Kajian Mendalam: Surah Al-Maidah Ayat 64

Ilustrasi Konsep Keadilan dan Wahyu Ilahi Sebuah visualisasi abstrak yang menampilkan buku terbuka (wahyu) diapit oleh dua pilar (kebenaran dan keadilan) dengan cahaya terpancar dari tengah.

Surah Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak pedoman penting bagi kehidupan seorang Muslim, termasuk aspek akidah, hukum, dan etika sosial. Salah satu ayat yang memiliki bobot signifikan dalam konteks hubungan antara manusia dan Tuhan, serta tanggung jawab kolektif umat, adalah **Surah Al-Maidah ayat 64**. Ayat ini sering kali dikutip untuk menekankan keseriusan tipu daya mereka yang menolak kebenaran dan pentingnya menjaga komitmen spiritual.

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۖ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا ۚ وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۚ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا ۚ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

"Orang-orang Yahudi berkata: 'Tangan Allah terbelenggu.' Justru tangan merekalah yang dibelenggu dan mereka dikutuk disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. Padahal kedua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan sungguh, Al-Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu pasti akan menambah kedurhakaan dan kekafiran sebagian besar dari mereka. Dan Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka hingga hari kiamat. Setiap kali mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di bumi. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."

Konteks Historis dan Pesan Inti

Ayat 64 Surah Al-Maidah ini turun sebagai respons langsung terhadap tuduhan ekstrem dan penghinaan yang dilontarkan oleh segolongan Yahudi Madinah terhadap sifat kemurahan Allah SWT. Ketika mereka menghadapi kesulitan ekonomi atau kekeringan, mereka melontarkan perkataan yang sangat kufur: "Tangan Allah terbelenggu". Ini adalah metafora yang menyiratkan bahwa Allah SWT kikir, pelit, dan tidak lagi bermurah hati dalam memberikan rezeki.

Tentu saja, klaim ini dibantah keras oleh Al-Qur'an. Allah menegaskan bahwa justru tangan merekalah yang terbelenggu—bukan secara fisik, melainkan dalam artian keterbatasan dalam berinfak dan kikir dalam mengeluarkan hak Allah. Allah SWT digambarkan memiliki dua tangan (secara maknawi menunjukkan kesempurnaan kekuasaan dan kedermawanan-Nya) yang terbuka lebar, memberikan rezeki tanpa batas sesuai kehendak-Nya.

Konsekuensi Penolakan dan Kedurhakaan

Lebih lanjut, ayat ini menyoroti konsekuensi dari sikap menolak kebenaran. Allah menyatakan bahwa semakin banyak wahyu (Al-Qur'an) yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, hal itu justru semakin memperparah sifat durhaka dan kekafiran sebagian besar dari mereka. Ini menunjukkan bahwa hidayah yang datang kepada hati yang sudah tertutup akan memperkuat keburukan yang sudah ada, sebuah ironi yang sering terjadi pada orang-orang yang menolak kebenaran secara arogan.

Ayat ini juga menjelaskan hukuman psikologis dan sosial yang menimpa mereka: terciptanya **permusuhan dan kebencian hingga hari kiamat**. Permusuhan internal dan perselisihan yang terus-menerus menjadi ciri khas kelompok yang menjauh dari jalan lurus Allah. Di samping itu, upaya mereka untuk menciptakan kekacauan (menyalakan api peperangan) selalu dipadamkan oleh kekuasaan Allah. Mereka berusaha menyebarkan kerusakan (fasad) di muka bumi, namun Allah menegaskan bahwa Dia tidak mencintai para perusak.

Pelajaran Universal untuk Umat Muslim

Meskipun konteks ayat ini berkaitan dengan dialog historis dengan Ahli Kitab, pelajaran yang terkandung di dalamnya bersifat universal bagi setiap Muslim. Ayat ini mengajarkan kita untuk selalu berprasangka baik (husnuzan) terhadap sifat-sifat Allah, terutama sifat Ar-Razzaq (Pemberi Rezeki) dan Al-Karim (Maha Mulia). Keraguan terhadap kemurahan Allah adalah bentuk kekufuran yang harus dihindari.

Selain itu, kita diingatkan untuk tidak menjadi agen kerusakan. Kehidupan yang penuh dengan permusuhan, kebencian, dan upaya menyulut konflik adalah tanda dari jiwa yang menjauhi petunjuk ilahi. Sebaliknya, seorang Muslim wajib menjadi pembawa kedamaian, berusaha memadamkan api perselisihan, dan menjauhi segala bentuk kerusakan yang merugikan kemaslahatan umat manusia. Ayat ini adalah pengingat abadi bahwa Allah selalu mengawasi dan tidak akan merelakan kerusakan merajalela di bumi-Nya.

🏠 Homepage