Surah Al-Anfal, surah ke-8 dalam Al-Qur'an, merupakan salah satu surah Madaniyah yang turun setelah peristiwa penting dalam sejarah Islam, yaitu Perang Badar. Nama "Al-Anfal" sendiri berarti "harta rampasan perang," yang mencerminkan fokus utama surah ini pada pengaturan dan pembagian harta yang diperoleh dari medan pertempuran. Namun, cakupan surah ini jauh lebih luas, mencakup berbagai aspek penting mengenai strategi perang, kepemimpinan, keimanan, serta pedoman bagi kaum mukminin dalam menghadapi berbagai situasi, baik dalam keadaan damai maupun perang.
Memahami setiap ayat dalam Surah Al-Anfal memberikan perspektif yang kaya tentang bagaimana Islam membimbing umatnya dalam berbagai aspek kehidupan. Dari ayat-ayat awal, kita dihadapkan pada diskusi mengenai pembagian ghanimah (harta rampasan perang) yang adil dan sesuai syariat. Ini bukan sekadar masalah distribusi materi, melainkan cerminan prinsip keadilan dan transparansi yang diajarkan Allah SWT. Pengaturan ini bertujuan untuk mencegah perselisihan dan memperkuat persatuan di antara kaum mukminin.
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَنْفَالِ ۖ قُلِ الْأَنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Yas’aloonaka ‘anil anfaal(i) qulil anfaalu lillaahi war rasool(i) fattqul laaha wa aslihoo zaata bainikum wa atee’ul laaha wa rasoolahu in kuntum mu’mineen
Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang itu adalah milik Allah dan Rasul, maka bertakwalah kamu kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah (patuh) kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu adalah orang yang beriman.”
Ayat di atas, Surah Al-Anfal ayat 1, secara eksplisit menjawab pertanyaan para sahabat mengenai harta rampasan perang. Allah menegaskan bahwa pengaturan harta tersebut sepenuhnya berada di bawah kendali Allah dan Rasul-Nya. Ini mengajarkan bahwa segala sesuatu di dunia ini, termasuk harta yang diperoleh melalui perjuangan, sejatinya adalah titipan Allah. Oleh karena itu, kaum mukminin diperintahkan untuk bertakwa, menjaga keharmonisan hubungan antar sesama, serta patuh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan ini menjadi tolok ukur keimanan yang sesungguhnya.
Selain urusan harta rampasan perang, Surah Al-Anfal juga banyak membahas tentang esensi keimanan dan perjuangan di jalan Allah. Surah ini mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukanlah pada jumlah pasukan atau persenjataan semata, melainkan pada keyakinan yang teguh kepada Allah, kesabaran, dan ketaatan pada perintah-Nya. Allah SWT berfirman dalam surah ini:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ
Yaaa ayyuhan Nabiyyu harriḍil mu’mineena ‘alal qitaal(i) in yakum minkum ‘ishroona saabiroona yagliboo mi’atain wa in yakum minkum mi’atun yaglibooo alfam minallazeena kafaroo bi annahum qawmul laa yafqahoon
Wahai Nabi! Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang (musuh); dan jika ada seratus orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu orang (kafir), disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.
Ayat Surah Al-Anfal ayat 65 ini memberikan semangat luar biasa bagi umat Islam. Ia menunjukkan bahwa dengan keimanan yang kuat dan kesabaran dalam menghadapi kesulitan, umat Islam memiliki potensi untuk mengungguli musuh yang jumlahnya berkali lipat. Kuncinya adalah kesabaran dan keyakinan bahwa pertolongan Allah akan datang bagi hamba-Nya yang teguh pendirian. Ini adalah pelajaran berharga bahwa mentalitas dan spiritualitas seringkali lebih menentukan daripada kekuatan fisik semata.
Selanjutnya, Surah Al-Anfal juga menekankan pentingnya persatuan dan menghindari perselisihan internal. Seringkali, perpecahan internal justru menjadi celah bagi musuh untuk menyerang. Oleh karena itu, ayat-ayat dalam surah ini senantiasa mengajak kaum mukminin untuk bersatu padu, saling menguatkan, dan menyelesaikan perbedaan pendapat dengan cara yang bijaksana, sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Lebih jauh lagi, surah ini tidak hanya berbicara tentang perang dan strategi militer, tetapi juga tentang tata kelola negara dan masyarakat. Pembahasan mengenai harta rampasan perang juga dapat diinterpretasikan secara lebih luas sebagai ajaran tentang bagaimana mengelola sumber daya negara secara adil, transparan, dan bermanfaat bagi seluruh umat. Prinsip ini relevan hingga kini, mengajarkan pentingnya akuntabilitas dalam setiap pengelolaan amanah.
Surah Al-Anfal juga mengingatkan kita untuk tidak sombong ketika meraih kemenangan, dan tidak putus asa ketika mengalami kekalahan. Keduanya adalah ujian dari Allah SWT. Di saat menang, kita harus tetap rendah hati dan bersyukur, serta menggunakan kemenangan itu untuk kebaikan. Di saat kalah, kita harus introspeksi diri, mencari kesalahan, dan kembali kepada Allah dengan penuh harap. Surah ini mengajarkan keseimbangan dalam memandang kemenangan dan kekalahan.
Sebagai penutup, setiap bacaan dan perenungan terhadap Surah Al-Anfal ayat demi ayat memberikan pelajaran yang tak ternilai. Ia adalah panduan komprehensif bagi kaum mukminin untuk menjalani kehidupan, membentengi diri dari kelemahan, dan berjuang di jalan kebenaran dengan penuh keikhlasan dan keyakinan kepada Allah SWT. Memahami makna surah ini secara mendalam dapat membantu kita mengambil langkah yang tepat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern.