Fokus pada Surah Al-Maidah Ayat 117

إيمان

Simbol penyerahan dan petunjuk Ilahi

Teks Surah Al-Maidah Ayat 117

قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا ۚ وَاللَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Katakanlah: "Maka apakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak kuasa memberikan mudharat dan tidak (pula) memberikan manfaat kepadamu?" Katakanlah: "Apakah kamu (wahai orang-orang musyrik) menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak kuasa mendatangkan bahaya dan tidak (pula) mendatangkan manfaat kepadamu?". Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Maidah: 117)

Konteks dan Penjelasan Ayat

Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan pembahasan hukum, kisah kenabian, dan penguatan tauhid. Ayat ke-117 ini memegang peran krusial dalam menegaskan kembali inti ajaran Islam: tauhid, yaitu keesaan Allah SWT.

Ayat ini datang sebagai penutup dari rangkaian dialog panjang antara Allah SWT dengan Nabi Isa 'alaihissalam pada hari kiamat. Dalam dialog tersebut, Allah menguji Nabi Isa tentang apa yang diajarkan kepada umatnya mengenai penyembahan terhadap dirinya. Nabi Isa membantah keras tuduhan bahwa ia pernah menyuruh umatnya menyembahnya selain Allah. Ayat 117 ini adalah puncak dari penegasan tersebut, di mana Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ (dan secara implisit seluruh umat Islam) untuk mengajukan pertanyaan retoris yang menusuk kepada para penyembah selain Allah.

Analisis Inti Pesan

Pertanyaan yang disematkan dalam ayat ini sangat mendasar dan logis: "Maka apakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak kuasa memberikan mudharat dan tidak (pula) memberikan manfaat kepadamu?" Tujuannya adalah untuk menyadarkan akal manusia bahwa peribadatan harus ditujukan kepada Dzat yang memiliki kekuasaan mutlak.

Kekuasaan Mutlak (Dharar dan Nafi')

Dua kata kunci dalam ayat ini adalah dharar (kerugian/bahaya) dan nafi' (manfaat). Hanya Allah SWT yang memiliki kendali penuh atas kedua aspek ini. Segala sesuatu yang disembah selain Allah, baik itu berhala, makhluk hidup, hawa nafsu, atau bahkan Nabi sekalipun, tidak memiliki kemampuan intrinsik untuk mendatangkan bahaya atau keuntungan bagi penyembahnya. Jika sesuatu itu bisa memberi manfaat atau menolak bahaya, itu hanyalah atas izin dan kuasa Allah semata.

Oleh karena itu, menyembah selain Allah adalah tindakan yang tidak rasional dan penuh kesia-siaan. Ini adalah perbuatan yang paling zalim karena menempatkan sesuatu pada posisi yang seharusnya hanya dimiliki oleh Sang Pencipta.

Penutup Ayat: Asmaul Husna

Ayat ini ditutup dengan dua sifat agung Allah: As-Samii' (Maha Mendengar) dan Al-'Aliim (Maha Mengetahui). Penutup ini bukan sekadar pelengkap, melainkan penekanan otoritas Ilahi.

  • Al-Sami' (Maha Mendengar): Allah mendengar setiap bisikan, doa, bahkan perdebatan yang terjadi mengenai penyembahan ini. Tidak ada satu pun permohonan yang terlewatkan oleh pendengaran-Nya.
  • Al-'Aliim (Maha Mengetahui): Allah mengetahui isi hati setiap penyembah, niat di balik setiap perbuatan, dan konsekuensi dari kesesatan mereka. Pengetahuan-Nya mencakup masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Kombinasi kedua sifat ini menegaskan bahwa perbuatan menyembah selain-Nya akan tercatat dan diadili dengan sempurna. Kesadaran akan sifat-sifat ini seharusnya mendorong setiap mukmin untuk memusatkan segala bentuk ibadah, harapan, dan ketakutan hanya kepada Allah SWT, Sang Pemilik segala manfaat dan bahaya.

🏠 Homepage