Kisah Keberanian: Surah Al-Ma'idah Ayat 23

Gerbang Kota Ilustrasi keberanian kaum Nabi Musa menghadapi gerbang kota.

Surah Al-Ma'idah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surat Madaniyah dalam Al-Qur'an yang kaya akan kisah-kisah penting mengenai syariat dan peristiwa sejarah umat terdahulu. Salah satu ayat yang paling sering dikutip untuk menggarisbawahi pentingnya keberanian, tawakal, dan kepemimpinan adalah **Surah Al-Ma'idah ayat 23**.

Ayat ini menceritakan momen krusial dalam sejarah Bani Israil ketika mereka diperintahkan oleh Nabi Musa a.s. untuk memasuki negeri Palestina (yang saat itu disebut sebagai negeri yang dijanjikan Allah) dan merebutnya dari tangan kaum zalim (Yabasiyyun atau Amaliqah).

Teks dan Terjemahan Surah Al-Ma'idah Ayat 23

قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Berkata dua orang laki-laki di antara mereka yang takut (kepada Allah), yang telah diberi nikmat oleh Allah, "Masuklah kamu (melalui) pintu gerbang itu, maka apabila kamu memasukinya, sesungguhnya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu kepada Allah, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman."

Konteks Sejarah dan Pelajaran Iman

Ayat ini merupakan penegasan kembali atas kegagalan kolektif kaum Musa untuk taat sepenuhnya. Setelah Allah membebaskan mereka dari penindasan Firaun dan menenggelamkan musuh mereka, mereka diperintahkan memasuki tanah yang dijanjikan. Namun, rasa takut dan keraguan yang besar membuat mayoritas kaum tersebut menolak perintah Nabi Musa, bahkan mereka berkata, "Hai Musa, sesungguhnya di sana ada orang-orang yang sangat kuat, dan kami sekali-kali tidak akan masuk ke negeri itu selama mereka ada di dalamnya. Sebab itu pergilah kamu dan Tuhanmu, dan perangilah keduanya; sesungguhnya kami tetap duduk menunggu di sini saja." (QS. Al-Ma'idah: 24).

Di tengah keputusasaan dan penolakan kolektif tersebut, muncullah **dua orang laki-laki** yang memiliki iman yang kokoh. Mereka adalah hamba-hamba pilihan yang "telah diberi nikmat oleh Allah." Nikmat yang dimaksud bukan sekadar harta atau kekuasaan, melainkan nikmat berupa **iman yang benar, pemahaman yang jernih, dan keberanian yang didasari keyakinan penuh kepada janji Allah SWT**.

Inti Pesan: Keberanian yang Dibungkus Tawakal

Pesan kunci dari ayat 23 ini dapat diuraikan menjadi dua komponen vital yang harus dimiliki seorang mukmin:

  1. Keberanian Tindakan (Adh-Dukhul): Mereka mendesak, "Masuklah kamu (melalui) pintu gerbang itu." Ini adalah seruan untuk bertindak nyata, meninggalkan zona nyaman, dan menghadapi tantangan secara langsung. Kegagalan seringkali berakar pada keengganan untuk melangkah pertama karena melihat ukuran musuh, bukan ukuran kekuatan Tuhan.
  2. Kepastian Kemenangan: "Maka apabila kamu memasukinya, sesungguhnya kamu akan menang." Kemenangan di sini bersifat kondisional, yaitu terikat pada tindakan pertama (memasuki gerbang). Kemenangan dijanjikan karena Allah telah menakdirkan tanah itu untuk mereka, dan keberanian mereka adalah sarana untuk meraih takdir tersebut.
  3. Fondasi Tawakal: Komponen paling mendasar adalah penutupnya, "Dan bertawakallah kamu kepada Allah, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." Tawakal bukanlah pasifisme, melainkan tindakan aktif yang didasari penyerahan hasil akhir kepada Allah. Tanpa iman yang benar, keberanian hanyalah nekat, tetapi dengan iman, keberanian menjadi jihad yang diridai.

Ayat ini mengajarkan bahwa iman sejati diuji ketika kita dihadapkan pada kesulitan yang tampak mustahil. Dua pemuda yang takut kepada Allah (bukan takut kepada manusia) ini menjadi teladan. Mereka tidak hanya berkhotbah, tetapi mereka memimpin dengan seruan langsung untuk memasuki area pertempuran. Mereka memahami bahwa ukuran kekuatan musuh tidak relevan jika dibandingkan dengan kekuatan Sang Pencipta alam semesta. Keberanian mereka adalah manifestasi nyata dari keimanan mereka yang teguh.

Dalam konteks kehidupan modern, Al-Ma'idah ayat 23 mengajak kita untuk mengidentifikasi "gerbang kota" kita sendiri—baik itu tantangan karier, perjuangan dakwah, atau memperbaiki diri. Apakah kita akan bergabung dengan mayoritas yang takut dan menunda, ataukah kita akan meneladani keberanian dua orang yang sadar bahwa janji Allah selalu lebih besar daripada ketakutan duniawi?

Sejarah membuktikan bahwa setiap penaklukan besar dalam sejarah Islam—baik itu penaklukan maknawi maupun fisik—selalu dimulai oleh segelintir orang yang berani mengambil langkah pertama dengan penuh keikhlasan dan tawakal. Mereka sadar bahwa Allah tidak menjanjikan jalan yang mudah, namun menjanjikan hasil yang pasti bagi mereka yang berani melangkah dan menaruh harapannya sepenuhnya kepada-Nya.

🏠 Homepage