."
Kata "sunnah" di sini merujuk pada pola, tradisi, atau hukum alam dan hukum syariat yang telah ditetapkan oleh Allah. Ini adalah prinsip universal bahwa setiap umat yang ingkar terhadap risalah Allah akan mendapatkan konsekuensi yang telah digariskan. Tidak peduli seberapa besar kekuatan mereka atau seberapa kuat tradisi mereka, mereka tidak dapat mengubah alur takdir yang telah Allah tetapkan bagi orang-orang yang menolak kebenaran.
Pesan utama dari Surah Al-Isra’ ayat 77 adalah jaminan atas konsistensi sifat-sifat Allah. Allah tidak pernah berubah dalam janji-Nya, baik janji pertolongan bagi yang beriman maupun janji azab bagi yang ingkar. Ini memberikan ketenangan bagi orang yang beriman bahwa meskipun perjuangan terasa berat, akhir dari perjuangan tersebut sudah terjamin dalam kerangka hukum ilahi.
Jika kita melihat sejarah peradaban, seringkali tampak bahwa kezaliman dan kemaksiatan merajalela untuk sementara waktu. Namun, ayat ini mengingatkan kita untuk tidak tertipu oleh fase sementara tersebut. Kekuatan duniawi dan politik dapat berputar, tetapi ketetapan Allah (sunnahullah) adalah konstanta abadi. Ketika sebuah bangsa telah melewati batas dan Allah memutuskan untuk mencabut nikmat atau menjatuhkan hukuman, tidak ada kekuatan di bumi maupun di langit yang mampu mencegahnya.
Bagi umat Islam, ayat ini menjadi sumber motivasi dan peringatan. Sebagai motivasi, ia menegaskan bahwa ketaatan kepada syariat Allah akan selalu membuahkan hasil yang baik, meskipun hasilnya mungkin tertunda atau tidak terlihat secara instan. Kita harus berpegang teguh pada petunjuk-Nya karena petunjuk tersebut adalah jalan yang pasti menuju kebaikan abadi.
Sebagai peringatan, ayat ini mendorong kita untuk introspeksi kolektif. Jika suatu masyarakat mengalami kemunduran atau kesulitan, kita harus melihatnya bukan sebagai kebetulan, melainkan sebagai manifestasi dari hukum sebab-akibat ilahi yang telah berlaku sejak zaman dahulu. Melakukan maksiat secara terang-terangan atau meninggalkan ajaran agama berarti kita sedang mencoba menantang atau mengubah ketetapan Allah—sebuah upaya yang mustahil berhasil.
Oleh karena itu, tugas kita adalah terus berdakwah di jalan Allah, bersabar dalam menghadapi penolakan, dan yakin bahwa pada akhirnya, kebenaran akan menang sesuai dengan sunnah yang telah ditetapkan. Keyakinan penuh bahwa "lan tajida li sunnatina tahwilā" (tidak akan ada perubahan atas ketetapan Allah) adalah benteng spiritual yang kokoh di tengah gejolak zaman. Ayat ini menegaskan bahwa keadilan pasti akan ditegakkan, dan waktu penegakan itu terikat pada ketetapan-Nya, bukan keinginan manusia.
Memahami ayat ini secara mendalam membantu kita menghindari keputusasaan saat melihat kemungkaran merajalela. Karena kita tahu, di balik semua dinamika duniawi, ada hukum kekal yang memastikan bahwa setiap perbuatan, baik atau buruk, akan dibalas setimpal sesuai dengan kehendak dan ketetapan-Nya yang tak terubah.