Teks dan Terjemahan QS Al-Maidah Ayat 87
Latin: Yā ayyuhal-lażīna āmanū lā tuḥarrimụ ṭayyibāti mā aḥallallāhu lakum wa lā taʿtadū, innallāha lā yuḥibbul-muʿtadīn.
Terjemahan: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik-baik (thayyibat) yang telah Allah halalkan bagimu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Konteks dan Larangan Melampaui Batas
Surat Al-Maidah ayat ke-87 adalah salah satu ayat penting dalam Al-Qur'an yang memberikan panduan komprehensif mengenai sikap seorang Muslim terhadap rezeki dan kenikmatan yang dianugerahkan Allah SWT. Ayat ini secara eksplisit ditujukan kepada orang-orang yang beriman (yā ayyuhal-lażīna āmanū).
Pesan utama ayat ini terbagi menjadi dua larangan fundamental: pertama, larangan mengharamkan sesuatu yang baik yang telah dihalalkan Allah, dan kedua, larangan melampaui batas (iʿtidā’).
1. Larangan Mengharamkan Kenikmatan
Frasa "lā tuḥarrimụ ṭayyibāti" menggarisbawahi bahwa seorang mukmin tidak boleh secara sepihak menyatakan sesuatu yang baik (thayyibat) sebagai haram bagi dirinya, padahal Allah telah menetapkannya sebagai halal. Hal ini seringkali terjadi karena sikap berlebihan dalam beragama (ghuluw) atau karena dorongan riya' (pamer kesalehan) dan menganggap dirinya lebih suci dari tuntunan syariat yang jelas.
Contoh historis dari konteks turunnya ayat ini sering dikaitkan dengan beberapa sahabat yang, karena semangat ibadah yang tinggi, memutuskan untuk meninggalkan kenikmatan duniawi secara permanen, seperti hanya makan sayuran, tidak tidur malam, atau tidak menikah. Rasulullah ﷺ kemudian meluruskan pemahaman mereka, mengingatkan bahwa kesempurnaan ibadah tidak terletak pada penolakan total terhadap karunia Allah yang baik, melainkan pada penggunaannya sesuai aturan-Nya.
Thayyibat mencakup segala sesuatu yang bersih, baik secara fisik maupun moral, yang memberikan manfaat dan kesenangan tanpa membahayakan agama maupun duniawi.
2. Larangan Melampaui Batas (I'tida')
Larangan kedua adalah "wa lā taʿtadū" (janganlah kamu melampaui batas). Batasan ini dapat diinterpretasikan dalam dua cara yang saling melengkapi. Pertama, ini merujuk pada batas dalam mengharamkan hal yang halal—yaitu, melampaui batas aturan Allah dengan mengharamkan tanpa dalil.
Kedua, ini juga merupakan peringatan terhadap sikap berlebihan dalam mengonsumsi atau menggunakan kenikmatan yang halal itu sendiri. Meskipun sesuatu itu halal, jika dikonsumsi secara berlebihan hingga menimbulkan kemudaratan (misalnya, pemborosan atau penyakit), maka ia telah memasuki wilayah i'tida'.
Penutup ayat, "Innallāha lā yuḥibbul-muʿtadīn" (Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas), memberikan penekanan kuat bahwa sikap ekstrem, baik dalam pengabaian total terhadap karunia maupun dalam penambahan aturan yang tidak disyariatkan, dijauhi oleh Allah SWT.
Implikasi dalam Kehidupan Modern
QS Al-Maidah ayat 87 mengajarkan keseimbangan (wasathiyah). Dalam konteks modern, ini relevan dalam banyak aspek:
- Konsumsi Makanan: Tidak menstigmatisasi makanan lezat atau modern selama ia memenuhi kriteria halal (bukan babi, alkohol, dll.) dan tidak membahayakan kesehatan.
- Gaya Hidup: Menghindari sikap ekstrem, seperti hidup dalam kemewahan yang berlebihan (pemborosan) maupun hidup dalam kesengsaraan yang tidak perlu (menghindari segala fasilitas baik yang diperbolehkan).
- Ibadah dan Dunia: Mengakui bahwa menjalani kehidupan duniawi dengan segala hal baiknya, selama itu dilakukan dalam koridor ketaatan, adalah bagian dari ibadah itu sendiri, sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ yang menyatakan bahwa bahkan tidur pun bisa menjadi ibadah jika diniatkan untuk kekuatan ibadah malam.
Inti dari ayat ini adalah seruan untuk menjalani hidup yang seimbang, bersyukur atas semua karunia yang ada, dan selalu berpegang teguh pada batasan yang telah ditetapkan oleh syariat, menghindari ekstremitas yang menjauhkan dari pertengahan yang diridhai Allah.