Simbol pertempuran dan perlindungan dalam Islam.
Surah Al-Anfal, yang berarti "Harta Rampasan Perang", merupakan salah satu surah Madaniyah yang diturunkan setelah peristiwa penting dalam sejarah Islam. Ayat-ayat permulaannya, yaitu dari ayat 1 hingga 10, memiliki kedalaman makna yang luar biasa, memberikan petunjuk fundamental mengenai bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap dalam menghadapi permusuhan, meraih kemenangan, dan mengelola hasil dari perjuangan tersebut.
Ayat-ayat ini secara spesifik membahas tentang sikap kaum mukmin terhadap harta rampasan perang (ganimah) dan bagaimana seharusnya mereka bertindak ketika menghadapi orang-orang kafir. Penekanan utama terletak pada pentingnya ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta persatuan di antara kaum mukmin.
يَسْأَلُونَكَ عَنِ ٱلْأَنفَالِ ۖ قُلِ ٱلْأَنفَالُ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ ۚ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَأَصْلِحُوا۟ ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ 1
Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: "Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul, maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu adalah orang-orang yang beriman."
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ 2
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambah (kekuatan) iman mereka dan hanya kepada Tuhan mereka mereka bertawakal.
ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ يُنفِقُونَ 3
(Yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَـٰتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ 4
Itulah orang-orang mukmin yang sebenarnya. Mereka memperoleh derajat tinggi di sisi Tuhan mereka, ampunan dan rezeki yang mulia.
كَمَآ أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنۢ بَيْتِكَ بِٱلْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ لَكَـٰرِهُونَ 5
(Sebagaimana Kami telah mengeluarganmu dari rumahmu dengan membawa kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang mukmin itu ada yang tidak menyukainya.)
يُجَـٰدِلُونَكَ فِى ٱلْحَقِّ بَعْدَمَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى ٱلْمَوْتِ وَهُمْ يَنظُرُونَ 6
Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (pentingnya persatuan), seolah-olah mereka dihalau ke kematian, sedang mereka melihat (kepadanya).
وَإِذْ يَعِدُكُمُ ٱللَّهُ وَعْدَ ٱحْدَى ٱلطَّآئِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ ٱلشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُحِقَّ ٱلْحَقَّ بِكَلِمَـٰتِهِۦ وَيَقْطَعَ دَابِرَ ٱلْكَـٰفِرِينَ 7
Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yakni musuh atau kafilah dagang) itu adalah untukmu, sedang kamu menginginkan yang tidak mempunyai kekuatan senjata, padahal Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ketetapan-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir.
لِيُحِقَّ ٱلْحَقَّ وَيُبْطِلَ ٱلْبَـٰطِلَ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْمُجْرِمُونَ 8
Agar Allah menetapkan yang hak (kebenaran) dan menghilangkan yang batil (kesalahan), sekalipun orang-orang berdosa itu tidak menyukainya.
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَٱسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّى مَدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِّنَ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةِ مُرْدِفِينَ 9
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan pertolongan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut."
وَمَا جَعَلَهُ ٱللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِۦ قُلُوبُكُمْ ۚ وَمَا ٱلنَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ 10
Dan Allah tidak menjadikannya (pertolongan malaikat itu) melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenanganmu hanyalah dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Ayat-ayat awal Surah Al-Anfal ini memberikan pelajaran penting tentang bagaimana seharusnya seorang mukmin menghadapi situasi yang kompleks, terutama terkait dengan perang dan harta rampasan. Ayat pertama menegaskan bahwa pembagian harta rampasan perang adalah urusan Allah dan Rasul-Nya, menekankan perlunya ketaatan dan perbaikan hubungan sesama mukmin. Ini menunjukkan bahwa kemenangan bukanlah sekadar hasil dari kekuatan fisik, melainkan juga manifestasi dari keimanan dan persatuan yang kokoh.
Selanjutnya, ayat 2-4 mendefinisikan ciri-ciri orang mukmin yang sejati. Mereka adalah individu yang hatinya bergetar saat nama Allah disebut, imannya bertambah saat mendengar ayat-ayat-Nya, dan hanya bertawakal kepada Tuhan. Mereka juga tekun dalam salat dan gemar menafkahkan hartanya. Kualitas-kualitas inilah yang akan mengantarkan mereka pada derajat tinggi, ampunan, dan rezeki yang mulia di sisi Allah. Ini adalah gambaran ideal tentang bagaimana seorang mukmin seharusnya hidup, tidak hanya dalam kondisi perang, tetapi dalam setiap aspek kehidupan.
Ayat 5-10 kemudian masuk ke dalam konteks historis, yaitu peristiwa di sekitar Perang Badar. Ayat-ayat ini mengungkapkan adanya perbedaan pendapat dan keraguan di kalangan sebagian mukmin mengenai keputusan untuk berperang, meskipun kebenaran telah jelas. Allah mengingatkan bahwa tujuan dari perjuangan ini adalah untuk menegakkan kebenaran dan membatalkan kebatilan, meskipun hal itu mungkin tidak disukai oleh sebagian orang yang enggan melakukan kebaikan. Janji pertolongan Allah, bahkan melalui seribu malaikat, ditegaskan sebagai kabar gembira yang menentramkan hati. Namun, penekanan utama tetaplah bahwa kemenangan sejati hanya datang dari Allah semata.
Secara keseluruhan, Surah Al-Anfal ayat 1-10 mengajarkan bahwa dalam menghadapi ujian dan perjuangan, seorang mukmin haruslah memiliki keimanan yang kuat, ketaatan yang total kepada Allah dan Rasul-Nya, menjaga persatuan dan kerukunan sesama, serta senantiasa bertawakal kepada-Nya. Harta rampasan perang bukanlah tujuan akhir, melainkan harus dikelola sesuai dengan syariat yang telah ditetapkan, yang pada akhirnya bertujuan untuk kemaslahatan umat dan kejayaan Islam.