Ilustrasi Surah Al-Maidah
Surah Al-Maidah merupakan salah satu surat dalam Al-Qur'an yang memiliki kedudukan penting, baik secara tematik maupun historis. Surat ini termasuk dalam golongan surat Madaniyah, yakni surat yang diturunkan setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Pembahasan dalam surat ini meliputi berbagai aspek syariat, mulai dari hukum makanan, tata cara ibadah haji, hingga persoalan perjanjian dan persaudaraan.
Menurut mayoritas ulama dan penomoran standar mushaf Utsmani yang digunakan di seluruh dunia, Surah Al-Maidah terdiri dari 120 ayat. Angka ini konsisten dan diakui secara luas dalam tradisi keilmuan Islam. Penomoran ini mencakup seluruh ayat dari awal surat hingga ayat terakhir yang berbicara mengenai penguasaan Allah atas segala sesuatu.
Surah ini dinamakan Al-Maidah (Hidangan Makanan) karena adanya kisah tentang permintaan kaum Hawariyyin (pengikut setia Nabi Isa AS) kepada Nabi Isa agar Allah SWT menurunkan hidangan makanan dari langit, sebagaimana disebutkan dalam ayat 112 hingga 115. Kisah ini menjadi salah satu inti narasi penting dalam surat ini, menyoroti pentingnya keimanan yang teguh dalam menghadapi mukjizat.
Dengan total 120 ayat, Al-Maidah adalah surat yang padat dengan berbagai penetapan hukum (syariat) dan peringatan penting bagi umat Islam. Keutamaan dan cakupan materinya dapat dilihat dari beberapa segmen utama yang tersebar di sepanjang 120 ayat tersebut:
Ayat-ayat pembuka Al-Maidah sangat monumental karena memuat penetapan hukum yang tegas dan pengumuman penting. Ayat kelima, misalnya, menegaskan kesempurnaan agama Islam: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agamamu." Ayat-ayat awal ini juga membahas kehalalan makanan dan pernikahan dengan Ahli Kitab.
Bagian ini sangat menekankan pentingnya menjaga janji, melaksanakan ibadah dengan benar (termasuk wudhu dan tayammum), serta menunaikan keadilan dalam segala kondisi, bahkan terhadap musuh. Ayat tentang hukum qisas (balas setimpal) juga terdapat di sini, menekankan bahwa hukuman harus diterapkan secara adil demi menjaga kehidupan masyarakat.
Surat ini secara khusus memberikan peringatan keras kepada orang-orang beriman agar tidak mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin atau pelindung utama (auliya’) secara eksklusif, karena kekhawatiran akan keterikatan hati yang dapat mengancam keimanan. Selain itu, terdapat kisah-kisah masa lalu sebagai pelajaran berharga.
Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk menimbang antara hukum Allah dan tradisi nenek moyang. Ayat-ayat ini juga mengatur tentang sumpah (kaffarat) dan pentingnya menjadi saksi yang jujur demi tegaknya kebenaran.
Bagian akhir surat ini kembali berfokus pada dialog antara Allah SWT dengan para nabi, khususnya Nabi Isa AS, mengenai tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Puncak dari surat ini adalah penegasan keesaan Allah dan kekuasaan-Nya yang mutlak atas seluruh alam semesta.
Mengetahui secara pasti bahwa Surah Al-Maidah berapa ayat (120 ayat) bukan sekadar hafalan angka. Ini membantu para pembelajar Al-Qur'an untuk memahami struktur tematik surat tersebut. Dengan mengetahui batas ayat, memudahkan dalam mencari referensi spesifik, mengkaji makna per ayat, dan menyimpulkan tema-tema besar yang dibahas oleh surat tersebut secara keseluruhan, mulai dari penetapan hukum hingga hikmah-hikmah ilahiah yang terkandung di dalamnya.