Surah Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali hikmah dan pelajaran penting, terutama mengenai akidah, hukum, dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Bagian akhir dari surat ini, khususnya ayat 116 hingga 120, menyoroti momen krusial dialog ilahi mengenai kedudukan Nabi Isa Al-Masih dan menegaskan kembali keesaan Allah SWT.
وَاِذْ قَالَ اللّٰهُ يَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَ اَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوْنِيْ وَاُمِّيْ اِلٰهَيْنِ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ قَالَ سُبْحٰنَكَ مَا يَكُوْنُ لِيْ اَنْ اَقُوْلَ مَا لَيْسَ لِيْ بِحَقٍّ ۗ اِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهٗ ۚ تَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ وَلَا اَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِكَ ۚ اِنَّكَ اَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, "Hai Isa putra Maryam, apakah engkau yang mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah'?" Isa menjawab, "Mahasuci Engkau! Tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, maka Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah yang Maha Mengetahui segala yang gaib." (QS. Al-Maidah: 116)Ayat ini adalah dialog yang sangat penting pada Hari Kiamat. Allah SWT menguji Nabi Isa AS mengenai tuduhan bahwa beliau menyuruh umatnya untuk menyembahnya bersama ibunya, Maryam, sebagai tuhan. Jawaban Nabi Isa menunjukkan ketundukan mutlak dan pengakuan akan keesaan Allah. Ia menegaskan bahwa ia tidak pernah memerintahkan hal tersebut, karena itu adalah klaim yang tidak berhak ia ucapkan. Penekanan pada "Engkaulah yang Maha Mengetahui segala yang gaib" ('Allamul Ghuyub) adalah penegasan bahwa hanya Allah yang mengetahui isi hati dan niat sejati.
مَا قُلْتُ لَهُمْ اِلَّا مَآ اَمَرْتَنِيْ بِهٖٓ اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَّا دُمْتُ فِيْهِمْ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِيْ كُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَاَنْتَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ
Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya), yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu." Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu. (QS. Al-Maidah: 117)Nabi Isa melanjutkan pembelaannya dengan menyatakan bahwa satu-satunya perintah yang ia sampaikan kepada umatnya adalah untuk menyembah Allah, Tuhannya dan Tuhan mereka. Selama hidup di dunia, ia menjadi saksi atas perbuatan mereka. Namun, setelah diwafatkan (diangkat oleh Allah), tanggung jawab pengawasan sepenuhnya beralih kepada Allah. Ayat ini menegaskan bahwa misi kenabian telah selesai, dan pengadilan terakhir sepenuhnya menjadi urusan Ilahi.
Ayat 118 kemudian menegaskan kembali kesimpulan tersebut, menegaskan bahwa jika Allah mengazab mereka, itu karena mereka telah berbuat zalim (melampaui batas) dan menyekutukan-Nya. Ini menunjukkan bahwa keputusan hukum dan penetapan azab adalah hak prerogatif Allah semata, bukan lagi urusan Nabi Isa.
قَالَ اللّٰهُ هٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصّٰدِقِيْنَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
Allah berfirman, "Inilah hari di mana kejujuran orang-orang yang jujur mendapat manfaatnya. Mereka akan memperoleh surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar." (QS. Al-Maidah: 119)Dialog tersebut ditutup dengan keputusan Allah. Hari itu adalah hari di mana kejujuran para rasul dan pengikut setia mereka yang teguh memegang tauhid akan dibalas. Balasan tersebut adalah surga abadi. Frasa "keberuntungan yang besar" (Al-Fauzul 'Adzim) menandakan bahwa kemenangan hakiki bukanlah kesuksesan duniawi, melainkan meraih ridha Allah dan tempat di akhirat.
لِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا فِيْهِنَّ ۚ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Hanya milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Maidah: 120)Ayat terakhir ini berfungsi sebagai penutup yang kuat, menegaskan kembali prinsip tauhid yang menjadi inti pembahasan. Semua perdebatan mengenai status ilahi Isa AS berakhir dengan pengakuan bahwa kedaulatan, kekuasaan, dan otoritas mutlak hanya berada di tangan Allah. Dia adalah pemilik langit, bumi, dan seluruh isinya. Kemahakuasaan-Nya (Qadirun 'ala kulli syai') memastikan bahwa setiap janji dan ancaman-Nya pasti akan terwujud.
Ayat 116-120 dari Surah Al-Maidah memberikan pelajaran penting tentang akidah Islam. Mereka secara tegas membantah klaim ketuhanan selain Allah, menggarisbawahi pentingnya kejujuran dalam beragama, dan menegaskan bahwa segala keputusan akhir berada di tangan Sang Pencipta. Bagi seorang Muslim, ayat-ayat ini menguatkan keyakinan bahwa hanya dengan menyembah Allah semata, seseorang akan meraih kemenangan sejati, yakni surga-Nya yang kekal.