Kajian Mendalam Surah Al-Maidah Ayat 104

Ilustrasi Tali Iman Sebuah ilustrasi sederhana yang menunjukkan tiga helai tali yang saling terkait erat, melambangkan kesatuan dan ketaatan terhadap ajaran.

Surah Al-Maidah (Hidangan) adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan hukum, tuntunan moral, dan peringatan penting bagi umat Islam. Di antara ayat-ayat yang sarat makna tersebut, ayat 104 sering kali menjadi sorotan karena membahas inti dari bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap ketika dihadapkan pada ajakan yang menyimpang dari jalan Allah.

Ayat ini secara lugas menegaskan prinsip dasar dalam beragama: ketaatan mutlak hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, serta penolakan terhadap segala bentuk bid’ah atau tradisi yang tidak bersumber dari wahyu.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا اهْتَدَوْا
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Marilah kepada apa yang telah diturunkan Allah dan kepada Rasul,' niscaya mereka berkata, 'Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami melakukannya.' (Apakah mereka tetap pada pendirian itu) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu pun dan tidak pula mendapat petunjuk?"

Konteks Historis dan Relevansi Kekal

Ayat 104 Surah Al-Maidah ini, sebagaimana dijelaskan dalam tafsir-tafsir klasik, diturunkan sebagai kritik terhadap perilaku masyarakat Arab jahiliyah yang sering kali menjadikan tradisi leluhur sebagai satu-satunya pedoman hidup, bahkan ketika tradisi tersebut bertentangan dengan seruan tauhid yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ.

Ketika Nabi Muhammad ﷺ mengajak mereka meninggalkan penyembahan berhala atau praktik-praktik syirik lainnya dan kembali kepada Al-Qur'an serta Sunnah, mereka menolak dengan alasan klasik: "Kami mengikuti tradisi nenek moyang kami." Alasan ini, yang terlihat sepele, sebenarnya merupakan penghalang besar bagi masuknya kebenaran.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala kemudian mematahkan argumen mereka dengan pertanyaan retoris yang sangat tajam: "Apakah (mereka akan tetap pada pendirian itu) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu pun dan tidak pula mendapat petunjuk?" Pertanyaan ini menggarisbawahi bahwa warisan atau tradisi harus diuji kebenarannya. Jika warisan tersebut tidak berlandaskan ilmu (wahyu) dan tidak menghasilkan petunjuk (hidayah), maka mengikutinya adalah kesesatan yang nyata.

Prinsip Ketaatan yang Dipertegas

Ayat ini mengajarkan beberapa prinsip fundamental bagi umat Islam:

  1. Prioritas Wahyu: Ketika seruan datang, baik dari Al-Qur'an (Apa yang diturunkan Allah) maupun As-Sunnah (Rasul), ia harus didahulukan di atas segalanya, termasuk adat istiadat, opini mayoritas, atau warisan tak berdasar.
  2. Bahaya Taklid Buta: Ayat ini mengecam taklid (mengikuti tanpa dalil) terhadap masa lalu. Islam menghargai sejarah dan tradisi yang baik, namun tidak menjadikannya otoritas tertinggi yang menandingi otoritas Allah dan Rasul-Nya.
  3. Kriteria Kebenaran: Kebenaran diukur dari sumbernya, yaitu wahyu Ilahi. Kebenaran tidak diukur dari seberapa lama sesuatu itu telah dilakukan atau seberapa banyak orang yang melakukannya.

Aplikasi Modern dalam Kehidupan

Relevansi Surah Al-Maidah ayat 104 tidak lekang oleh waktu. Dalam konteks modern, tantangan untuk menerima kebenaran wahyu sering kali datang dalam bentuk lain: pemikiran liberal yang menganggap nash agama sudah usang, budaya populer yang bertentangan dengan akhlak Islam, atau bahkan pemahaman agama yang telah terdistorsi oleh interpretasi subjektif.

Ketika seorang Muslim dihadapkan pada pandangan yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah shahih, respons yang benar adalah meneladani sikap yang dicela dalam ayat ini: menolak dalih "kami hanya mengikuti cara orang tua kami" atau "beginilah yang dilakukan masyarakat kami." Jalan petunjuk adalah jalan yang jelas, yang dibawa oleh Rasul, bukan jalan kabur yang ditempuh oleh nenek moyang yang mungkin sama-sama tersesat.

Kepatuhan sejati memerlukan keberanian intelektual untuk melepaskan diri dari cengkeraman tradisi yang tidak memiliki dasar syar'i. Islam mendorong umatnya untuk menjadi umat yang berpikir kritis, yang selalu menguji setiap ajaran dengan neraca Al-Qur'an dan As-Sunnah, memastikan bahwa apa yang diikuti adalah petunjuk (hidayah), bukan sekadar kebiasaan buta.

Oleh karena itu, ayat ini menjadi pengingat abadi bahwa fondasi kebahagiaan dunia dan akhirat terletak pada penerimaan total terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ, tanpa syarat dan tanpa kompromi terhadap ajaran yang bertentangan dengan bimbingan Ilahi.

🏠 Homepage