Dalam Al-Qur'an, terdapat banyak sekali panduan yang membentuk karakter dan etika seorang Muslim dalam menjalani kehidupan duniawi. Salah satu ayat yang sangat fundamental dalam mengatur perilaku adalah Surah Al-Isra ayat 37. Ayat ini diletakkan dalam konteks perintah-perintah Allah kepada Bani Israil dan umat Islam secara umum mengenai akhlak dan tata krama sosial. Ayat ini secara tegas melarang sifat-sifat tercela yang sering kali menjadi godaan bagi hawa nafsu manusia.
Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam urutan mushaf. Ayat ke-37 menjadi penekanan penting bahwa kualitas iman seseorang tidak hanya dilihat dari ritual ibadah semata, tetapi juga dari bagaimana ia berinteraksi dengan lingkungannya. Ayat ini seringkali menjadi tolok ukur kejernihan hati dan kerendahan diri seorang hamba.
Ayat ke-37 Surah Al-Isra secara eksplisit menyebutkan tiga larangan utama. Berikut adalah teks Arab dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia:
Ayat ini memuat tiga instruksi inti yang saling terkait erat, semuanya berpusat pada pengendalian diri dan kesadaran akan keterbatasan manusia (tawadhu’):
Kata 'marahan' merujuk pada gaya berjalan yang angkuh, berlebihan dalam kesenangan, serta menunjukkan rasa bangga diri yang melampaui batas. Kesombongan adalah penyakit hati yang paling ditakuti dalam Islam karena merupakan sifat yang dikhususkan bagi Allah SWT. Ketika seseorang berjalan dengan sombong, ia seolah-olah menyatakan bahwa dirinya lebih tinggi dari orang lain atau bahkan dari lingkungan sekitarnya. Nabi Muhammad ﷺ telah mengajarkan bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Ayat ini mengajarkan bahwa meskipun kita memiliki nikmat, keberhasilan, atau kedudukan, kita harus tetap menampakkan kerendahan hati dalam setiap gerak-gerik fisik kita.
Ungkapan "sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi" adalah kiasan yang sangat kuat. Dalam konteks modern, ini bisa diartikan sebagai usaha manusia untuk menguasai alam secara destruktif atau merasa bahwa ilmu dan teknologinya telah mencapai titik tertinggi sehingga melampaui batas kekuasaan Tuhan. Secara harfiah, ini adalah pengingat fisik: seberapa kuat dan cepat pun Anda berjalan atau berlari, Anda tetap terbatas pada permukaan bumi. Tidak ada kekuatan manusia yang mampu menggali atau merusak inti bumi.
Poin ketiga menekankan keterbatasan fisik dalam dimensi vertikal. "Sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung." Gunung melambangkan keagungan, ketinggian, dan keabadian dalam pandangan manusia. Ayat ini menegaskan bahwa meskipun manusia bisa membangun gedung pencakar langit, ia tidak akan pernah mencapai ketinggian yang hakiki atau kebesaran yang abadi seperti ciptaan Allah yang kokoh dan agung. Ketinggian sejati hanya milik Sang Pencipta.
Mengapa larangan ini diletakkan setelah perintah-perintah penting lainnya dalam Surah Al-Isra? Karena akhlak adalah cerminan iman. Seseorang yang beribadah dengan baik namun hatinya dipenuhi keangkuhan akan kehilangan nilai ibadahnya di mata Allah. Ayat 37 adalah pengingat praktis untuk menjaga adab (etika).
Dalam konteks sosial, kesombongan seringkali menjadi pemicu konflik, iri hati, dan diskriminasi. Dengan melarang berjalan dengan marahan, Allah memerintahkan agar Muslim berjalan dengan tenang, penuh rasa syukur, dan sadar bahwa setiap langkahnya berada di bawah pengawasan-Nya. Kerendahan hati yang diajarkan ayat ini bukan berarti pesimis atau takut, melainkan kesadaran penuh akan posisi sejati manusia sebagai hamba di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Menerapkan Surah Al-Isra ayat 37 dalam kehidupan sehari-hari berarti selalu memeriksa niat di balik setiap tindakan. Apakah langkah kita membawa kebaikan, ataukah hanya untuk memamerkan diri? Apakah pencapaian kita digunakan untuk merendahkan orang lain, atau untuk bersyukur kepada Sang Pemberi nikmat? Jawabannya terletak pada bagaimana kita mengendalikan ego kita, sebagaimana diperintahkan oleh ayat mulia ini.