Surah Al-Maidah (Hidangan) adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan pelajaran hukum dan etika sosial dalam Islam. Ayat ke-59 khususnya, memberikan peringatan keras kepada kaum mukminin mengenai sikap mereka terhadap Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Terjemahan: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan di antara orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu, dan orang-orang yang kafir sebagai teman-teman (pemimpin). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu adalah orang-orang yang beriman.
Ayat ini sering menjadi titik fokus dalam pembahasan mengenai batasan-batasan pertemanan dan aliansi politik umat Islam dengan kelompok lain, terutama ketika kelompok tersebut menunjukkan permusuhan terselubung terhadap ajaran Islam.
Ayat 59 Al-Maidah turun pada masa ketika hubungan antara komunitas Muslim di Madinah dengan beberapa suku Yahudi tertentu mulai memburuk, khususnya setelah terjadi pengkhianatan atau pelanggaran perjanjian. Allah SWT memperingatkan umat Islam untuk berhati-hati dalam memilih siapa yang dijadikan wali (pemimpin, pelindung, atau sahabat karib).
Kata kunci dalam ayat ini adalah "dīnukum huzuwan wa la'iban" (agama kalian dijadikan bahan ejekan dan permainan). Hal ini menunjukkan bahwa larangan tersebut bukan sekadar larangan bergaul biasa, melainkan larangan mengangkat mereka sebagai sekutu dekat atau pemimpin yang dipercaya penuh, terutama jika mereka secara terbuka atau terselubung meremehkan pokok-pokok keyakinan Islam.
Para mufasir menjelaskan bahwa ayat ini tidak mengharamkan interaksi sosial yang wajar, seperti jual beli, bertetangga, atau hubungan kekerabatan yang sudah ada. Larangan utamanya berfokus pada aspek walayah (kepemimpinan, dukungan politik, atau aliansi strategis yang mengancam keamanan dan identitas agama).
Seorang Muslim diperintahkan untuk membedakan antara persahabatan sehari-hari yang bersifat muamalah, dengan penyerahan otoritas dan kepercayaan penuh kepada pihak yang secara aktif mengejek atau berniat merusak fondasi keimanannya. Ini adalah manifestasi dari loyalitas tertinggi hanya kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman lainnya.
Ayat diakhiri dengan penegasan mendasar: "Wa-ttaqu Allāha in kuntum mu'minīn" (Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu adalah orang-orang yang beriman).
Kepatuhan terhadap perintah ini (untuk menjauhi aliansi berbahaya) dijadikan sebagai tolok ukur validitas keimanan seseorang. Jika seseorang benar-benar beriman, konsekuensinya adalah ia akan menempatkan nilai-nilai ketuhanan di atas kepentingan duniawi atau tekanan sosial. Takwa di sini berarti kesadaran akan pengawasan Allah dan kesiapan untuk mematuhi perintah-Nya meskipun terasa sulit atau bertentangan dengan pola pikir umum saat itu.
Dalam konteks modern, ayat ini relevan dalam memahami bagaimana umat Islam harus menavigasi hubungan antaragama di tengah isu-isu identitas dan kedaulatan. Inti pesannya adalah menjaga batasan agar prinsip-prinsip utama agama tidak terkompromikan demi kenyamanan atau keuntungan jangka pendek melalui aliansi strategis dengan pihak yang tidak sejalan fundamental dengan nilai-nilai Islam.
Dengan demikian, Surah Al-Maidah ayat 59 berfungsi sebagai kompas moral dan politik bagi kaum beriman, mengingatkan mereka bahwa persahabatan yang paling kokoh adalah persahabatan yang didasarkan pada ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.