"Sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (pemimpin) dari Bani Israil dan Kami utus dari kalangan mereka dua belas orang pemimpin. Dan Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku bersamamu, jika kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, beriman kepada rasul-rasul-Ku, menghormati mereka, dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Aku akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Barangsiapa di antara kamu kafir setelah itu, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.'"
Kandungan dan Tafsir Surah Al-Maidah Ayat 15
Surah Al-Maidah ayat 15 merupakan ayat yang sarat makna, menyoroti pentingnya janji (mithaq) ilahi dan konsekuensi ketaatan maupun pembangkangan. Ayat ini secara spesifik merujuk pada perjanjian yang diambil Allah SWT kepada Bani Israil, sebuah komunitas yang diyakini sebagai penerima awal petunjuk ilahi melalui Nabi Musa AS.
Allah SWT memilih dua belas orang pemimpin (naqib) dari kalangan mereka. Pemimpin-pemimpin ini bertugas sebagai perwakilan dan penjamin pelaksanaan perjanjian tersebut di tengah kaumnya. Penetapan pemimpin ini menggarisbawahi pentingnya struktur kepemimpinan dalam menjaga tegaknya syariat Allah di muka bumi.
Syarat-Syarat Keberkahan dan Pertolongan Ilahi
Inti dari janji Allah ini terletak pada serangkaian kewajiban yang harus dipenuhi. Ayat tersebut menyebutkan lima poin utama yang harus ditegakkan oleh Bani Israil jika mereka ingin mendapatkan pertolongan dan janji manis dari Allah:
Mendirikan Shalat: Ini adalah tiang agama dan sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Penciptanya. Kualitas shalat mencerminkan kualitas iman seseorang.
Menunaikan Zakat: Kewajiban berbagi harta kepada yang berhak, menunjukkan solidaritas sosial dan pembersihan jiwa dari sifat kikir.
Beriman kepada Rasul-rasul-Nya: Pengakuan dan penerimaan terhadap semua utusan Allah, termasuk yang telah diutus sebelum Nabi Muhammad SAW, dan tentu saja, meyakini kenabian Muhammad SAW sebagai penutup para rasul.
Menghormati (Ta'zhim) Rasul-rasul tersebut: Bukan hanya sekadar mengakui, tetapi memberikan penghormatan yang layak, membela, dan mengikuti ajaran mereka.
Meminjamkan kepada Allah Pinjaman yang Baik (Qardhan Hasanan): Ini merujuk pada infak, sedekah, atau membantu sesama mukmin dengan ikhlas, tanpa mengharapkan balasan dari manusia, melainkan balasan dari Allah.
Jika kelima syarat ini dipenuhi, maka janji Allah adalah kepastian: "Niscaya Aku akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." Ini adalah ganjaran tertinggi yang didambakan setiap insan yang beriman.
Peringatan Keras Terhadap Kekafiran
Setelah menyebutkan janji yang agung tersebut, ayat ini ditutup dengan peringatan yang sangat keras: "Barangsiapa di antara kamu kafir setelah itu, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus." Kekafiran di sini tidak hanya berarti menolak kebenaran secara total, tetapi juga pengkhianatan terhadap janji suci yang telah diikrarkan sebelumnya, meskipun telah menyaksikan tanda-tanda kebenaran.
Bagi umat Islam, ayat ini memiliki relevansi universal. Meskipun ditujukan kepada Bani Israil, prinsip penegakan shalat, zakat, keimanan total kepada Rasulullah SAW, dan ketaatan sosial adalah pondasi kebahagiaan abadi bagi umat Nabi Muhammad SAW. Al-Maidah 15 menjadi pengingat bahwa kemuliaan spiritual tidak diwariskan, melainkan harus diusahakan melalui ketaatan yang konsisten dan nyata. Kesesatan terbesar adalah berpaling dari jalan lurus setelah mengetahui kebenarannya.